Content creator: Sigit Jati Waluyo
Ada yang menyebutkan, bahwa PETANI merupakan singkatan dari “Penyangga Tatanan Negara Indonesia”. Istilah ini diciptakan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1952. Suatu sebutan yang sungguh mulia, yang artinya tertinggi dan terhormat. Namun, motivasi Presiden Soekarno untuk membuat kepanjangan istilah petani lebih bernuansa politis, yaitu menarik dukungan politik dari kelompok/ massa petani terhadapnya. Namun status sosial ekonomi petani faktanya jauh dari mulia.
Petani kita justru sangat akrab dengan kemiskinan. Jangan bayangkan petani kita adalah petani yang memiliki lahan besar dan luas. Tidak. Sekitar 70 persen petani kita hanya memiliki lahan kurang dari 0,3 hektar. Jangan pula bayangkan petani kita seperti petani-petani padi di Jepang. Dimana, harga beras produk petani Jepang akan dibeli pemerintah Jepang dengan harga yang tinggi, yaitu senilai empat (4) kali lipat dari harga pasar beras internasional.
Profesi petani masih menjadi profesi mayoritas yang digeluti warga masyarakat Indonesia. Saat ini jumlah petani mencapai lebih dari 30 juta. Tetapi petani Indonesia termasuk golongan yang termiskin di masyarakat. Sementara di sejumlah negara, petani dan sektor pertanian merupakan sektor yang sangat didukung oleh negara karena merupakan sektor dasar yang menjamin ketahanan pangan masyarakat.
Dalam keseharian hidupnya, petani sangat rentan akan situasi ketidakpastian. Seperti; cuaca yang berubah-ubah, dan serangan hama atau penyakit tanaman yang selalu muncul, apalagi dalam kondisi perubaham iklim dan cuaca ekstrem seperti masa sekarang ini. Belum lagi pada saat panen, harga komoditas tiba-tiba anjlog atau turun drastis, baik karena permainan tengkulak dan terkadang kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani. Hingga keuntungan yang diharapkan tergenggam di tangan pun menjadi sirna seketika. Petani pun tidak berdaya menghadapi hal itu. Jadi situasi ketidakpastian dan ketidakberdayaan selalu membayangi kehidupan petani kecil.
Belum lagi masalah kelangkaan. Mungkin, saat ini tidak banyak petani yang membudidayakan padi bibit-bibit varietas lokal, sehingga ancaman kelangkaan bibit dapat terjadi karena ketergantungan pada pihak lain. Maka jangan heran, jika petani juga sering mengalami masalah kelangkaan bibit maupun pupuk. Begitu kompleks masalah ketidakpastian, ketidakbedayaan, dan kelangkaan di dunia pertanian, hingga banyak kaum muda yang enggan menggeluti profesi sebagai petani.
Ketidakpastian, ketidakberdayaan dan kelangkaan juga terjadi dalam konteks situasi dunia. Bahwa dunia sempat porak poranda oleh makhluk yang tak kasat mata yaitu Covid- 19. Kasus ini tidak hanya berdampak bagi kesehatan namun juga ketidakpastian ekonomi dunia. Kasus Covid- 19 pertama kali muncul di China padal akhir 2019 dengan cepat menyebar, hingga ratusan juta penduduk terkena virus ini dan jutaan orang meninggal dunia karenanya.
Belum lagi serangan Covid- 19 mereda, pada bulan Februari 2022 Rusia melakukan operasi militer di Ukrania yang menyebabkan Perang Rusia – Ukraina. Perang ini ditengarai menimbulkan krisis pangan dan energi, sebab Rusia adalah eksportir utama minyak bumi, gas alam, barang tambang, juga produsen gandum dan pupuk dunia. Sementara, Ukraina merupakan penghasil utama gandum, jagung dan minyak bunga matahari. Peperangan dan embargo pangan maupun energi menyebabkan kelangkaan pangan dan energi, hingga terjadi krisis. Dan Presiden Jokowi pun pernah mengatakan, ada negara yang memintanya agar tidak menghentikan ekspor gas alam, karena kalau itu dilakuan negara itu akan gelap-gulita.
Bingung Memaknai Hidup
Hidup ini terkadang sangat tidak menentu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Sebab pada dasarnya manusia memang punya banyak kelemahan yang sering tidak dapat diatasi sendiri. Bahwa, manusia memiliki tiga karakeristik atau kelemahan yang melekat pada diri dan hidupnya, yaitu ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan. Ketidakpastian dimaknai, bahwa manusia tidak bisa menjamin keamanan dan kesejahateraan dirinya. Ketidakberdayaan diartikan, bahwa kesanggupan manusia untuk mengendalikan hidupnya sangat terbatas. Sedangkan kelangkaan, bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya memenuhi harapan yang berkaitan dengan distribusi barang, dan nilai. Perlu dipahami, bahwa, masalah ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan itu bukan hanya menyangkut barang dan materi saja, melainkan menyangkut seluruh kehidupan dan nyawa manusia itu sendiri.
Akumulasi masalah ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan bisa menyebakan manusia bingung memaknai (problem of meaning) hidup. Gejala ini dilihat ahli sosiologi agama sebagai penyebab manusia membutuhkan agama. Bahwa manusia membutuhkan acuan transendental, atau sesuatu yang di luar dirinya, yaitu agama. Jadi, agama dapat menjadi pilihan karena: pertama, membantu manusia mengembangkan penafsiran dan makna dari pengalaman hidupnya. Kedua, memecahkan persoalan yang tidak terjawab oleh manusia. Ketiga, memberikan makna moral dalam pengalaman kemanusiaan. Keempat, adanya dukungan psikologis, utamanya rasa percaya diri dalam menghadapi kehidupan yang serba tidak menentu
Belajar dari Petani
Hidup mesti terus berjalan dan oleh karenanya kita tidak boleh berhenti berupaya ketika menghadapi kesulitan, baik itu ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan. Sabab bila berhenti berupaya, hidup kita pasti akan terpuruk, atau gagal. Dengan belajar dari kehidupan petani, kiat – kiat berikut mungkin bisa menjadi acuan dalam menghadapi kompleksitas masalah kehidupan;
1. Kiat pertama: Setia dan sabar. Tetap bekerja dan menjalani hidup dengan setia dan sabar. Seperti petani yang tidak mungkin begitu saja meninggalkan bibit yang telah ditanamnya. Petani akan setia menjaga agar tanaman tetap tumbuh, cukup air, memberi pupuk, menghalau dari serangan penyakit, dan sebagainya. Semua itu dimaksudkan, agar kelak menghasilkan buah yang baik. Sama halnya saat kita atau orang yang kita cintai sedang menderita sakit, kita tentu akan mengobati dan merawat dengan setia dan sabar hingga sembuh.
2. Kiat kedua: Bekerja keras atas landasan spirit tabur-tuai. Kita bekerja keras atau bekerja cerdas bukan karena takut kelaparan, atau takut tidak bisa memberi makan keluarga, melainkan karena kita percaya bahwa Tuhan akan memberkati kerja keras yang kita lakukan, sebab kita telah berupaya mengembangkan talenta (bakat) yang diberikan-Nya dengan sebaik-mungkin. Dari prinsip mengembangkan talenta sebaik-mungkinlah sebenarnya prinsip tabur-tuai bermula, bahwa barang siapa menabur kebaikan ia akan menuai kebaikan dan berkat. Petani percaya dan optimis, bahwa dengan bekerja keras, menanam bibit yang baik, dan merawat dengan tekun akan menghasilkan panenan yang baik.
3. Kiat ketiga: Berani mengambil risiko. Petani sejatinya adalah seorang pengusaha (entrepreuneur). Pengusaha adalah orang yang berani mengambil risiko, dan risiko usaha hanya dua, yaitu untung atau rugi. Keberanian mengambil risiko tersebut dibuktikan dengan mengembangkan berbagai kreativitas dan inovasi, agar tetap tercukupi kebutuhan hidupnya. Misalnya selain budidaya padi, petani juga bertanam palawija (jagung, talas, kacang panjang, oyong, labu siam, mentimun, wortel, gembili, sorghum, kacang hijau, kacang tunggak, kedelai, singkong, kentang, dan ubi) buah dan sebagainya.
4. Kiat keempat: Tetap berdoa dan bersyukur. Di tengah kepungan ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan, petani menjalankan tradisi, yaitu kebiasaan melakukan doa-doa, rangkain upacara, atau ritual yang cukup panjang, dari sejak penyiapan lahan hingga di waktu panen. Tujuannya: Petani memohon kepada Tuhan agar selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan. Agar bibit yang ditanamnya terjaga, terhindar dari bencana dan kelak menghasilkan buah atau panenan yang baik dan berguna bagi diri dan keluarga maupun bagi orang lain.
Sekian, semoga bermanfaat.

Komentar