Minggu, 05 Februari 2023 | 17:15
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri: Indonesia Harusnya Tidak Sulit Jadi Kampiun Udang Dunia

Prof. Rokhmin Dahuri: Indonesia Harusnya Tidak Sulit Jadi Kampiun Udang Dunia
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS (kemeja putih)

ASKARA - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menyatakan, Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia yakni 95.185 km, memiliki potensi lahan pesisir untuk tambak udang terluas di dunia mencapai lebih dari 3 juta ha.

“Dengan potensi tersebut ditambah mahalnya harga udang yang cenderung stabil, seharusnya Indonesia dapat menjadi negara produsen dan pengekspor udang budidaya terbesar di dunia. Indonesia juga harusnya tidak sulit untuk menjadi kampiun udang dunia,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri dalam keterangannya, dikutip Sabtu (19/11).

Untuk itu, katanya, perlu dibentuk Indonesia Aquaculture Incorporated. Yakni, setiap komponen dalam sistem usaha budidaya udang, seperti pengusaha hatchery, pakan, petambak, pengolah, pemerintah, asosiasi, peneliti, dan dosen, harus mengeluarkan atau menyumbangkan kemampuan terbaiknya, sehingga menghasilkan output terbaik.

“Antar komponen sistem usaha budidaya udang harus solid, care and share, strengthening to each other, dan bekerja sama secara sinergis,” kata Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – Sekarang.

Sayangnya, lanjutnya, asosiasi yang bergerak pada bisnis udang di Indonesia saat ini masing-masing berdiri sendiri, yaitu asosiasi pada on farm, off farm hulu, maupun off farm hilir. Berbeda halnya dengan negara maju, dimana kelembagaan asosiasi tersebut terhimpun dalam satu wadah yang besar, sehingga asosiasi ini bisa fokus, solid, dan kuat, dan pada akhirnya memilki posisi tawar yang tinggi dalam penyusunan regulasi Pemerintah.

“Hal ini juga rumus keberhasilan produksi pada on farm merupakan hubungan sebab-akibat dengan off farm,” terang Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia ini.

Untuk itu, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan, sejumlah langkah terobosan berikut mesti kita tempuh. Pertama, memperkuat pengawasan terhadap masuknya udang dari negara lain untuk mencegah outbreak EMS maupun penyakit lainnya di Indonesia.

Kedua, intensifikasi budidaya udang yaitu dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tambak udang, baik pada tambak tradisional, semi intensif maupun intensif dengan menerapkan Best Aquaculture Practices (GAP) secara disiplin dan berkelanjutan, adanya penambahan modal, tenaga kerja, dan penguasaan teknologi.

Ketiga, ekstensifikasi yaitu membuka lahan tambak baru secara ramah lingkungan dan menerapkan GAP.  Keempat, diversifikasi yaitu penyediaan benur unggul dan induk udang berkualitas. Kelima penyediaan BBM, dan sarana produksi lainnya dalam jumlah yang mencukupi dan harga relatif rendah.

Keenam, perbaikan dan pembangunan baru infrastruktur termasuk irigasi, jalan, listrik, telkom, dan lainnya.  Ketujuh, penyediaan kredit perbankan dengan tingkat suku bunga dan persyaratan pinjam sama dengan negara-negara produsen udang lain.

Kedelapan, selain mempertahankan pasar-pasar konvensional (AS, Jepang, dan Uni Eropa), kita juga harus membuka pasar-pasar baru, baik di dalam maupun di luar negeri.

Kesembilan, peningkatan kualitas SDM melalui program Diklatluh secara sistemik dan berkesinambungan.

Kesepuluh, penguatan dan perluasan penelitian dan pengembangan (R & D) untuk menguasai, menghasilkan, dan menerapkan semua jenis teknologi yang terkait dengan bisnis budidaya tambak udang, dari aspek pra produksi, produksi, handling & processing sampai pengemasan dan pemasaran.

Terakhir adalah memastikan agar kebijakan politik-ekonomi, seperti moneter, fiskal, tata ruang wilayah, pengendalian pencemaran, dan kepastian serta keamanan berusaha harus kondusif.

Berdasarkan data Globefish (2014) total volume udang di China hingga akhir 2013 kurang dari 1 juta ton, yang mana 600.000 ton berupa udang vannamei.

Sedangkan Thailand hanya mampu memproduksi 250.000 ton (50% lebih rendah dari tahun 2012). Hal ini menyebabkan Thailand menempati urutan ke-5 dalam produksi udang.

“Malangnya, sampai sekarang teknologi pencegahan dan penanggulangan wabah EMS belum ditemukan,” sebut Menteri Kelautan dan Perikanan-RI 2001 – 2004 itu.

“Oleh karena itu, tanpa bermaksud untuk ‘menari di atas penderitaan bangsa lain’, tahun ini mesti kita jadikan tahun emas untuk Indonesia kembali menjadi produsen dan pengekspor udang terbesar dunia,” sambungnya.

Lebih lanjut, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Kelautan Perikanan, pada 2014 produksi udang Indonesia terus meningkat selama tiga tahun terakhir.

Pada 2011 produksi udang Indonesia 400.385 ton, 2012 meningkat menjadi 457.600 ton, dan 2013 produksi udang meningkat menjadi 639.589 ton, dan target produksi udang 2014 sebesar 660.000 ton.

Namun, langkah pemerintah untuk melakukan proses revitalisasi tambak di beberapa daerah harus berstrategi, jangan karena mengejar target penggenjotan jumlah produksi semata.

"Pemerintah seharusnya memperhatikan berbagai kemungkinan yang akan terjadi apabila revitalisasi dilakukan. Jangan hanya karena dikebut jumlah produksi semata hingga mengabaikan lingkungan,” ungkapnya.

Menurutnya, aspek daya dukung lingkungan seharusnya menjadi perhatian pemerintah, jika tidak ingin gagal di tengah jalan. Belum lagi tingkat kepadatan udang yang juga harus diperhatikan.

"Maksimum kepadatan 60ekor per m2 . Sehingga produktivitas bisa mencapai 7-10 ton per panen. Kalau sekarang kan kelihatannya jor-joran ada yang tambak sekitar 200 ekor per m2 nya dan itu lah yang harus diperhatikan oleh pemerintah," tegas Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu.

Contoh Potensi Ekonomi Budidaya Udang Vanamei

Potensi luas pesisir yang cocok: 64 ribu ha

Dalam 5 tahun kami mengembangkan 50 ribu ha (78%) untuk budidaya intensif udang vanamei:

Kepadatan tebar: 60 PL (udang)/m²

Produktivitas: 40 ton/ha/tahun

Produksi : 50.000 ha x 40 ton/ha/tahun = 2.000.000 ton/tahun = 2 miliar kg/tahun

Penghasilan bruto\\; 2 miliar/tahun x US$ 5/kg = US$ 10 miliar/tahun = Rp 156 triliun/tahun (8% APBN tahun 2018) atau 1% pertumbuhan ekonomi (PDB)

laba bersih: Rp 203 juta/ha/bulan

Pekerjaan di pertanian: 50.000 ha x 4 orang/ha = 200 ribu orang

Pekerjaan off farm: 50.000 ha x 6 orang/ha = 300 ribu orang

Komentar