Kasus Gagal Ginjal pada Anak-Anak
Lucy Kurniasari: BPOM Harus Tanggung Jawab Atas Peredaran Sirup Paracetamol
ASKARA – Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan penggunaan sirup paracetamol yang dapat menyebabkan gangguan ginjal pada anak.
Merespon kasus tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengidentifikasi 15 dari 18 obat sirup yang masih mengandung etilen glikol.
Anggota Komisi IX DPR RI Lucy Kurniasari menilai, hal itu sebenarnya tidak boleh terjadi bila BPOM melaksanakan fungsinya dengan benar.
"Sebab, salah satu fungsi BPOM melaksanakan pengawasan obat dan makanan sebelum dan selama beredar," kata Lucy kepada para wartawan, Kamis (20/10).
Karena itu, lanjut Lucy, BPOM harus memastikan semua obat yang beredar di masyarakat sudah aman, berkualitas, dan bermanfaat.
"Kalau ada obat legal yang beredar tidak memenuhi standar tersebut, maka hal itu berkaitan langsung dengan tidak berjalannya fungsi pengawasan BPOM dengan baik," jelas Ketua DPC Partai Demokrat Kota Surabaya ini.
Selain itu, ungkap Lucy, BPOM juga yang mengeluarkan izin edar obat di Indonesia.
"Karena itu, BPOM harus bertanggung jawab atas izin edar suatu obat yang telah dikeluarkannya," tegas Lucy.
Untuk itu, imbau Lucy, BPOM harus menjelaskan kepada masyarakat terkait pertimbangan mengeluarkan izin edar sirup paracetamol.
"Begitu juga obat sirup lainnya yang ditemukan Kementerian Kesehatan masih mengandung etilen glikol," tutur Ning Kota Surabaya 1986 ini.
Lucy menyebut, BPOM juga harus mengevaluasi kembali prosedur pengeluaran izin edar obat di Indonesia.
"Hal itu perlu dilakukan agar kasus seperti obat sirup paracetamol tidak terulang lagi," terang Lucy.
Lucy mengingatkan, BPOM juga harus mengevaluasi prosedur pengawasan obat yang beredar di Indonesia.
"Dengan begitu, semua obat yang beredar di Indonesia dipastikan aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat," imbuh Lucy.
Jadi, tambah legislator asal Dapil Jatim 1 ini, BPOM harus bertanggung jawab atas terjadi kasus obat sirup paracetamol yang berdampak pada kasus gagal ginjal pada anak-anak.
"Untuk itu, BPOM harus mengevaluasi semua prosedur pengawasan obat agar kasus seperti itu tidak terulang kembali," pungkas Lucy Kurniasari.

Komentar