Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Universitas Majalengka Memiliki Peran Mewujudkan Indonesia Emas 2045
ASKARA – Kerjasama Pascasarjana Universitas Majalengka dan Puslitbang Bimas Agama, Kemenag RI menggelar Seminar Nasional "Membangun Paradigma Moderasi Beragama di Era Disrupsi 4.0”, di Auditorium Universitas Majalengka, Rabu 20 Juli 2022. Seminar Nasional ini menghadirkan Pakar Kelautan dan Perikanan Indonesia, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan, bahwa Indonesia memiliki potensi (modal dasar) pembangunan yang sangat besar dan lengkap untuk menjadi negara-bangsa yang maju, adil-makmur, dan berdaulat.
Namun, karena belum ada Peta Jalan Pembangunan Bangsa (Nasional) yang komprehensif dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan, kualitas SDM relatif rendah, dan defisit kepemimpinan (nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan desa). Klasifikasi negara berdasarkan indeks pencapaian teknologi Indonesia menduduki peringkat-99 dari 167 negara Technology Adoptor Countries.
“Maka, sudah 76 tahun merdeka, Indonesia masih sebagai lower-middle income country, belum sebagai negara yang maju, adil-makmur, dan berdaulat sebagaimana cita-cita kemerdekaan RI,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University itu lewat paparannya bertema “Peran Strategis Unma Dalam Menghadapi Era Disrupsi 4.0”.
Lebih lanjut, Prof. Rokhmin Dahuri menerangkan, modal dasar yang dimiliki Indonesia antara lain: Jumlah penduduk 276 juta orang (terbesar keempat di dunia) dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah, dan dapat bonus demografi dari 2020 – 2040, merupakan potensi human capital (daya saing) dan pasar domestik yang luar biasa besar.
Selain itu, Indonesia merupakan Negara yang paling kaya Sumber Daya Alam (SDA) baik di darat maupun di laut. Secara analogi seharusnya Indonesia terbesar ke 4, karena hampir 45% seluruh barang yang diekspor-impor atau diperdagangkan di dunia itu dengan nilai 15 triliun dolar AS.Bahkan, Selat Malaka (ALKI-1) merupakan jalur transportasi laut terpadat di dunia, 200 kapal/hari. Sementara, kata Prof. Rokhmin Dahuri, produk domestik bruto Indonesia baru 1,1 trilun dolar AS.
“Sayangnya bangsa Indonesia sudah berpuluh-puluh tahun bukan menjadi produser dan eksportir barang, tapi menjadi pembeli dan konsumen barang. Karena sejak tahun 2012-2019 neraca perdagangan kita selalu minus,” kata Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini.

Disamping itu, Indonesia yang kaya raya dengan segala potensi bencana alam 70% dari gunung berapi di dunia ada di Indonesia. “Mestinya, sebagai tantangan yang membentuk etos kerja unggul (Inovatif, kreatif, dan entrepreneur) dan akhlak mulia bangsa,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.
Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan Indonesia sebagai negara yang kaya SDA, tetapi belum mampu keluar dari middle-income trap dan menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat. Pada tataran praksis, penyebab itu karena kita belum punya Rencana Pembangunan Nasional yang holistik, tepat, dan benar serta diimplementasikan secara berkesinambungan.
Saat ini, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, beberapa jenis model bisnis dan pekerjaan di Indonesia sudah terkena dampak dari arus era digitalisasi. Toko konvensional yang ada sudah mulai tergantikan dengan model bisnis marketplace. Taksi atau Ojek Tradisional posisinya sudah mulai tergeserkan dengan moda-moda berbasis online.
“Saat ini berbagai macam kebutuhan manusia telah banyak menerapkan dukungan internet dan dunia digital sebagai wahana interaksi dan transaksi,” terang Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat ini.
Lebih rinci, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, tantangan Pemerintah dalam bidang Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, yakni: Masih banyak daerah yang belum dialiri oleh Listrik, Belum semua wilayah indonesia dapat terhubung dengan koneksi internet, terutama sekolah sekolah, Rendah literasi dan talenta (SDM) digital;
Hampir semua aplikasi digital hanya di E-finance, E-Commerce, E-Education, dan E-Government. Sedikit sekali di sektor produksi dan manufacturing; Tantangan Era Disrupsi dan Digitalisasi Bidang Pendidikan; Pemerintah Indonesia mengganti kurikulum pendidikan setiap 10 tahun sekali, sedangkan perubahan terjadi hampir setiap kali.
Dengan kemudahan dalam mengakses setiap informasi, maka pelajar akan lebih tertarik belajar melalui media online mengurangi hubungan humanis antara guru dan pelajar, karena telah digantikan teknologi. “tradisi serba instant” akibat mudahnya mencari dan mengakses informasi.
Kinerja Perguruan Tinggi Indonesia di Tingkat Global (QS-WUR = Quacquarelli Symonds-World University Ranking) 2016 – 2022. Menurut QS-WUR, peringkat Perguruan Tinggi (PT) Indonesia secara global meningkat signifikan dalam 6 tahun terakhir. Hal ini berdasarkan pada: reputasi akademik, kepuasan pengguna lulusan yang ditentukan lewat survei, dan rasio dosen terhadap mahasiswa (50%).
“Namun, masih tertinggal dalam hal sitasi per dosen dari publikasi ilmiah yang dihasilkan. Dalam 6 tahun terakhir secara kumulatif publikasi ilmiah Indonesia 1,35 kali lebih besar dari Singapura. Namun, skor sitasi Indonesia hanya 1/5 (seperlima) Singapura. Skor sitasi PT tertinggi di ASEAN adalah Malaysia yang 17 kali lipat dibandingkan dengan Indonesia,” kata Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – 2024 itu.
Dalam 6 tahun terakhir, lanjutnya, publikasi ilmiah dosen (akademisi) Indonesia pada Jurnal Internasional yang terindeks Scopus naik pesat. Pertumbuhannya tertinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, mencapai 37,12% per tahun.
Meskipun secara kumulatif paling besar, tetapi jika dihitung per kapita masih rendah, yakni 0,83 publikasi per seribu (1.000) penduduk. Sedangkan, Malaysia 9 kali dan Singapura 35 kali lebih banyak ketimbang Indonesia. “Kualitas publikasi ilmiah para dosen Indonesia pun masih tergolong rendah,” sebut Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong itu.
Selain itu, sambungnya, Basis data Scival menunjukkan bahwa lebih dari 50% publikasi ilmiah dosen Indonesia berada pada level kuartil-4 (Q4), dan publikasi ilmiah pada Jurnal Ilmiah Internasional yang masuk Top 10 persen hanya 4,7%. Sedangkan, China menghasilkan 50% dari total publikasi ilmiah para dosennya terbit pada Jurnal Q1, dan yang dipublikasikan di Top 10 persen mencapai 27,5%. Jumlahnya 3 kali dari keseluruhan publikasi ilmiah Indonesia.
Publikasi ilmiah dosen Singapura hampir separuhnya dipublikasikan di Jurnal Top 10. Sementara, publikasi ilmiah Indonesia menghasilkan rerata sitasi 3 kali per dokumen (publikasi). Singapura 16 kali, dan China 3 kali.
Keluaran atau hasil (output) Riset tidak berhenti (hanya) publikasi ilmiah, harusnya juga berupa invensi (proto tipe) teknologi atau non-teknologi (hak paten) yang bisa dihilirisasi (scaling up) menjadi inovasi teknologi maupun non-teknologi.
“Selain itu, publikasi ilmiah non-teknologi menjadi rujukan bagi para planners dan decision makers, baik di lingkungan pemerintahan, swasta, maupun masyarakat (koperasi dan LSM),” kata Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea itu.
Di China, ungkap Prof. Rokhmin Dahuri, hasil riset para dosen berupa publikasi ilmiah di Jurnal Ilmiah Q1 mampu menghasilkan hak paten (property right) 11 kali lipat lebih banyak dari pada Indonesia. Malaysia 6 kali lipat. Dan, yang tertinggi adalah Israel 140 kali lipat. Ini menunjukkan bahwa hilirisasi (komersialisasi) dan ekosistem riset-inovasi di Israel sangat baik (excellent).
Pengalaman Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara yang sebelumnya berpenghasilan menengah (midlle-income countries) lainnya mampu keluar dari middle-income trap, kemudian menjadi negara maju dan makmur karena didukung oleh Perguruan Tinggi yang berkualitas dan berkelas dunia serta kapasitas inovasi yang mumpuni (Lee, 2019).
Perguruan Tinggi berkualitas adalah yang reputasinya diakui secara global (dunia), dan QS-WUR melaporkan kemajuan (progress) yang terus membaik secara regular (tahunan). Perguruan Tinggi yang para alumninya, hasil risetnya, dan pengabdian kepada masyarakatnya mampu meningkatkan kapasitas literasi, inovasi, dan daya saing bangsa untuk mewujudkan Indonesia Emas paling lambat pada 2045.

Strategi Wujudkan Indonesia Emas 2045
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan, strategi Universitas Majalengka untuk meningkatkan perannya dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan dunia yang lebih baik serta berkelanjutan. Melalui peran perguruan tinggi di era industri 4.0 dan perubahan iklim, yakni:
1. Menghasilkan lulusan (mencetak Human Capital) unggul: (1) kompeten pada bidang ilmunya; (2) menguasai teknologi digital (informasi) sebagai fondasi dari Industry 4.0; (3) beretos kerja tinggi (seperti kerja keras, ulet, disiplin, professional, dan bekerjasama); (4) berakhlak mulia (shidiq, amanah, fathonah, tablig, sabar, bersyukur, penyayang, dan cinta kerjasama); dan (5) IMTAQ yang kokoh menurut agama masing-masing, dan harmonis.
2. Menghasilkan penelitian yang: (1) berupa prototipe (invention) dan mendapat hak paten yang siap diindustrikan (hilirisasi) menjadi inovasi teknologi maupun non-teknologi yang memenuhi kebutuhan (pasar) domestik maupun ekspor (global); (2) berupa informasi ilmiah sebagai dasar dalam proses perencanaan dan implementasi pembangunan; (3) yang dapat dipublikasikan Jurnal Ilmiah ternama, baik nasional maupun internasional; dan (4) meningkatkan IMTAQ kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing.
3. Mengembangkan pengabdian kepada masyarakat yang mampu memberdayakan ekonomi, kesejahteraan, dan martabat masyarakat; dan membantu pemerintah daerah untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakatnya.
4. Memberikan kontribusi signifikan bagi terwujudnya kehidupan masyarakat dunia yang lebih sejahtera, adil, damai, dan berkelanjutan (UNESCO. 2021. Futures of Education).
Disamping itu, menurut Prof. Rokhmin Dahuri, Profil alumni Universitas Majalengka yang sukses dan bahagia hidup dunia –akhirat antara lain:
Pertama, Kompeten dan menguasai IPTEK sesuai bidang ilmu (Prodi, Fakultas) semasa kuliah (Hard Skills).
Kedua, Menguasai teknologi digital dan informasi (komputer, HP, dan platform lain) (Hard Skills).
Ketiga, Menguasai sedikitnya satu bahasa asing (Inggris, Arab,, Mandarin, dan lainnya) (Soft Skills).
Keempat, Memiliki Soft Skills (Emotional, Social, and Spiritual Quotient) yang unggul: motivasi tak pernah kering; kerja terbaik; teamwork (kerjasama); networking (silaturrahim) positive thinking and attitude, dan, akhlak mulia.
Kelimat, IMTAQ kokoh menurut agama masing-masing, dan menghormati pemeluk agama lain.
Maka, terang Prof. Rokhmin Dahuri, keahlian yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing di abad 21, antara lain: Literasi Dasar yaitu Kemampuan menggunakan core skills untuk kehidupan sehari-hari (Literasi Membaca, Numerasi, Literasi IPA, Literasi TIK, Literasi Finansial, Literasi Agama, Budaya & Bermasyarakat)
Kemudian, Kompetensi yakni Kemampuan menyelesaikan permasalahan kompleks (Berpikir Kritis, Kreatif, Problem solving, Komunikasi, Kolaborasi, Inovatif). Selanjutnya, Karakter yaitu Kemampuan menghadapi perubahan pesat pada lingkungan (Ingin Tau, Inisiatif, Gigih, Adaptif, Kepemimpinan, Entrepreneurship, IMTAQ & Akhlak Mulia, Kepekaan Sosial & Budaya).

Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri memberikan rekomendasi untuk Universitas Majalengka antara lain:
1. Pendirian PRODI baru “Nano-Bioteknologi ”.
2. Pengembangan Prodi Teknik Informatika menjadi Fakultas Teknik dan Manajemen Digital dan Informasi.
3. PRODI Teknologi dan Manajemen Lingkungan yang dilengkapi dan diperkuat dengan “Ilmu, Teknologi, dan Manajemen Lingkungan” terutama “Science and Technology of Changing Planet”.
4. Implementasi MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) semaksimal dan sebaik mungkin.
5. Peningkatan kuantitas dan kualitas dosen serta tenaga non-akademik.
6. Penguatan dan pengembangan kapasitas Riset untuk menghasilkan: (1) invensi dan inovasi, (2) informasi dan metoda bagi proses perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan, (3) publikasi ilmiah di Jurnal Ilmiah Internasional Q1, dan (4) meningkatkan IMTAQ menurut agama masing-masing. Dengan cara meningkatkan SDM riset, infrastruktur dan sarana riset, dana penelitian, dan kesejahteraan periset.
7. Menjaring semaksimal mungkin mahasiswa baru yang unggul.
8. Penguatan dan pengembangan Kerjasama PENTAHELIX: ABGCM (Academician, Business, Government, Community, dan Media).
Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas Bremen, Jerman itu juga mengajak perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam transformasi struktural ekonomi yaitu:
1. Dari dominasi eksploitasi SDA dan ekspor komoditas (sektor primer) dan buruh murah, ke dominasi sektor manufaktur (sektor sekunder) dan sektor jasa (sektor tersier) yang produktif, berdaya saing, inklusif, mensejahterakan, dan berkelanjutan (sustainable).
2. Modernisasi sektor primer (kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan, dan ESDM) secara produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
3. Revitalisasi industri manufakturing yang unggul sejak masa Orba: (1) Mamin, (2) TPT (Tekstil dan Produk Tekstil), (3) Elektronik, (4) Otomotif, (5) Pariwisata, dan lainnya.
4. Pengembangan industri manufakturing baru: EBT, Semikonduktor, Baterai Nikel, Bioteknologi, Nanoteknologi, Kemaritiman, Ekonomi Kreatif, dan lainnya.
5. Semua pembangunan ekonomi (butir-1 s/d 4) mesti berbasis pada Pancasila (pengganti Kapitalisme), Ekonomi Hijau (Green Economy) dan Ekonomi Digital (Industry 4.0) serta TKDN > 70%.
Ciri Ekonomi Modern
Prof. Rokhmin Dahuri menuturkan, tahun 1970 jumlah rakyat miskin 60% dari total penduduk. Alhamdulillah, pertama kali dalam sejarah NKRI pada tahun 2019 angka kemiskinan lebih kecil dari 10%. Namun, dampak dari pandemi Covid-19, pada 2021 tingkat kemiskinan meningkat lagi menjadi 10,2 % atau sekitar 27,6 juta orang. Dari 200 negara PBB di dunia, hanya 16 negara dengan PDB US$ > 1 trilyun
Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi (terburuk) di dunia. Menurut laporan Credit Suisse’s Global Wealth Report 2019, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 44,6% kue kemakmuran secara nasional, sementara 10% orang terkaya menguasai 74,1%.
Kekayaan 4 orang terkaya (US$ 25 M = Rp 335 T) sama dengan total kekayaan 100 juta orang termiskin (40% penduduk) Indonesia (Oxfam, 2017).
Dari 2005 – 2014, 10% orang terkaya Indonesia menambah tingkat konsumsi mereka sebesar 6% per tahun. Sementara, 40% rakyat termiskin, tingkat konsumsinya hanya tumbuh 1,6% per tahun. Bahkan pada 2014, total konsumsi dari 10% penduduk terkaya setara dengan total konsumsi dari 54% penduduk termiskin (Bank Dunia, 2014).
Sekitar 0,2% penduduk terkaya Indonesia menguasai 66% total luas lahan nasional (KPA, 2015). Sekarang 175 juta ha (93% luas daratan Indonesia) dikuasai oleh para konglomerat (korporasi) nasional dan asing (Institute for Global Justice, 2016). Hingga September 2021, tingkat kemiskinan Prov. Jawa Barat sebesar 7,97% (urutan ke-19 dari 34 Provinsi di Indonesia).
Hingga September 2021, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Prov. Jawa Barat sebesar 9,82% (Tertinggi ke-2 dari 34 Provinsi di Indonesia). Hingga September 2021 gini rasio Prov. Jawa Barat sebesar 0,41 (tertinggi ke-2 dari 34 Provinsi di Indonesia). Hingga September 2021, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Prov. Jawa Barat sebesar 72,45 (urutan ke-10 dari 34 Provinsi di Indonesia). Lalu, pada 2021, PDRB Prov. Jawa Barat berada diurutan ke-3, sementara PDRB per kapita ke-21 dari 34 Provinsi di Indonesia.
Penyebab Ketertinggalan Indonesia secara internal yakni: 1. Belum ada “Road Map Pembangunan Nasional yang Komprehensif, Tepat, dan Benar” yang dilaksanakan secara berkesinambungan, 2. Kualitas SDM (knowledge, skills, expertise, kapasitas inovasi, dan etos kerja) relatif rendah, 3. Akhlak Bangsa belum baik (budaya “sms”, instan, susah kerjasama, tidak amanah, KKN, dan hedonis), 4. Belum ada pemimpin yang capable, negarawan, dengan IMTAQ kokoh.
Sedangkan secara eksternal antara lain: 1. Keserakahan bangsa-bangsa maju dan kapitalisme cenderung menjajah secara politik - ekonomi negara berkembang, 2. Disrupsi akibat kemajuan IPTEK yang sangat pesat, 3. Pertarungan ideology.
Kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa ditentukan oleh ‘innovation-driven economy’ (O’Connor and Kjollerstrom, 2008; Altbach and Salmi, 2011; dan Guggenheim, 2012).
“Sejak krisis ekonomi global 2008 hingga pandemi covid-19 saat ini, resesi besar menyebar ke seluruh dunia, menginfeksi negara-negara yang sudah berjuang dengan ekonomi lemah, infrastruktur yang tegang, degradasi lingkungan, dan pengangguran dan kemiskinan yang tinggi. Kemajuan nyata dalam beberapa dekade ke depan akan membutuhkan ide-ide segar, kreatif, dan inovatif Kuncinya adalah terus berinovasi” (Bill Gates, 2020).
“Sayangnya, hampir semua indikator yang terkait dengan dengan kapasitas IPTEK, Riset, Inovasi, dan Kualitas SDM kita bangsa Indonesia, itu masih rendah (tertinggal),” kata Rokhmin Dahuri.
Selain itu, sambungnya, Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Indeks Alibaca) Nasional, 2019; Pada 2019, Indeks Alibaca Nasional termasuk di level rendah (37,32); 9 provinsi masuk dalam level sedang (26%); 24 provinsi masuk level rendah (71%); dan 1 provinsi masuk level sangat rendah (3%); Indeks Alibaca tertinggi berada di Provinsi DKI Jakarta (58,16);
Selanjutnya, penilaian adopsi teknologi untuk peningkatan ekonomi dan efisiensi di berbagai bidang diukur dari faktor pengetahuan, teknologi, dan kesiapan adopsi teknologi untuk masa depan Pada 2021, Indonesia berada pada urutan ke-53 dari 64 negara; Global Entrepreneurship Index Hingga 2019, Indonesia berada diurutan ke-75 dari 137 negara atau peringkat ke-6 di ASEAN; Pada 2017-2019, indeks daya saing Indonesia semakin menurun, hingga 2019 diurutan ke-50 dari 141 negara, atau peringkat ke-4 di ASEAN.
Implikasi dari Rendahnya Kualitas SDM, Kapasitas Riset, Kreativitas, Inovasi, dan Entrepreneurship adalah: Proporsi ekspor produk manufaktur berteknologi dan bernilai tambah tinggi hanya 8,1%; selebihnya (91,9%) berupa komoditas (bahan mentah) atau SDA yang belum diolah. Sementara, Singapura mencapai 90%, Malaysia 52%, Vietnam 40%, dan Thailand 24%.
“Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Ku, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka di sebabkan perbuatanya,” tutup Prof. Rokhmin Dahuri mengutip Alquran surat Al-A’raaf: 96.

Komentar