Senin, 26 September 2022 | 09:35
COMMUNITY

Rambut Panjang Di Zaman Nabi Dan Majapahit

Rambut Panjang Di Zaman Nabi Dan Majapahit
KRH Gus Ripno Waluyo

ASKARA - Beberapa ulama menyebutkan bahwa hukum asal perbuatan Nabi Muhammad SAW adalah bentuk ibadah. Maka dari itu, memanjangkan rambut bagi laki-laki hukumnya sunah, mengatakan memanjangkan rambut pria bukanlah dari sunnah yang berpahala bagi seorang Muslim.

Nabi Muhammad pernah memendekkan dan memanjangkan rambutnya, sehingga mencukur rambut tidak dianggap sebagai dosa. Secara postur, Nabi Muhammad digambarkan ideal.

“Lalu kita bicara tentang rambutnya.  rambut beliau hitam, sedikit bergelombang, dan terurus rapi hingga ke ujung telinga beliau,” ujar Budayawan dari Kota Malang, KRH Gus Ripno Waluyo, SE, SPd, S.H, C.NSP, C.CL, C.MP, Senin (20/6).

KRH Gus Ripno memaparkan, Anas bin Malik mengatakan bahwa panjang rambut Nabi Muhammad SAW adalah antara dua telinga dan dua bahunya. Dalam riwayat lain, Anas bin Malik mengatakan bahwa panjang rambut Nabi melewati dua telinganya. “Dan pada riwayat yang lain, Anas bin Malik mengatakan bahwa panjang rambut Nabi sampai dua bahunya,” tuturnya.

Riwayat lain (HR Nasa'i dari Anas bin Malik Ra). menyebut rambut Rasulullah berombak, tidak keriting dan tidak pula lurus, antara kedua telinganya dan tengkuknya. Beberapa riwayat menerangkan bahwa panjang rambut Nabi Saw.

"Jika anda shalat, jangan diikat rambut anda. Karena rambut anda akan ikut bersujud bersama anda. Dan anda mendapat pahala dari setiap helai rambut anda". Diriwayatkan Ibnu Abi Syaiban.

Laki-laki dan wanita Jawa secara umum membiarkan rambutnya panjang alami dan tidak dipotong. Kaum laki-laki, kecuali dalam acara tertentu, biasanya melingkarkan rambut mereka di sekeliling kepala dan menjepitnya dengan sisir sirkam di depan.

“Namun, di kalangan petinggi, merupakan suatu kehormatan untuk membiarkan rambutnya terurai di hadapan atasan mereka. “Rambut bangsawan Majapahit seperti dituturkan leluhur berambut panjang. Banyak pula yang digelung supaya lebih praktis. Konon, Patih Gajah Mada gaya rambutnya seperti itu,” ujar KRH Gus Ripno.

Banyak orang zaman sekarang salah kaprah tentang lelaki berambut gondrong. tapi kayaknya memang bukan zaman sekarang saja sih. Sejak dahulu kala, lelaki berambut gondrong di Indonesia selalu dipandang miring.

Hampir semua orang dan profesi kini salah kaprah memandang lelaki gondrong. Mulai dari orang yang berprofesi negarawan, politisi, guru, profesor, dokter, pebisnis, agamawan, dan lain-lain. Hanya seniman yang terbebas dari salah kaprah pandangan ini.

“Saya sangat kasihan dengan orang-orang yang berpandangan salah kaprah ini. Memang, pandangan mereka yang keliru itu bisa dimaklumi.Sebagian orang berambut gondrong memang menimbulkan kesan urakan, seram, malas, kotor, dan stigma lainnya. Namun, tidak semua lelaki berambut gondrong seperti itu,” sebutnya.

Di sinilah letak salah kaprahnya: mereka menggeneralisasi semua orang berambut gondrong. Artinya, ada yang keliru dari logika berpikir masyarakat umum. Ada yang keliru dari logika kebudayaan masa kini, yang pada akhirnya bisa berkembang menjadi budaya stigma.

“Prinsip saya adalah semua stigma harus dilawan. Bodo amat perlawanan itu berhasil atau tidak. Yang penting adalah lawan. Sebab, jika dibiarkan, stigma akan berkembang jadi penyakit kebudayaan: membuat kehidupan sosial-kebudayaan hanya jadi penuh sesak dengan prasangka!” tegas Tokoh Spiritualis itu.

Tradisi wanita memanjangkan rambut sudah ada sejak zaman kerajaan kuno tersebut.Walaupun pada zaman tersebut para filsuf yang kebanyakan laki-laki identik dengan rambut dan jenggot mereka yang panjang, tapi wanita Yunani memiliki rambut yang jauh lebih panjang.

Rambut ternyata memiliki peranan penting dalam membentuk citra seseorang. Kesehatan adalah isu yang penting karena menyangkut banyak aspek seperti pola makan, keturunan, dan waktu istirahat yang cukup.

Selain itu, rambut panjang juga menandakan status seseorang karena membutuhkan perawatan yang lebih. Semakin panjang rambut seorang wanita, semakin tinggi status sosialnya karena itu artinya dia punya cukup uang untuk merawat rambutnya.Hal ini juga berlaku bagi kaum pria.

Rambut adalah perantara pesan tentang kesehatan, jenis kelamin, religi, dan kekuasaan seseorang pada kesan pertama. Rambut yang panjang memang menandakan status sosial yang tinggi, tapi rambut pendek menandakan pria tersebut punya banyak aktivitas yang dianggap bergengsi di zamannya seperti militer.

"Agar punya rambut yang panjang, jasmani seseorang harus dalam kondisi sehat,” pungkas Pengacara Peradi Perjuangan ini.

Komentar