Rabu, 06 Juli 2022 | 13:22
NEWS

Terletak di Bibir Samudra Hindia

Tambak Udang Vaname di Cianjur Mengusung Konsep Modern dan Ramah Lingkungan

Tambak Udang Vaname di Cianjur Mengusung Konsep Modern dan Ramah Lingkungan
Prof. Rokhmin Dahuri melakukan penebaran benih perdana pada tambak udang vaname

ASKARA - Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS melakukan penebaran benih perdana pada tambak udang vaname (Litopenaeus vannamei) supra intensif modern yang terletak di bibir samudra Hindia di daerah Cianjur, Jawabarat, beberapa waktu lalu.

Tambak udang vaname yang akan dibangun di daerah Cidaun ini mengusung konsep modern dan ramah lingkungan. Terdiri dari petakan tandon air, petakan kolam pemeliharaan dan dilengkapi juga dengan petakan untuk instalasi pengelolaan air limbah (IPAL).

 “Alhamdulillah, saya selaku Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia bisa berkunjung di tambak yang paling modern, dalam arti teknologi di daerah Cidaun, Cianjur  menghadap Samudera Hindia,” ujar Prof Rokhmin lewat keterangan video yang dilihat Selasa (24/5).

Kenapa tambak ini disebut di most modern green farm technology? Karena, kata Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020- 2024 itu, teknologi tambak vaname kolam bundar yang sudah digaungkan pada 2010.

Tambak udang ini, jelasnya, menggunakan teknologi modern kolam bundar dengan sistem kolam pendederan (nursery pond) dan kolam pembesaran (rearing pond) dilengkapi dengan ‘dual toilet' (kolam pembersih) membuat tambak udang lebih produktif akan mampu menghasilkan tiga kali panen dalam satu tahun.

Selain meningkatkan produktivitas, sistem dual toilet juga menghasilkan pupuk organik dari sisa (limbah) pakan udang, dan membuat lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable). “Sekarang terus berkembang, dan pada tahapan teknologi saat ini kolam bundar untuk pencucian kolam airnya yang selama ini menggunakan central darinase sekarang dilengkapi istilah dual toilet,” jelas Menteri Kelautan dan Perikanan di era Kabinet Gotong Royong itu.

Prof. Rokhmin menjelaskan, selain limbah-limbah dikeluar melalui central darinase sebagian limbah itu dikeluarkan melalui kolam toilet 1, nanti diendapkan. Kemudian airnya dialirkan ke kolam toilet 2 untuk ditreatmen, dikasih bakteri, segala macam lalu airnya masuk lagi ke kolam pembesaran.

Sebelum itu benur yang dibeli dari yang terbaik ditaruh dulu di nutri pond selama sebulan. Setelah besar dipindahkan ke rearing pond.” Di kolam pembesaran udang dipelihara selama tiga bulan. Jadi, total sekitar 100 hari,” sebut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University ini.

Maka, kata Prof. Rokhmin Dahuri, dengan demikian yang selama ini kita panen itu 2,2 kali per tahun, Insya Allah 3 kali panen per tahun. Sehingga produksi per hektarnya akan meningkat secara tajam.

“Insya Allah, target kementerian kelautan perekinan untuk menghasilkan udang pada tahun 2024 sebesar 2 juta ton bisa tercapai, kita berdoa dan berikhtiar, teknologi terbaru ini benar-benar membuahkan hasil yang menguntungkan dan berkelanjutan,” harapnya.

Untuk itu, Prof Rokhmin mohon doa untuk seluruh insan praktisi petambak udang di Indonesia supaya ini berhasil. “Kalau ini berhasil kita akan jadikan role model, kita sebar luaskan ke seluruh Indonesia,” tutup Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu.

Seperti diketahui, potensi yang dimiliki Kabupaten Cianjur sendiri luar biasa dan berpeluang menjadi daerah penghasil udang vaname. Hal ini didukung ketersediaan lahan dan juga kondisi alam yang cocok untuk aktivitas budidaya tambak udang.

Informasi yang diperoleh dari Pemerintah Daerah Cianjur menyebut potensi lahan yang tersedia untuk budidaya tambak sekitar 110 hektare.

Komentar