Larangan Ekspor CPO dan Minyak Goreng Diprediksi Tak Akan Lama, Ini Sebabnya
ASKARA - Larangan ekspor crude palm oil (CPO) diprediksi tak akan berlangsung lama.
Sebab, larangan yang diputuskan Presiden Joko Widodo itu akan berdampak negatif terhadap profitabilitas produsen sawit di Indonesia.
Tak hanya itu, mata pencaharian puluhan juta pekerja di sektor sawit juga diprediksi mengalami penurunan.
"Pada akhirnya akan juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah daerah industri sawit," ujar Ketua Umum Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia (APPKSI), Andi Muhamadyah dalam keterangannya, Rabu (4/5).
Menurut Andi, dampak larangan ekspor minyak sawit mentah dan minyak goreng Indonesia akan menyebabkan penurunan harga domestik dan mendorong kenaikan harga di pasar lain seperti Malaysia.
Pemerintah memberlakukan larangan ekspor CPO, minyak goreng, RBD (refined, bleached, and deodorised) palm oil, dan RBD palm olein sejak 28 April.
Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan dan menurunkan harga minyak goreng di pasar lokal.
"Tetapi, tidak akan memberikan dampak yang signifikan untuk menurunkan harga minyak goreng kemasan maupun curah," ucap Andi.
Andi menyebut sebenarnya naiknya harga minyak goreng baik curah maupun kemasan, yang berdampak pada daya beli masyarakat kecil dan ekonomi lemah serta pelaku usaha kecil sudah dicover oleh jaringan pengaman sosial berbentuk Bantuan langsung tunai langsung ( BLT) oleh pemerintah.
Namun, layaknya seperti penanganan kenaikan harga BBM yang juga dicover dengan BLT.
Andi pun mempetanyakan lalu apakah harga BBM turun sekalipun harga CPO turun kan tidak membuat harga BBM turun?
Di sisi lain pemberian BLT sudah cukup tepat.
Andi memberikan perhitungan berdasarkan kebutuhan fisik mininum untuk seorang buruh dengan istri dan dua anak membutuhkan 0,78 liter minyak goreng seminggunya artinya sebulan hanya dibutuhkan 3,12 liter, dengan BLT Rp 100 ribu rupiah per bulan sudah terpenuhi dua liter minyak goreng untuk keluarga penerima manfaat.
"Sisanya tentu ditutup dengan pengeluarannya setiap bulan yang hanya dibutuhkan untuk membeli 1,12 liter minyak goreng," bebernya.
Lantaran itu, dia menilai pelarangan ekspor CPO tidak akan lama paling juga habis lebaran dibuka kembali, karena perekonomian butuh bertumbuh dan lapangan kerja baru juga dibutuhkan akibat dampak Covid-19 yang sudah menyebabkan PHK besar besaran.
"Jadi percaya deh larangan ekspor CPO oleh Jokowi cuma seumur cuti bersama lebaran," pungkas Andi. (jpnn)

Komentar