Ingin Membuat Tuhan Tersenyum
Oleh: Jonny Sinaga *)
Perkenalanku dengan dr Terawan [Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto SpRad(k)]karena diundang menghadiri seminar di Tokyo. Dia didampingi isteri dan satu lagi dokter yg juga didampingi isteri.
Pertemuan jamuan makan malam sederhana itu sangat menyenangkan karena para dokter kita itu sangat ramah. Tibalah pada pertanyaan klasik yakni berapa lama di Tokyo dan kapan kembali ke Jakarta.
Jawaban dokter Terawan yang selalu senyum mengatakan, “Rencananya tiga hari Pak, sekalian jalan2 dgn isteri dan teman baik. Tapi kalau ada panggilan dari Jakarta, sekarangpun saya harus kembali.”
Saya menatap isterinya dan nada bergurau saya bertanya, “Benar Bu, kalau ada panggilan sekarang Pak Terawan akan pulang dan ibu ditinggal?” Belum sempat dijawab isterinya Pak Terawan menimpali, “Dia sudah biasa Pak Jonny.” Senyum indah dari suami isteri itu menghiasi ruangan di musim dingin itu.
Lalu temannya yang juga dokter ikut mendukung. “Kami sejak dulu sudah sepakat dengan dokter Terawan semasih diperlukan kita akan lakukan yang terbaik.”
Setelah berbincang-bincang banyak termasuk tentang kontroversi yang dihadapi saya mendengar bahwa pasien dokter Terawan bukan hanya dari Indonesia. “Tidak tahu Pak dari mana mereka tahu tapi ada pasien kita dari Spanyol.” Saat itu dokter Terawan menjelaskan sudah lebih 15.000 orang pasien yang sudah ditangani dan tidak semua selalu berhasil. “Dari segi ekonomi sebenarnya sudah lebih dari cukup Pak,” katanya sambil melirik isterinya.
Lalu saya bertanya, “Lalu kenapa Pak Terawan harus meninggalkan ibu sendirian di luar negeri, kalau ada panggilan pasien yang membutuhkan di Jakarta? Khan bisa ditunggu sampai Bapak kembali?”
Dengan senyum dokter Terawan menjawab, “Saya ingin membuat Tuhan tersenyum.” Saya ingin tahu apa maksudnya dan dokter Terawan menjelaskan. “Kalau saya tahu ada orang yang sudah tanpa harapan dan saya melihatnya dan saya bisa menolongnya saya merasa berdosa kalau saya biarkan. Dan yang lebih menyenangkan kalau pasien yang tanpa harapan itu kemudian sembuh, saya seperti melihat Tuhan itu tersenyum. Itu kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan.”
Itulah akhir pertemuan kami malam itu di kota Tokyo yang indah. Dengan teropong sederhana kami nikmati indahnya langit Jepang. Kemudian saat kembali bertugas di Jakarta tiba-tiba beliau sudah menjadi jenderal bintang tiga dan menteri kesehatan. Lalu berita pemecatan beliau dari IDI tahun 2022 ini membuat saya menuliskan ini untuk menunjukkan bahwa kebaikan orang rupanya tidak selalu dibalas dengan kebaikan.
*) Mantan wakil Dubes RI di Tokyo (2012-2014)

Komentar