Rabu, 10 Juni 2026 | 18:01
NEWS

Orasi Ilmiah Pada Wisuda UNP ke-126

Prof. Rokhmin Dahuri: Wujudkan UNP Jadi A World-Class University Menuju Indonesia Emas

Prof. Rokhmin Dahuri: Wujudkan UNP Jadi A World-Class University Menuju Indonesia Emas
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

ASKARA – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS mengatakan, untuk menjadi alumni yang berhasil dan Universitas Negeri Padang (UNP) menjadi a World-Class University (WCU), kita mesti memahami kondisi kehidupan dan status pembangunan bangsa kita saat ini, dan Peta Jalan (Road Map) Pembangunan Bangsa Menuju Indonesia Emas pada 2045.

“Selain kondisi dan status pembangunan sekarang (existing development status), Peta Jalan Pembangunan Bangsa yang tepat dan benar juga mesti mempertimbangkan potensi dan permasalahan pembangunan, dan dinamika peradaban global,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri dalam Orasi Ilmiah Pada Wisuda UNP ke-126 bertema “Positioning PTN BH Universitas Negeri Padang (UNP) Dalam Pembangunan Agro-Maritim Sebagai Penghela Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045” di Auditorium UNP Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawang-Padang, Ahad (20/3).

Lebih dari itu, paparnya, sebagai warga Negara dan warga dunia yang baik, seorang alumni Perguruan Tinggi (PT) yang sukses juga diharapkan turut berkontribusi signifikan bagi terwujudnya Indonesia Emas (maju, adil-makmur, dan berdaulat) paling lambat pada 2045, dan dunia yang lebih baik (for a better world), melalui buah pikirannya, pekerjaan terbaiknya sebagai karyawan (ASN), lapangan kerja yang dia ciptakan sebagai wirausahawan (entrepreneur), inovasi, atau amal saleh lainnya. Sebagai insan beriman, sukses dan kebahagiaan hidup itu juga bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak sebagai penghuni surga Sang Khalik.

“Selain memberikan pencerahan (enlightment), saya berharap Orasi Ilmiah ini juga dapat memberikan semacam perspektif, arah (direction), guidance atau bekal bagi para wisudawan untuk hidup sukses serta bahagia, dan bagi UNP yang telah menyandang status sebagai PTN BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) berdasarkan PP No. 114/2021, yang sudah berkinerja baik supaya lebih cemerlang lagi, hingga menjadi a WCU dalam waktu tidak terlalu lama,” imbuhnya.

Seyogyanya, lanjut Prof. Rokhmin Dahuri, pemahaman mengenai segenap informasi pembangunan tersebut menjadi dasar bagi para alumni dan UNP pada khususnya, dan rakyat Indonesia pada umumnya, untuk mengidentifikasi dan memetakan kebutuhan pembangunan, jenis pekerjaan (profesi), karakteristik SDM (Sumber Daya Manusia), sistem pendidikan, riset, inovasi, dan informasi yang dibutuhkan untuk masa kini mapun masa depan.

“Setiap insan, tak terkecuali wisudawan UNP yang diwisuda pada hari ini, mendambakan kehidupan yang sukses dan bahagia. Keberhasilan dan kebahagiaan itu tentu akan membuat bahagia dan rasa bangga bagi orang tua beserta keluarga besarnya,” ujar Prof. Rokhmin yang juga anggota Kehormatan Majelis Wali Amanat (MWA) – Universitas Negeri Padang itu.

Pada dasarnya, kata Prof. Rokhmin, peran PT di dalam mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 adalah berupa: (1) lulusan yang unggul, (2) hasil penelitian (invensi dan inovasi) yang berguna bagi pembangunan ekonomi dan kehidupan bangsa Indonesia serta umat manusia, dan (3) perbaikan dan pengembangan kapasitas, etos kerja, dan akhlak masyarakat dan aparat pemerintah (ASN).

Melalui kegiatan Tri DARMA nya, yakni: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat. Di era dunia yang highly interconnected dan borderless, bercirikan VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambiguous), Pemanasan Global dan kerusakan lingkungan yang kian masif dan meluas, dan ketimpangan sosial-ekonomi (kaya vs miskin) yang semakin melebar; PT dan segenap alumninya juga dituntut untuk berkontribusi signifikan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, maju, sejahtera, adil, aman, damai, dan berkelanjutan.

Profil alumni PT yang unggul dan Insya Allah hidupnya sukses serta bahagia adalah mereka yang memiliki karakter (ciri): (1) kompeten pada bidang IPTEK (PRODI) yang ditempuh selama kuliahnya; (2) memiliki kemampuan analisis, sintesis, kritis, kreatif, inovatif, dan problem solving; (3) menguasai dan terampil teknologi digital (menggunakan komputer, HP, dan gadget lainnya).

Kemudian, (4) memiliki soft skills (seperti dapat memelihara dan memompa motivasi diri, bisa bekerjasama, teamwork, disiplin, dan leadership);(5) menguasai sedikitnya satu Bahasa asing (seperti Inggris, Arab, atau Mandarin); (6) memiliki jiwa wirausaha (entrepreneurship); (7) berakhlak mulia (jujur, amanah, fathonah/visioner, tabligh, berempati, kanaah, sabar, dan bersyukur); dan (8) beriman dan taqwa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing.

Selain itu, kata Guru Besar Kehormatan Mokpo National University, Korea Selatan ini, hasil penelitian dari PT mestinya menghasilkan: (1) informasi ilmiah sebagai dasar bagi pihak pemerintah, swasta (industri) maupun masyarakat dalam menyusun perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan atau bisnis; (2) invensi (prototipe) yang siap untuk dihilirisasi (scalled up) menjadi inovasi teknologi maupun non-teknologi; (3) publikasi ilimiah di jurnal ternama (terbaik) pada bidang ilmunya, baik di tingkat nasional maupun internasional; dan (4) semakin meningkatkan Iman dan Taqwa (IMTAQ) para peneliti dan manusia menurut agama masing-masing.

Adapun Pengabdian pada Masyarakat yang dilakukan oleh PT harus diarahkan untuk membantu masyarakat dan pemerintah setempat supaya lebih memiliki kompetensi dan kapasitas pembangunan serta berusaha (berbisnis), beretos kerja unggul, berakhlak mulia, dan beriman dan taqwa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing sesuai koridor Pancasila.

“Apabila TRI DARMA dan peran Mondial (global) yang saya uraikan diatas dapat dilaksanakan secara benar dan baik, maka UNP menjadi a World-Class University dan para alumninya menjadi insan-insan yang sukses serta bahagia hidup di dunia dan akhirat adalah sebuah keniscayaan, dalam waktu yang tidak lama (2035). Menurut Salmi (2009), ada tiga prasyarat sebuah PT bisa menjadi a World-Class University,” terang Menteri Kelautan dan Perikanan RepublikI Indonesia (2001-2004) itu.

Pertama, jelasnya, adanya mahasiswa, dosen, peneliti, dan tenaga non-akademik yang berkualitas unggul. Selain itu, melaksanakan program pendidikan internasional dan kolaborasi penelitian dengan PT serta Lembaga Penelitian di dunia (internationalization). Kedua, tata kelola PT yang baik dan kondusif (favorable governance) yang meliputi: kurikulum, metoda pengajaran (Pendidikan) dan penelitian, autonomy academic freedom, culture of excellence, strategic vision, dan leadership team. Ketiga adalah dana (anggaran) yang mencukupi untuk membangun infrastruktur dan sarana, membiayai kegiatan TRI DARMA, dan mensejahterakan seluruh dosen, peneliti, dan tenaga non-akademik secara berkeadilan dan berkelanjutan.

Dalam kaitannya dengan pembangunan Agro-Maritim, UNP mesti membuka PRODI (Program Studi) bahkan Fakultas baru yang relevan dengan IPTEK dan expertise (keahlian) yang dibutuhkan untuk pembangunan Agro-Maritim dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas, paling lambat pada 2045. Program Studi atau Fakultas baru itu antara lain adalah: Nano-Bioteknologi Kelautan, Coastal and Ocean Engineering, Energi Kelautan, Teknik Perkapalan, Manajemen Pelabuhan dan Logistik Maritim, Pariwisata Bahari, dan Industry 4.0 Maritim.

“Sebagai PT yang berasal dari IKIP, UNP bisa membuka PRODI dan Fakultas baru di bidang kemaritiman diatas melalui jalur Pendidikan untuk para mahasiswa calon guru maupun untuk para mahasiswa untuk profesi non-guru,” katanya.

Peta Jalan Pembangunan Bangsa Indonesia

Sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, alhamdulillah negara-bangsa Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami perbaikan hampir di semua bidang kehidupan. Contohnya, kalau pada 1945 – 1955 sekitar 70 persen rakyat Indonesia masih miskin, pada 1970 jumlah rakyat miskin menurun menjadi 60 persen. Pada 2004 tingkat kemiskinan turun lagi menjadi 16 persen, tahun 2014 mejadi 12 persen, dan tahun 2019 tinggal 9,2 persen.

“Sayang, karena pandemic Covid-19, pada 2021 tingkat kemiskinan meningkat lagi menjadi 10,2 persen atau sekitar 27,6 juta orang (BPS, 2021). Ukuran ekonomi atau PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia saat ini mencapai 1,1 triliun dolar AS atau terbesar ke-16 di dunia (World Bank, 2021),” ujar Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea itu.

Namun, kata Prof. Rokhmin, bila PDB sebesar itu dibagi dengan jumlah penduduk sebesar 274 juta orang, maka per Maret 2021 GNI (Gross National Income) atau Pendapatan Nasional Kotor Indonesia baru mencapai 3.870 dolar AS per kapita. Artinya, hingga saat ini (sudah 76 tahun merdeka), status pembangunan (kemakmuran) Indonesia masih sebagai negara berpendapatan-menengah bawah (lower-middle income country). Belum sebagai negara makmur (high-income country) dengan GNI per kapita diatas 12.695 dolar AS, yang merupakan Cita-Cita Kemerdekaan NKRI 1945.

Sementara itu, negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura dengan potensi pembangunan yang jauh lebih kecil ketimbang Indonesia, tingkat kemakmurannya sudah jauh melampaui kita bangsa Indonesia. Bahkan Singapura dan Brunei Darussalam sudah dinobatkan sebagai negara makmur, dengan GNI per kapita 54.920 dolar AS dan 32.230 dolar AS.

Tingkat kemajuan bangsa Indonesia, yang diukur atas dasar kapasitas IPTEK (UNESCO, 2014), pun sampai sekarang masih berada di kelas-3 (technology-adaptor country), belum sebagai negara maju (technologyinnovator country) atau kelas-1. Technology-adaptor country adalah negara yang sekitar 70% kebutuhan teknologinya berasal dari impor, bukan dari hasil karya (inovasi) bangsa sendiri. Sebaliknya, negara maju (technology-innovator country) adalah negara yang lebih dari 70% kebutuhan teknologinya dipenuhi oleh hasil karya bangsanya sendiri, bukan dari impor.

Selain GNI per kapita dan kapasitas IPTEK, ada delapan IKU (Indikator Kinerja Utama atau Key Performance Indicators) lainnya yang merupakan karakteristik dari Indonesia Emas atau Indonesia yang maju, adil-makmur, dan berdaulat.

Yakni: semua penduduk usia kerja (15 – 64 tahun) semua harus bekerja (zero unemployment); tidak ada rakyat miskin (zero poverty); ketimpangan kaya vs miskin harus rendah atau berkeadilan sosial (koefisien GINI < 0,3); kedaulatan/ketahahan pangan, energi, dan farmasi yang tinggi; IPM (Indeks Pembangunan Manusia = Human Development Index) > 80; Kualitas Lingkungan Hidup termasuk baik – sangat baik; mampu berkontribusi signifikan untuk perdamaian dunia; dan berkelanjutan (sustainable). Ironisya, belum satu pun dari sepuluh IKU tersebut kita berhasil mencapai targetnya.

“Kenapa saya katakan ironis, karena Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia, yang memiliki modal dasar (potensi) pembangunan yang luar biasa besar dan lengkap untuk menjadi bangsa maju, adil-makmur, dan berdaulat,” ucap nya.

Selanjutnya, terang Prof. Rokhmin, modal dasar pertama adalah 278 juta orang penduduk, yang merupakan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, setelah China (1,45 milyar orang), India (1,4 milyar orang), dan Amerika Serikat (334 juta orang). “Artinya, Indonesia sejatinya memliki potensi pasar domestik (domestic market) terbesar keempat di dunia,” ujar Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan-RI (2020 – 2024) itu.

Potensi pasar domestik yang sangat besar ini seharusnya memudahkan kita untuk membangun sektor-sektor produksi primer (ekstraksi SDA seperti kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan, dan pertambangan); sektor sekunder (industri manufaktur atau pengolahan) maupun sektor tersier (jasa, pariwisata, dan ekonomi kreatif) yang dapat menghasilkan barang dan jasa (goods and services) yang berdaya saing dan bernilai tambah tinggi untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor secara berkelanjutan (sustainable). Namun, faktanya sejak 2012 sampai 2019 (sebelum Pandemi Covid-19) neraca perdagangan RI selalu negatip (nilai ekspor < nilai impor).

Di masa Pandemi (2020 – 2021), neraca perdagangan RI memang menjadi positip, sekitar 12 milyar dolar AS per tahun. Namun, bukan karena lonjakan nilai ekspor yang signifikan, tetapi lebih karena menurunnya nilai impor akibat terpangkasnya laju industri manufaktur RI, terkait dengan pembatasan aktivitas ekonomi dan pergerakan manusia.

Modal dasar kedua adalah fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya dengan berbagai SDA (Sumber Daya Alam) atau a resource-rich country. Mulai dari minyak dan gas bumi, batubara, berbagai jenis mineral (seperti nikel, tembaga, emas, timah, bauksit, bijih besi, dan mangan), hutan, lahan pertanian dan perkebunan hingga sumber daya kelautan dan perikanan; Indonesia merupakan top five atau top ten produsen dunia dari segenap SDA tersebut (lihat Lampiran-3). Selain itu, keindahan alam Indonesia, baik yang ada di daratan maupun lautan juga secara potensial merupakan destinasi wisata berkelas dunia. Hal ini berarti Indonesia memiliki potensi produksi (supply capacity) barang dan jasa yang luar biasa besar.

Mestinya kekayaan alam yang melimpah ruah sebagai keunggulan komparatif (comparative advantage) dapat kita transformasi menjadi keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang menjadi salah satu prasyarat sebuah bangsa bisa maju, sejahtera, dan berdaulat (Porter, 2007). Alih-alih, pemanfaatan atau eksploitasi SDA (migas, batubara, mineral, kehutanan, dan perkebunan) malah menjadi lahan korupsi yang marak dan perusakan lingkungan yang masif, atau menjadi semacam kutukan SDA (resource curse).

Modal dasar ketiga adalah berupa posisi geoekonomi dan geopolitik Indonesia yang sangat strategis, terletak diantara dua Samudera Pasifik dan Hindia, dan dua Benua Asia dan Australia. Dimana sekitar 45% dari seluruh komoditas dan produk (barang) yang diperdagangkan di dunia, dengan nilai ratarata 15 trilyun dolar AS per tahun (sekitar 14 kali lipat PDB Indonesia saat ini) ditransportasikan oleh ribuan kapal melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2016).

“Jadi, mestinya posisi geoekonomi yang sangat strategis (di jantung Rantai Pasok Global) merupakan advantage (kelebihan) Indonesia untuk memproduksi dan mengekspor berbagai jenis barang dan jasa ke manaca negara. Bukan seperti yang selama ini terjadi, kita malah memanfaatkan posisi geoekonomi yang strategis ini untuk mengimpor barang dan jasa dari bangsa-bangsa lain,” kata Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.

Modal dasar keempat, sambungnya,  adalah berupa fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan (swalayan) berbagai bencana alam. Betapa tidak, lebih dari 70% suluruh gunung api aktif di dunia terdapat di Indonesia (ring of fire country). Karena terletak diantara 3 lempeng geologis utama dunia, Indoneia juga merupakan salah satu negara yang paling rawan terhadap bencana tsunami. Belum lagi, bencana hidrometri seperti banjir dan tanah longsor selalu menghantui wilayah-wilayah NKRI.

Hampir semua hasil penelitian, ilmuwan, pakar, dan praktisi bersepakat bahwa Indonesia yang kaya SDA, tetapi hingga kini belum menjadi negara maju dan makmur. Penyebab utamanya adalah rendahnya kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) nya, baik rakyat maupun pemimpinnya. Pemalas, kurang mencintai IPTEK, kurang disiplin, minimalis, budaya instan, iri, dengki, kurang bisa kerjasama, dan keburukan lainnya.

Salah satu penyebab utama dari rendahnya kualitas SDM ini adalah karena hidup kita terlalu dimanjakan alam yang subur dan kaya. Sebagian besar rakyat dan pemimpin (elit) bangsa ini merasa hidupnya tidak ada tantangan. Padahal, semua negara yang maju dan makmur, karena para pemimpin dan rakyatnya merasa punya tantangan bersama (common challenge) untuk diatasi bersama dengan inovasi teknologi dan capital (kekayaan harta). “Maka, mulai sekarang mari kita persepsikan bahw becana alam merupakan tantangan kita bersama untuk menjadi bangsa yang produktif, tangan diatas, berdaya saing, dan berakhlak mulia,” tuturnya.

Untuk mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 dengan GNI per kapita sekitar 23.000 dolar AS dan PDB sebesar 7 trilyun dolar AS (ekonomi terbesar kelima di dunia) (Bappenas, 2019) dan menggapai sembilan IKU lainnya, Indonesia harus mengatasi sepuluh tantangan utamanya. Yaitu: (1) pertumbuhan ekonomi yang rendah (rata-rata di bawah 7 persen per tahun) yang kurang berkualitas dan inklusif; (2) kemiskinan; (3) pengangguran; (4) ketimpangan sosial-ekonomi (penduduk kaya vs miskin) terburuk ketiga di dunia; (5) disparitas pembangunan antar wilayah yang sangat ‘njomplang’, dimana Pulau Jawa yang luasnya hanya 5,5% luas wilayah NKRI menyumbangkan 58% terhadap PDB dan menjadi tempat tinggal untuk 54% penduduk Indonesia; (6) deindustrialisasi; (7) ketergantungan pada impor bahan pangan, farmasi, minyak dan gas; (8) stunting dan gizi buruk; (9) rendahnya daya saing dan IPM; dan (10) kerusakan lingkungan dan SDA.

Sedangkan untuk mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 dengan 10 IKU nya, di bidang ekonomi, seyogyanya kita mengimplementasikan tujuh kebijakan pembangunan ekonomi: (1) pemulihan ekonomi dari pandemi covid-19; (2) transformasi struktural ekonomi; (3) mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia secara berkeadilan; (4) peningkatan kedaulatan/ketahanan pangan, energi, dan farmasi; (5) penguatan dan pengembangan infrastruktur dan konektivitas digital; (6) penciptaan iklim investasi dan kemudahan berbisnis (ease of doing business) yang kondusif, dan atraktif; dan (7) kebijakan politik-ekonomi yang kondusif bagi pembangunan ekonomi yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Selain potensi, tantangan (permasalahan) pembangunan, dan posisi geoekonomi serta geopolitik; dinamika lima kecenderungan global utama (key global trends) yang berpengaruh terhadap perekonomian dan kehidupan manusia di abad-21 ini juga harus menjadi pertimbangan di dalam penyusunan Peta Jalan Pembangunan Bangsa Indonesia.

Pertama adalah jumlah penduduk dunia yang terus bertambah. Pada 2011 penduduk dunia sebesar 7 milyar orang, sekarang sekitar 7,4 milyar jiwa. Kemudian, pada 2050 penduduk dunia diperkirakan bakal mencapai 9 milyar orang, dan 2100 akan menjadi sekitar 11 milyar (PBB, 2021). Kedua, era Industri 4.0 (Revolusi Industri Keempat) yang melahirkan inovasi teknologi dan nonteknologi baru yang mengakibatkan disrupsi hampir di semua sektor pembangunan dan aspek kehidupan manusia. Jenis-jenis teknologi baru yang lahir dan berubah super cepat di era Industri 4.0 berbasis pada kombinasi teknologi digital, fisika, material baru, dan biologi.

Antara lain adalah IoT (Internet of Things), AI (Artificial Inteliigence), Blockchain, Robotics, Cloud Computing, Augmented Reality dan Virtual Reality (Metaverse), Big Data, Biotechnology, dan Nannotechnology (Schwab, 2015).

Ketiga, pandemi covid-19 yang sampai sekarang belum berakhir tuntas juga telah mendisrupsi semua aspek kehidupan manusia di seluruh dunia. Keempat, Perubahan Iklim Global (Global Climate Change) beserta segenap dampak negatipnya seperti gelombang panas, cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, pemasaman laut (ocean acidification), banjir, kebakaran lahan dan hutan, dan peledakan wabah penyakit. Kelima, ketegangan geopolitik yang menjurus ke perang fisik (militer) seperti yang terjadi antara Rusia vs Ukraina.

Ketegangan geopolitik yang lebih besar sebenarnya adalah antara AS serta para sekutunya (seperti Jepang, Australia, Inggris, dan Uni Eropa) vs China serta sekutunya (seperti Rusia, Korea Utara, dan Iran). Selain karena faktor ideologi, penyebab ketegangan geopolitik dan perang adalah perebutan wilayah dan SDA (resource war). Sejumlah kawasan sangat rawan terjadinya perang, sperti Timur Tengah, Afrika, Laut China Selatan, Semenanjung Korea, dan Asia Timur.

Implikasi dari pertambahan jumlah penduduk dunia dan perkembangan IPTEK Industri 4.0 yang super cepat adalah semakin meningkatknya permintaan (demand) manusia terhadap bahan pangan, pakaian, material bangunan untuk perumahan, obat-obatan (bahan farmasi) untuk kesehatan, beragam material dan produk untuk menjalankan sistem pendidikan, energi, mineral, SDA alam lain, dan jasa-jasa lingkungan (environmental services).

Dalam pada itu, pandemi, Perubahan Iklim dan kerusakan lingkungan, dan instabilitas geopolitik dapat mengurangi kemampuan Bumi untuk menghasilkan bahan pangan, farmasi, energi, dan berbagai jenis SDA dan jasa-jasa lingkungan yang dibutuhkan untuk mendukung keberlanjutan (sustainability) pembangunan ekonomi dan peradaban manusia itu sendiri.

Maka, negara-negara yang memiliki kapasitas produksi bahan pangan, farmasi, energi, mineral, SDA lainnya, dan jasa-jasa lingkungan yang besar dan mampu mengolah (manufacturing) untuk menghasilkan beragam produk dan jasa yang bernilai tambah tinggi secara berkelanjutan; mereka akan menjadi negara-bangsa yang unggul, maju, makmur, dan bedaulat.

“Dan, sebaliknya, berdasarkan pada status (pencapaian) pembangunan, modal dasar (potensi) pembangunan, permasalahan dan tantangan pembangunan, dan key global trends abad-21 yang saya uraikan diatas, maka secara pendekatan system (system approach), Peta Jalan Pembangunan Bangsa Menuju Indonesia Emas pada 2045,” kata Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany ini.

 

Komentar