Kenduri Bunyi 2022: Al Jarreau di Desa Bajang
ASKARA - Di tengah situasi yang berpotensi menuju penurunan tajam grafik tatanan kehidupan berkelayakan, siapa masih peduli dengan keberadaan musik? Yups! musik dengan segala anasir yang dikandungnya; nada, irama, piranti hingga langgam, genre, cengkok dan teknik penampilannya.
Musik yang secara tragis terlupakan dalam dinamika keseharian dimana ada atau tidaknya dianggap seolah angin sepoi. Keberadaannya dinikmati dan mendapat pujian namun kepergiannya tidaklah meninggalkan penyesalan.
Berangkat dari apresiasi dan penghargaan terhadap musik itulah, komunitas musik Blitar Raya menyelenggarakan acara yang diberi nama “Kenduri Bunyi di Kampung Seni; Bersama Menjaga Rasa, Bangkitkan Cinta Indonesia”. Perhelatan musik ini diadakan dalam rangka memperingati hari Musik Nasional yang jatuh setiap 9 Maret.
Menempati halaman belakang sebuah rumah tua di desa Bajang, kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, acara dibuka tepat pukul 14.00 WIB sesuai jadwal yang diedarkan melalui poster dan edaran di beberapa grup WA.
Dalam kesehariannya, tempat itu sendiri adalah satu warung kopi atau kafe yang memiliki pelanggan tetap remaja dan komunitas seni dari desa-desa dan kecamatan sekitar.
Walau tempatnya berada cukup jauh (sekitar 500 meter) dari jalan provinsi, jangan bayangkan kafe yang diberi nama Glenuk itu berpenampilan sederhana atau apa adanya. Menu yang disuguhkan dan uniform pramusajinya menunjukkan pemilik serta pengelola bertekad menjadikan Glenuk sebagai kafe tujuan utama siapa saja yang ingin menikmati sajian bercita rasa dengan atmosfer suasana desa.
Kholam Shiharta sebagai penggagas acara mengatakan, bersama kawan-kawan panitia telah mengundang 32 kelompok dan perorangan untuk berpartisipasi mengisi acara. Namun konfirmasi akhir yang diterimanya ada sekitar 25.
Jumlah ini tidak menjadikan panitia berkecil hati karena di antara mereka terdapat beberapa nama yang rela datang dari luar kota (Tulung Agung, Malang, dan Lampung).
Hujan yang seakan bersikeras menghadirkan perannya telah hadir sejak awal acara dibuka. Penampilan anak-anak secara solo maupun kelompok menjadikan siang berawan terasa hangat.
Keceriaan dan tingkah kekanakan mereka menjadikan halaman belakang yang berujung sebuah sungai kecil di ujungnya terasa karib bagi setiap hadirin maupun penampil yang menunggu giliran.
Beraneka lagu mereka suguhkan dengan iringan gitar atau bantuan perangkat elektronik untuk teknik minus one. Tembang dolanan, lagu kebangsaan, lagu anak-anak hingga campurasri dan pop jawa kekinian mengalir ke telinga sebagai pembuka dan seperti janji bahwa tampilan malamnya pasti akan lebih hypening.
Seusai istirahat sejenak sambil memberi waktu bagi yang hendak menunaikan ibadah sholat Maghrib, acara dilanjutkan. Lagi-lagi dengan iringan hujan yang kian menderas dan padamnya listrik walau sesaat.
Semerbak dupa, hujan, duduk yang saling merapatkan badan karena keterbatasan kursi dan gazebo dengan atap penahan air yang tercurahkan menjadi tambahan warna malam itu.
Kelompok-kelompok yang usai unjuk kebolehan, mereka yang masih menunggu giliran serta partisipan yang terus berdatangan menunjukkan buncahan semangat ikut merayakan Hari Musik Nasional.
Niat baik panitia penyelenggara dan gelombang kecintaan kepada musik yang sama di diri hadirin dan peserta terlihat jelas di sana. Itulah mengapa di desa Bajang yang jauh dari keramaian, bukan hanya bisa kita tangkap suara Karinding; nggak main-main, ada lagu Greatest Love of All serta Al Jarreau yang bertandang dengan sepenuh jiwa.(rio ns)

Komentar