Selasa, 09 Juni 2026 | 07:21
NEWS

Puan Curhat Tak Disambut Kepala Daerah, Pengamat: Ditujukan ke Ganjar Pranowo

Puan Curhat Tak Disambut Kepala Daerah, Pengamat: Ditujukan ke Ganjar Pranowo
Ganjar dan Puan Maharani (Dok Merdeka.com)

ASKARA - Curhat Ketua DPR RI Puan Maharani yang menyebut tidak ada penyambutan kepala daerah saat dirinya berkunjung ke daerah menjadi sorotan.  

Pasalnya, Puan tidak secara gamblang menyebutkan siapa sosok yang tak menyambutnya itu. 

Terkait hal itu, Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menyampaikan analisisnya. 

Adi menduga, kalimat sindiran yang disampaikan Puan itu ditujukan kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

"Publik menduga-duga pernyataan Puan ditujukan ke Gubernur Jateng (Ganjar Pranowo) karena saat peresmian pasar di Solo, Ganjar ke Jakarta bertemu Presiden rapat tentang Covid-19. Karena belum ada kejadian di tempat lain di mana Puan datang kepala daerahnya tak nyambut kecuali di Jateng," kata Adi kepada wartawan, Sabtu (12/2). 

Menurut penilaian Adi, tidak mungkin Puan menyindir gubernur lain dari PDI Perjuangan selain Ganjar. Hal ini juga berangkat dari sejumlah polemik yang sempat terjadi antara Puan dan Ganjar.

"Publik yakinnya Ganjar gubernur yang dimaksud. Gubernur atau wakil gubernur lain dari PDIP tak pernah terkekspos ke publik. Beda cerita dengan Ganjar, polemik internalnya berulang kali. Serba salah jadi Ganjar. Dulu rapat konsolidasi di Jateng nggak diundang. Peresmian pasar di Solo diundang mendadak dan bentrok dengan jadwal ketemu Presiden," tuturnya.

Adi berpandangan, pernyataan Puan tersebut justru berdampak buruk. Ucapan tersebut, menurutnya membuat publik kehilangan respect terhadap Puan.

"Itu sangat blunder bagi Puan. Pilihan kata, intonasi, dan gesture saat nyinggung gubernur yang tak nyambut dirinya bikin publik tak respek. Zaman makin terbuka dan modern. Sikap elitis dan feodalisme di partai mestinya mulai ditinggalkan. Untuk konsumsi internal mungkin bagus, tapi kalau diumbar ke publik pernyataan semacam itu bisa jadi petaka politik," pungkasnya.

Komentar