Senin, 15 Juni 2026 | 20:27
TRAVELLING

Temukan Jejak Purba Sunda di Citeureup

Ki Santang Salaka Domas: Wilayah Kabupaten Bogor Surga Situs Purba Sunda

Ki Santang Salaka Domas: Wilayah Kabupaten Bogor Surga Situs Purba Sunda
Jejak Purba Sunda di Citeureup, Kabupaten Bogor

ASKARA - Ketua Sandi Nusantara, Ki Santang Salaka Domas mengklaim telah menemukan Jejak Purba Sunda di wilayah Bogor. Pegiat budaya Sunda asal Kota Depok, Jawa Barat juga juru kunci juru kunci Situs Makam Raden Yusuf, Pesona Kayangan, Kota Depok, melakukan ekspedisi ke Desa Pasir Mukti.

Tepatnya, jejak baru peradaban purba Sunda yang belum diketahui publik itu berada di Kampung Rawa Bogo, RT 01/ RW 06, Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Ki Santang Salaka Domas merupakan panggilan akrab dari Ustadz Fahruddin Soleh menyebut wilayah Kabupaten Bogor merupakan surga situs purba Sunda.

“Pasalnya di setiap jengkal daerah ini ditemukan situs purba berusia ribuan tahun, yang membentang panjamg dari era Kerajaan Pakuan Pajajaran hingga era peradaban megalitikum,” ujar Ki Santang, Selasa (1/2) malam.

Lebih jauh mantan Ketua Angkatan 18 (Andalas) Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta ini menuturkan, pada Senin (24/1/2022), ia bersama tim Sandi Nusantara menjelajahi kawasan Situs Pasir Mukti, Citureup.

"Dari pengamatan yang kami lakukan, dengan melihat karakter bebatuan era megalitikum yang ditemukan dan dibandingkan dengan situs purba lainnya seperti Situs Cibalay dan Gunung Padang, keyakinan kami Situs Pasir Mukti merupakan jejak peradaban sangat kuno," tuturnya.

Ki Santang meyakini, hamparan bebatuan di kawasan Situs Pasir Mukti merupakan warisan era megalitikum, tepatnya sebagai peninggalan Sanghyang Anwas, putra Sanghyang Sits.

Untuk memastikan validitas klaimnya, Ki Santang mengatakan pihaknya akan melaporkan temuannya di Citeureup ke Dinas Budaya dan Pariwisata, Kabupaten Bogor.

"Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, dengan melibatkan ilmuwan lintas displin terkait. Semoga saja Bupati dan Kepala Disbudpar Kabupaten Bogor tanggap dan peduli," jelas  Ki Santang Salaka Domas.

Bogor disebut sebagai surga situs purba, ungkapnya, karena peradaban dunia lahir di sini. Yang paling dikenal tentu saja kawasan Gunung Salak dengan Situs Cibalaynya yang sudah diteliti para ilmuwan dunia, diperkirakan berusia lebih dari 5.000 tahun dan kawasan Ciaruteun yang memiliki Situs Prasasti Batutulis Taruma Negara dan Situs Gunung Karst.

"Gunung Salak dan Gunung Karst Ciampea menyimpan banyak sekali jejak peradaban purba Sunda baik yang sudah diteliti maupun belum," ujar alumnus Pesantren Daarul Rahman, Jakarta ini.

Namun di luar dua kawasan situs purba Sunda yang sudah populer, di seantero Bogor terdapat banyak sekali situs kuno yang berusia ribuan tahun. Umumnya jejak peninggalan kehidupan masa lalu tersebut belum diketahui publik.

"Setiap gunung yang berada di wilayah Kabupaten Bogor menyimpan situs purba. Dan ini tersebar nyaris secara merata di setiap kecamatan di Bogor," ungkap Ki Santang.

Konsep Papat Kalima Pancer

Nirwana Sang Hyang Domas Silih Wangi Ke 3 ( Maha Guru Rasi Ratu Sang Hyang Anwas Putra Maha Guru Rasi Ratu Sunda La Hyang Sang Hyang Syith Putra Maha Guru Rama Agung Watu Gunung Sang Hyang Hadama), Nabi Anwas As Bin Nabi Sis As Bin Nabi Adam As, Nabi Anwas As ( Nabi Unasy As ) adalah sebagai estafet Nubuwah ( Kenabian ) setelah Nabi Sis AS Bin Nabi Adam AS.

“Di di Fase Nabi Anwas AS adalah masa kemakmuran dunia , karena nya Nabi Anwas AS juga di kenal sebagai Dewa Kekayaan di penjuru Dunia, dan di fase ayah Beliau yaitu Maha Guru Rasi Ratu Sunda La Hyang Sang Hyang Syith AS adalah masa peperangan melawan pengikut Qobil yang telah membunuh Habil Dan Nabi Sis AS di perintahkan oleh Nabi Adam AS untuk menegakkan hukum terhadap Qobil ,” Ki Santang menuturkan.

Oleh karena itu, lanjutnya,  Nabi  Sis AS di kenal sebagai dewa perang di seluruh penjuru dunia , karena beliau yang melakukan peperangan pertama di dunia berperang dengan Qobil dan para pengikut Qobil.  Dalam Naskah Medang Kamulyan (Jagat Raya)  yang di Darmaraja Sumedang dituturkan oleh Mang Asep kabayan sebagai Berikut :

Karajaan Medang Larangan Anu Ngageularkeun Manusa Linuhung Turunan Tapel Adam Babu Hawa Jeneng Ratu Di Karajaan Medang Larangan Ngalakonan Darma Pancen Gawena Ti Allah Taala Jadi Ratu Ti Alam Medang Kamulyan…Hirupna Rundayan Ti Saidina Anwar Ngabogaan Turunan Ratu Di Karajaan Medang Larangan….Bagenda Syah Jeneng Ratu Di Karajaan Medang Larangan, Anu Karaton Na Di Cipta Ku Sayidina Sis As Di Cai Paku Satutasna Surutna Cai Sagara Ngeueum Alam Medang Kamulyan…Ari Di Sebut Cai Paku Ieu Mangrupa Pangeling Eling Ieu Tempat Anu Geus Orot Tina Cai Sagara Loba Tangkal Paku Ku Ayana Prahara Alam Medang Kamulyan Ka Keueum Ku Cai Sagara.”

Artinya : Kerajaan Medang Larangan yang mengeluarkan manusia luhur keturunan Nabi Adam dan Hawa jadi pengisi alam dunia melakukan darma dari Allah jadi Ratu/Raja di Alam Dunia. Hidupnya merupakan silsilah dari Saidina Anwar mempunyai keturunan Ratu (pemimpin) di kerajaan Medang Larangan. Raja Syah bersama ratu di Kerajaan Medang Larangan yang keratonnya diciptakan oleh Nabi Sis alahis salam di Cipaku sesudah surutnya air laut menenggelamkan alam Dunia, yang disebut Cipaku ini merupakan tempat peringatan yang sudah surut dari air lautan banyak pohon Paku.

Berdasarkan naskah Sewaka Darma Kabuyutan Ciburuy yang dibuat pada tahun 1405 Saka (1484 Masehi) dan mengacu kepada konsep  Papat Kalima Pancer maka di Tatar Sunda ada Lima Daerah Cipaku yang terdiri dari Satu Cipaku sebagai pusatnya/Pancer dan Empat Cipaku lainnya tersebar sesuai arah penjuru mata angin yaitu Cipaku Timur, Cipaku Barat, Cipaku Utara, dan Cipaku Selatan. Kata “Tji” (Ci) yang artinya CAHAYA di berbagai wilayah. Lima kualitas Cahaya tersebut sesungguhnya merupakan nilai waktu dalam hitungan  Wuku Lima di Bumi.

Dari naskah-naskah Sansekerta kuno Vastu Sastra, yang berpedoman pada keempat arah mata angin dan ditata menurut dua poros besar yang saling berpotongan di tengah-tengah sesuai dengan pola mancapat (kiblat papat lima pancer).

Berdasarkan Konsep Papat Kalima Pancer tersebut maka lokasi 5 Cipaku yang merupakan Mandala/Kabuyutan Tatar Sunda dengan masing-masing dihuni oleh hyang pelindung dunia adalah sebagai berikut:

~ Cipaku Timur (Purwa) Sumedang : Mandala Timur Sunda yang memiliki simbol warna PUTIH, dengan material perak tempat Hyang Iswara. Merupakan penanda pagi hari, namun sekaligus sebagai penanda awal peradaban manusia, jaman para leluhur bangsa, berlokasi di Situs Lemah Sagandu Cipaku Darmaraja Sumedang yang ditenggelamkan oleh Proyek Bendungan Jatigede.

~ Cipaku Barat (Pasima) Bogor : Mandala Barat Sunda yang memiliki simbol warna KUNING dengan material emas/bokor tempat tinggal Hyang Mahadewa, merupakan penanda senja hari (sore), tetapi juga sebagai penanda menurunnya masa kejayaan atau lunturnya jaman kemakmuran, berlokasi di Cipaku Prasasti Batutulis Bogor.

~ Cipaku Utara (Utara) Subang : Mandala Utara Sunda yang memiliki simbol warna HITAM dengan material besi/Tarum, tempat tinggal Hyang Wisnu. Merupakan penanda malam hari, yang juga menunjukan keruntuhan kejayaan manusia atau kehancuran peradaban manusia untuk menyelamatkan kehidupan mahluk-mahluk lain (non-manusia) di Bumi, berlokasi di Situs Eyang Taruma Jaya Cipaku Subang.

~ Cipaku Selatan (Daksina) Garut : Mandala Selatan Sunda yang memiliki simbol warna MERAH dengan material tembaga atau api/Braja, tempat tinggal Hyang Brahma. Merupakan penanda siang hari, namun juga sebagai penanda jaman beradab atau masa kejayaan (kemakmuran), berlokasi di Cipaku Garut Kabuyutan Ciburuy dan sekitarnya.

~ Cipaku Tengah (Madya) Bandung : Mandala Tengah Gunung Sunda Purba yang memiliki simbol SEGALA WARNA Cahaya di Pusat yang merupakan tempat tinggal tempat Hyang Siwa. adalah penanda penguasa waktu/era/jaman yang mengembalikan segala kehidupan di Bumi seperti pada mulanya, jaman sebelum manusia menguasai (merusak) planet Bumi, berlokasi berpencar di Rajamandala, Dago Pakar dan Gunung Puntang.

Komentar