Senin, 17 Januari 2022 | 14:47
OPINI

Angkot Jurusan Surga

Angkot Jurusan Surga
Ilustrasi Angkot (int)

Oleh: Mang Ucup *)

Hingga usia 80 tahun ini saya selalu naik Mercy dan hampir tidak pernah naik angkot ! Namun sekarang mau atau tidak sudah tiba saatnya, dimana saya harus ganti kendaraan, sebab tidak ada Mercy, mobil pribadi dengan tujuan Surga!

Angkot jurusan Surga itu pada umumnya penuh sesak dan sempit, bahkan tanpa AC! 80 persen kehidupan Mang Ucup itu bukannya bergelimang dalam lumpur dosa melainkan bergelimang dalam kenikmatan Sorga Dunia.

Hal inilah yang saya amini maupun akui. Namun anehnya selama 80 tahun ini saya tidak pernah merasa berdosa sedikitpun juga.

Mohon petromaknya dari mereka yang pernah merasakan dirinya berdosa itu seperti apa? Apakah sakit ataupun gatel?

Namun kalau saya jujur saya tidak pernah merasakan hal-hal seperti itu pada saat saya berbuat dosa, bahkan kebalikannya sangat menyenangkan. Saya memilih untuk menganut agama Nasrani, sebab Cheap and Easy!

Tidak perlu susah-susah mengumpulkan pahala segala macam; sebab semuanya udah diberikan secara gratisan dari sana atau dalam bahasa kerennya  Only by His Grace.

Dosa saya yang sudah ireng atau black sekali dan nempel erat seperti dilem Uhu sekalipun, sehingga jangankan di dry cleaning walaupun dibeset kulitnya  sekalipun juga; jangan harap bisa jadi putih bersih lagi.

Namun dimana saya masuk agama Nasrani semuanya ini dalam seketika akan bisa  di bilas habis menjadi putih bersih seperti salju.

Cara dry cleaning nya pun sangat murah mudah sekali,  hanya sekedar di percik dikit dengan air  sudah beres dan bersih, namun kalau Anda masih merasa kurang afdol; maka Anda masih di celup basah seperti teh.

Satu-satunya bayaran yang harus saya bayar ialah perpuluhann, sebab mana ada angkot gratisan, emangnya supirnya (Pastor), hanya makan dari angin dan debu saja.

Walapun mereka itu Hamba Tuhan sekalipun,  namun perut mereka juga harus di isi dan tidak bisa hanya di isi oleh ayat maupun pujian saja.

Mohon maaf kalau ada Duduluran yang merasa tersinggung oleh oret-oretan ambalelo si Ucup ini. Mohon petromaksnya, apabila coretan saya ngawur keblinger dan koreksiannya agar si Ucup bisa jalan balik ke jalan yang benar dan lurus kembali.

*) Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar