Sabtu, 27 November 2021 | 11:51
JAYA SUPRANA

Filsafat Kesetiaan Ceko

Filsafat Kesetiaan Ceko
Dok Jaya Suprana

(Demi mencegah perasaan terluka sebaiknya yang tidak suka anjing berhenti membaca naskah ini sampai di sini saja) Setelah sukses menulis buku berjudul  <i>The Art of Failing</i> maka doktor ilmu filsafat yang bermukim di London, Anthony McGowan lanjut menulis buku berjudul <i>How To Teach Philosophy to Your Dog</i>. 

Buku kaliber <i>best seller</i> itu berkisah pengalaman McGowan mengajarkan filsafat Platon, Aristoteles, Kant, Schopenhauer dan lain-lain kepada anjing bernama Monty. 

Saya tidak bisa bertanya kepada Monty mengenai apakah dia mengerti apa yang diajarkan oleh McGowan kepada anjing bermarga Maltese Terrier itu akibat saya tidak mengerti bahasa Monty. Namun kebetulan Ibu Ayla punya seekor anjing bernama Ceko. 

Nah dari Ceko inilah saya bisa banyak belajar tentang apa yang disebut sebagai filsafat. Terutama filsafat kesetiaan. 

Mongrel

Mohon dimaafkan bahwa saya tidak tahu jenis ras Ceko yang diselamatkan oleh Ibu Ayla dari para penggemar makan anjing sama sekali tidak punya sertifikat ras. Banyak yang bilang bahwa Ceko adalah mongrel yang lazim berkeliaran di jalan. 

Justru karena Ceko anjing yang lazim berkeliaran di jalan maka Ceko lebih dekat ke kenyataan kehidupan ketimbang anjing-anjing bersertifikat ras yang hidup terkurung di dalam rumah kelas elit. Dari Ceko yang hidup di Jakarta saya dapat lebih belajar filsafat kehidupan ketimbang dari Monty yang hidup di London.

Pelajaran

Cukup banyak saya bisa belajar filsafat dari Ceko ketimbang Monty atau Platon yang saya tidak pernah jumpa secara ragawi. Misalnya saya belajar dari Ceko bahwa pada hakikatnya manusia membutuhkan rasa dibutuhkan. 

Saya belajar filsafat kasih-sayang dari Ceko tentang bagaimana Ceko senantiasa sedih apabila Ibu Ayla akan pergi meninggalkan Ceko di rumah untuk melakukan kegiatan di luar rumah. 

Dan saya belajar filsafat kasih-sayang dari Ceko yang meloncat-loncat sebagai ungkapan rasa riang-gembira menyambut kedatangan Ibu Ayla kembali ke rumah. Dan saya juga mengamati sikap Ibu Ayla yang senantiasa merasa bahagia bahwa kedatangannya niscaya disambut oleh Ceko secara luar biasa riang-gembira pertanda kebahagiaan meluap-luap. 

Pada saat itu Ceko memberikan sesuatu hadiah tak ternilai berharganya kepada Ibu Ayla yaitu perasaan bahagia seorang insan manusia pada saat merasa dirinya berguna akibat ternyata dibutuhkan. 

Betapa berat derita batin seorang insan manusia yang merasa tidak berguna hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah merasa tidak ada yang membutuhkan. 

Komunikasi

Dari Ceko pula saya belajar filsafat komunikasi. Pada saat Ceko sadar bahwa dirinya membutuhkan komunikasi dengan manusia maka alat yang digunakan oleh Ceko untuk memancing komunikasi dengan manusia adalah bola. 

Ceko memang memiliki perbendaharaan cukup banyak bola baik yang terbuat dari karet mau pun plastik. Bahkan terkadang Ceko saking bersemangatnya mampu menggondol bola sampai sekaligus empat bola. 

Terhadap manusia termasuk saya yang ingin diajak main bola, Ceko sengaja melemparkan bola dengan moncongnya ke arah sang manusia agar dilempar atau ditendang oleh sang manusia agar bisa dikejar oleh Ceko. 

Bahkan jika saya melempar bola terlalu dekat, demi memperlama waktu komunikasi Ceko bisa berpura-pura tidak tahu dengan berputar-putar ke sana ke mari demi menimbulkan kesan bahwa dirinya tidak tahu di mana bola berada padahal pasti tahu sebab bola berada di depan mata Ceko. 

Apabila bola kecemplung ke kolam atau menggelinding ke bawah lemari maka Ceko sibuk menyalak-nyalak menuntut bola itu diambil oleh manusia.

Kesetiaan

Sementara manusia termasuk Sokrates, Schopenhauer, Sartre sibuk berfilsafat dengan kata-kata maka Ceko  berfilsafat dengan sikap dan perilaku nyata. Ceko memberikan pelajaran kepada saya tentang apa yang disebut kesetiaan tanpa pamrih jabatan atau harta benda apa pun kecuali pamrih untuk mempersembahkan kesetiaan kepada manusia yang setia terhadap dirinya. 

Kesetiaan Ceko agak beda dari kesetiaan para relawan yang tergabung pada tim sukses para capres dan caleg. Saya banyak belajar filsafat kesetiaan dari sikap dan perilaku kesetiaan Ceko kepada Ibu Ayla. 

Meski saya memberi pungli berupa makanan terlezat kepada Ceko memang Ceko mau menerimanya namun kesetiaan Ceko tetap lebih kepada Ibu Ayla ketimbang saya. 
Maka saya mahfum tentang kenapa di bagian akhir kisah Mahabharata mahluk yang dipilih para Dewa untuk setia mendampingi Yudhistira sampai di pintu gerbang Swargaloka adalah seekor anjing. 

Ketika Dewa Indra mempersilakan Yudhistira secara ragawi masuk ke dalam kawasan Swargaloka, sang putra sulung Pandawa mengajak sang anjing yang setia mendampingi ikut masuk ke Swargaloka. 

Ketika Dewa Indra menolak sang anjing ikut masuk ke Swargaloka maka Yudhistira menolak untuk masuk ke Swargaloka. Yudhistira tidak tega meninggalkan sang anjing yang sudah begitu setia mendampingi Yudhistira sampai ke pintu gerbang Swargaloka. 

Setelah Yudhistira membuktikan kesetiaan terhadap anjing yang setia terhadap Yudhistira, maka mendadak sang anjing menjelma menjadi Dewa Dharma sebagai dewa pelindung serta ayahnda Yudhistira. <i>I learn a lot about philosophy from my dog! Terima Kasih, Ceko!</i>

Komentar