Minggu, 07 Juni 2026 | 23:22

Buku Kecil Merah Mao Zedong

Buku Kecil Merah Mao Zedong
Buku Merah Mao Zedong (Dok Jaya Suprana)

Pada hakikatnya buku tidak bisa berdosa. Yang bisa berdosa adalah manusia yang menafsirkan buku secara keliru kemudian mewujudkan tafsir menjadi sikap dan perilaku yang serta merta keliru juga. 

Misalnya Il Principo yang ditulis oleh Nicolo Machiavelli, Das Kapital  yang ditulis oleh Karl Marx, Mein Kampf tulisan Adolf Hitler, Darwin’s Black Box oleh Michael Behe, The Protocol of the Elder of Zion oleh entah siapa, The Pivot of Civilization oleh Margaret Sanger dan lain-lain. Buku Coming of Age in Samoa tulisan Margaret Mea merusak citra susila masyarakat Samoa. 

Pribadi

Namun bagi saya pribadi, buku yang paling keliru ditafsirkan dan diejawantahkan sehingga menyengsarakan bahkan membinasakan tak terhitung insan manusia adalah Buku Merah Kecil yang memuat ujar-ujar Mao Zedong. 

Pendapat saya memang sepenuhnya bersifat subyektif karena buku kecil berwarna merah itu telah terbukti menyengsarakan saudara sepupu saya yang seorang pianis berbakat yang diharapkan akan menjadi pianis kelas dunia. 

Harapan saudara sepupu yang tidak akan saya sebut namanya demi keselamatan dirinya, telah kandas di tengah jalan akibat perlakuan biadab oleh laskar Pengawal Merah berpedoman kepada isi Buku Merah Kecil yang memuat ujar-ujar Mao Zedong pada masa prahara Revolusi Kebudayaan melanda Republik Rakyat China. Buku merah kecil legendaris itu sempat menjadi Kitab Suci bagi para fans harga mati Mao Zedong. 

Dosa

Menurut keyakinan dogmatis laksar Pengawal Merah yang berada di gugus terdepan kemelut Revolusi Kebudayaan Republik Rakyat China, saudara sepupu saya memang “berdosa” mempergelar lagu-lagu ciptaan Bach, Beethoven, Brahms sebagai citra borjuisme yang wajib dibasmi habis. 

Maka saudara sepupu saya terpaksa harus tidak ikhlas kedua telapak tangannya dihancurleburkan dengan popor senapan laskar Pengawal Merah. Dalam kondisi lahir-batin remuk-redam saudara sepupu saya mengungsikan dirinya lewat bagasi bus dari daratan China ke Hongkong meski kini nasibnya juga masih belum menentu akibat perlakuan represif pemerintah Republik Rakyat China. 

Ironi

Kedua belah telapak tangan dilumpuhkan jelas merupakan derita lahir-batin cukup parah bagi siapa pun juga. Namun malah merupakan derita lahir batin sangat dahsyat bagi seorang pianis berbakat yang diharapkan akan menjadi pianis kelas dunia kebanggaan Republik Rakyat China. 

Sungguh ironis bahwa yang menghancurkan kedua belah telapak tangan saudara sepupu yang notabene pindah dari Indonesia ke China  untuk menjadi warga RRChina malah ternyata sesama warga China. 

Insya Allah, derita dahsyat seperti yang dialami saudara sepupu saya tidak akan terulang lagi karena manusia makin bijak maka makin beradab untuk tidak mudah disesatkan oleh tafsir sesat terhadap buku-buku yang ditafsirkan secara sesat oleh manusia. 

Komentar