Rabu, 17 Juni 2026 | 21:05
OPINI

Mengungkap Peristiwa di Sekitar Lengsernya Presiden Soeharto

Mengungkap Peristiwa di Sekitar Lengsernya Presiden Soeharto
Presiden Soeharto. (Dok. Kompas)

HARI Kamis tanggal 21 Mei tahun 1998 (23 tahun yang lalu) merupakan tanggal yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan kenegaraan Indonesia, di mana pada tanggal itu Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun (sejak 1967) menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden kedu Republik Indonesia (istilahnya adalah lengser kaprabon).

Tulisan ini mencoba untuk mengungkapkan beberapa pristiwa yang terjadi di sekitar lengser kaprabonnya Presiden Soeharto tersebut. 

Adapun fakta yang dikemukakan sebagiannya berdasarkan informasiyang secara langsung penulis terima dari pelaku yang terlibat langsung di dalam peristiwa yang bersangkutan dan sebagian lainnya berdasarkan informasi dari tangan/pihak kedua (yaitu dari pihak yang mengetahui peristiwa yang bersangkutan dan dari pelaku terkait).

Berdasarkan pengetahuan penulis, peristiwa lengser kaprabon Presiden Soeharto didahului oleh beberapa peristiwa atau kegiatan (kejadian) yang dilakukan oleh beberapa komponen bangsa, namun demikian penulis tidak menyimpulkan bahwa beberapa kejadian tersebut mempunyai keterkaitan atau tidak terkait satu dengan lainnya karena penulis tidak memiliki data untuk menyimpulkannya.

Adapun, peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar lengser kaprabonnya Presiden Soeharto adalah sebagai berikut:

1. Situasi politik di dalam negeri.

Beberapa waktu sebelum peristiwa lengser kaprabon, sebagaimna diketahui bersama situasi politik dalam negeri sedang bergolak, sebagai dampak dari krisis moneter (di mana kurs Rupiah mencapai lebih dari Rp 15 ribu per USD) dan kemudian terjadi eskalasi situasi politik dalam negeri menyusul tewasnya beberapa mahasiswa Universitas Trisakti di akhir bulan April/awal bulan Mei 1998. 

Sementara itu Presiden Soeharto sedang berada di Mesir. Di Ibu Kota Jakarta dan berbagai kota besar lainnya di Tanah Air terjadi gelombang demonstrasi mahasiswa yang semakin meluas dan mulai juga diikuti oleh komponen-komponen masyarakat lainnya.

2. Pertemuan Panglima ABRI dengan para purek III.

Di tengah semakin maraknya kegiatan demonstrasi para mahasiswa, pada tanggal 9 Mei 1998 Jenderal Wiranto selaku Panglima ABRI pada waktu itu mengundang seluruh purek (pembantu rektor) III bidang kemahasiswaan dari semua perguruan tinggi yang ada di Jakarta untuk mengadakan pertemuan di salah gedung di area Kemayoran.

Pertemuan tersebut dibuka oleh Jenderal Wiranto yang secara singkat menjelaskan bahwa maksud beliau mengundang para purek III adalah untuk mengetahui/menanyakan "Apakah yang dimaksudkan/diinginkan oleh para mahasiswa dengan Reformasi?"

Setelah itu satu persatu para purek III maju ke podium untuk menjelaskan maksud dan keinginan para mahasiswa dengan Reformasi tetapi semua penjelasan bersifat mengambang tidak to the point.

Baru pada giliran ke tujuh berbicara purek II dari Universitas Nasional yang dijabat oleh Sdr. Umar Said, yang kebetulan penulis kenal karena sempat bersama-sama ditahan di kampus kuning (pada waktu itu Sdr. Umar Said menjabat sebagai ketua umum Dewan Mahasiswa Unnas). Sdr. Umar Said langsung mengatakan sebagi berikut "Untuk menjawab pertanyaan Jenderal Wiranto maka bersama ini saya sampaikan bahwa yang diinginkan oleh para mahasiswa dengan Reformasi adalah turunnya Presiden Soeharto!!"

Setelah mendengar pernyataan Sdr. Umar Said maka para purek II yang sebelumnya sudah berbicara berebut ingin mendapat kesempatan berbicara lagi, di mana kemudian mereka satu persatu membenarkan pernyataan Sdr. Umar Said.

Setelah semuanya berbicara, akhirnya Jenderal Wiranto naik ke podium untuk menutup dan sekaligus memberikan closing statement, di mana beliau mengatakan sebagai berikut "Kalau itu yang dikehendaki oleh para mahasiswa (turunnya Presiden Soeharto) maka berikan kami (ABRI) waktu dua minggu untuk menyelesaikannya secara baik".

Tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto lengser kaprabon yang artinya 13 hari setelah Jenderal Wiranto bertemu dengan para purek III se-Jakarta (lebih cepat satu hari dari 14 hari yang dijanjikan).

Apakah pertemuan Panglima ABRI dengan para purek III di atas yang menjadi sebab lengsernya Presiden Soeharto? Penulis tidak menyimpulkan demikian, silahkan pembaca yang menafsirkan sendiri karena di samping itu masih ada beberapa kejadian lainnya yang berkaitan dengan lengser kaprabon Presiden Soeharto.

3. Rapat para menteri bidang ekuin.

Pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1998 diadakan rapat/pertemuan di kantor Menko Ekuin (yang pada saat itu dijabat oleh Prof. DR. Ir. Ginandjar Kartasasmita).

Pertemuan tersebut dihadiri oleh 14 orang menteri bidang ekuin. Ada dua orang menteri yang tidak hadir yaitu Menteri Agraria/Kepala BPN dan Menteri Perdagangan (yang saat itu sedang berada di Jepang untuk berobat). Pada waktu itu sudah tersebar bahwa Presiden Soeharto berniat untuk membentuk Kabinet Reformasi.

Setelah membuka pertemuan, Menko Ekuin mengatakan sebagai berikut (kurang lebih): "Sehubungan dengan maksud presiden untuk membentuk Kabinet Reformasi maka saya pribadi berpendapat pembentukan kabinet baru tersebut tetap tidak akan mampu mengatasi krisis yang sedang berlangsung kini, karena masalahnya justru terletak pada krisis kepercayaan terhadap presiden sendiri. Oleh karenanya, saya pribadi berpendapat untuk tidak bersedia duduk di dalam Kabinet Reformasi termaksud apabila diminta oleh presiden. Namun jika saya menolak setelah diminta oleh presiden kurang elok, maka saya bermaksud (sebelum diminta) untuk menulis surat kepada presiden guna memberitahukan ketidaksediaan saya untuk duduk dalam Kabinet Reformasi termaksud. Dan saya mengundang saudara menteri hari ini untuk menyampaikan maksud saya di atas serta mungkin ada di antara para menteri yang sependapat dengan saya dan juga tidak bersedia duduk di Kabinet Reformasi itu maka mungkin ada baiknya jika kita secara bersama-sama menuliskan surat kepada presiden. Untuk itu, saya tunda pertemuan ini agar saudara-saudara memikirkan dan mempertimbangkan padangan saya termaksud."

Singkatnya seluruh menteri yang hadir (14 orang) sepakat untuk secara bersama-sama menandatangani surat kepada Presiden Soeharto tentang ketidaksediaan untuk duduk di dalam Kabinet Reformasi apabila diminta/ditunjuk oleh Pak Harto. Surat termaksud segera dikirimkan ke Cendana (kediaman Pak Harto) dan menurut infonya pada sekitar jam 17.00 surat tersebut sudah diterima dan dibaca oleh Pak Harto.

Perlu kiranya dijelaskan di sini bahwa surat yang dikirimkan oleh ke-14 menteri bidang ekuin bukan surat pengunduran diri dari jabatan menteri yang sedang mereka jabat saat itu melainkan ketidaksediaan untuk duduk di dalam Kabinet Reformasi yang akan dibentuk oleh Presiden Soeharto.

4. Pertemuan di Patra Jasa (kediaman Pak Habibie).

Setelah membaca surat dari ke-14 menteri tersebut presiden memerintahkan ajudannya untuk meminta Pak Habibie (wapres saat itu) untuk datang ke Cendana jam 18.00.

Pertemuan antara Pak Harto dan Pak Habibie di Cendana tidak berlangsung lama, sekitar jam 19.00 Pak Habibie sudah kembali ke rumah kediamannya di Kawasan Patra Jasa. Di dalam perjalanan pulang Pak Habibie memerintahkan ajudannya untuk mengundang ke-14 menteri ekuin (yang menulis surat ke Pak Harto) untuk berkumpul di rumah beliau malam itu juga (masih hari Rabu tanggal 20 Mei 1998).

Pada sekitar jam 20.30, ke-14 menteri telah hadir di kediaman Pak Habibie di Kawasan Patra Jasa, Kuningan. Pertemuan langsung dibuka dan Pak Habibie menyampaikan isi pembicaran antara beliau dengan Pak Harto di Cendana pada jam 18.00 tadi, sebagai berikut: "Bahwa pada besok hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 Pak Harto akan mengumumkan susunan Kabinet Reformasi lalu pada hari Jumat tanggal 22 Mei 1998 Pak Harto akan melantik Kabinet Reformasi dan pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998 Pak Harto akan mengundurkan diri sebagai presiden, silahkan Pak Habibie melanjutkan."

Mendengar penjelasan Pak Habibie tersebut, ke-14 menteri tetap pada pendapat mereka untuk tidak bersedia duduk di dalam Kabinet Reformasi jika kabinet itu dilantik oleh Presiden Soeharto, mereka hanya bersedia duduk jika Kabinet Reformasi dilantik oleh Pak Habibie sebagai presiden. Untuk itu, ke-14 menteri meminta kepada Pak Habibie menyampaikan hal ini kepada Pak Harto melalui Bapak Saadilah Mursid (Seskab pada saat itu).

Kemudian sekitar jam 21.30 Pak Habibie masuk ke dalam untuk menelpon Saadilah Mursid namun tidak lama kemudian Pak Habibie sudah keluar kembali dan menyampaikan pembicaraannya dengan Saadilah Mursid, sebagai berikut: "Saudara-saudara saya tadi sudah bicara dengan Saudara Saadilah Mursid tetapi sebelum saya sampaikan saudara-saudara langsung dipotong oleh Saadilah Mursid yang mengatakan Pak Habibie menurut Pak Harto semuanya terserah Pak habibie karena besok Pak Harto akan lengser kaprabon".

Mendengar penjelasan Pak Habibie para menteri yang hadir bernafas lega meskipun di dalam hati ada keheranan atas terjadinya perubahan sikap Pak Harto, di mana pada jam 18.00 kepada Pak Habibie mengatakan akan mundur pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998 tetapi kini (tiga jam kemudian) memutuskan akan mundur besok hari Kamis tanggal 21 Mei1998.

Sampai sekarang perubahan sikap Pak Harto di atas masih misteri bagi penulis meskipun ada informasi yang penulis terima (tapi tidak bisa dikonfirmasikan) bahwa setelah Pak Habibie meninggalkan Cendana masuk Jenderal Wiranto menghadap Presiden Soeharto tetapi isi pembicaraan antara keduanya tidak penulis ketahui.

Selain kejadian-kejadian yang telah diuraikan di atas sebenarnya masih ada lagi beberapa kejadian atau kegiatan lainnya namun menurut penulis kurang signifikan terhadap peristiwa lengser kaprabonnya Presiden Soeharto.

Akhirnya penulis mohon maaf jika dalam penulisan di atas terdapat kekeliruan detail tempat dan waktu, mengingat peristiwa yang bersangkutan telah cukup lama terjadinya sehingga ada beberapa catatan penulis yang tercecer.

Jakarta, 22 Mei 2021

Muchyar Yara
(Mantan Wakil Sekjen DPP Partai Golkar)

Komentar