Minggu, 18 April 2021 | 11:53
JAYA SUPRANA

Serendipiti Penemuan Phosphorus

Serendipiti Penemuan Phosphorus
Phosphorus (Dok Jaya Suprana/Net)

Serendipiti merupakan satu di antara sekian banyak obyek telaah kelirumologi. Namun serendipiti memiliki sifat khusus tersendiri yaitu kekeliruan yang  tanpa disengaja menimbulkan hikmah. 

Di bidang sains, serendipiti kerap kali cukup berperan dalam penemuan-penemuan yang bermakna bagi pengembangan teknologi pertanian, peternakan, medis, vaksin, astronomi, fisika dan kimia.  

Di bidang sains kimia, serendipiti berperan utama dalam proses penemuan sebuah elemen yang kemudian disebut sebagai phosphorus.

Kimia

Pada Abad Pertengahan para saintis Eropa mengembangkan Alkimia yang berasal dari peradaban Islam sebagai landasan tinggal landas bagi ilmu kimia. Seorang perwira angkatan bersenjata Jerman yang hobi bereksperimen fisika, Henning Brand ikut dalam arus semangat menciptakan emas dari apa yang disebut sebagai philosopher’s stone yang juga asyik diburu oleh Isaac Newton.  

Pada sekitar tahun 1660, Brand mulai menyelenggarakan eksperimen pribadi untuk membuat emas. Terinspirasi dari warna sama-sama kuning antara emas dengan air kencing maka Brand meyakini bahwa air kencing dalam jumlah besar apabila disimpan dalam waktu cukup lama akan dengan sendirinya berubah menjadi bahan dasar untuk membuat emas. 

Setelah konon berhasil menghimpun 60 ember air kencing dirinya sendiri mau pun segenap sanak keluarga dan handai taulannya lalu disimpan sampai sebulan penuh maka terbukti bahwa Hennig Brand total keliru! 

Phosphorus

Konon menurut kata para sejarawan sains yang muncul dari 60 ember air kencing itu alih-alih emas ternyata suatu cairan kental yang mampu mengeluarkan sinar dari dirinya sendiri di lingkungan justru gelap gulita. 

Elemen ajaib itu kemudian disebut sebagai phosphorus bermakna “pembawa cahaya” yang di dalam ilmu kimia ditampilkan dengan simbol P dan nomor atomik 15. Sebenarnya Hennig Brand merahasiakan hasil eksperimen keliru dirinya.  

Namun secara terpisah sama sekali tidak terkait dengan eksperimen Hennig Brand, pada tahun 1680 sang mahakimiawan Inggris, Robert Boyle juga kebetulan berhasil menemukan elemen yang mampu mandiri bersinar di kegelapan. 

Akibat pada abad XVII, para saintis Inggris memang lebih popular ketimbang Jerman yang lebih beken di bidang seni musik, maka yang tercatat di dalam lembaran sejarah dunia ilmu kimia bukan nama Hennig Brand tetapi Robert Boyle. 

Mirip nama Thomas Alfa Edison yang warga Amerika Serikat lebih popular ketimbang Nikola Tesla yang warga Kroasia.

Manfaat

Serendipiti Brandt terbukti benar-benar membawa hikmah bagi peradaban umat manusia sebab ternyata manfaat phosphorus tidak kalah ketimbang emas. 

Phosphate dibutuhkan tubuh manusia untuk memproduksi dan menatalaksana enerji sementara phosphorus merupakan mineral yang secara kuantitas hanya diungguli kalsium dan secara kualitas berperan sangat penting dalam menja keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh manusia. 

Phosphate juga merupakan komponend yang menghubungkan struktur DNA dengan RNA. Dengan begitu banyak manfaat maka dapat diyakini bahwa pada hakikatnya phosphorus memang lebih berharga ketimbang emas bagi kesehatan dan kebugaran tubuh manusia.    

Komentar