Senin, 14 Juni 2021 | 13:15
TRAVELLING

Cedera dan Kedinginan, Seorang Pendaki Malah Ditinggal Sendiri di Gunung Lawu

Cedera dan Kedinginan, Seorang Pendaki Malah Ditinggal Sendiri di Gunung Lawu
Pendaki Lawu (Sumber foto tertera)

ASKARA - Pendakian gunung tidak melulu berbicara puncak semata, tapi memupuk kebersamaan dan kekompakan. Sehingga tercipta tanggung jawab antarpara pendaki dan tidak meninggalkan teman dalam kondisi apapun.

Jangan seperti yang dilakukan para kelompok pendaki asal Magelang, Jawa Tengah ketika mendaki Gunung Lawu. Mereka tanpa alasan yang jelas meninggalkan temannya dalam kondisi cedera.

Salah satu akun Instagram @jejak_pendaki menyampaikan kronologi seorang pendaki yang ditinggalkan teman-temannya. Kondisinya mengkhawatirkan, bertahan di tengah dinginnya hujan tanpa jas hujan.

"Sekitar jam 7 malam di bawah pos 2 via Cemoro Sewu, suasana sudah gelap, gerimis juga tak berhenti. Menggigil kedinginan dan basah kuyup tanpa jas hujan," tutur akun Instagram tersebut, Senin (22/3).

Kelompok pendakian yang bareng dengannya berjumlah delapan orang, namun tujuh orang lainnya malah meninggalkannya seorang diri. Beruntungnya dia bertemu pendaki lain dan diberi keselamatan.

"Kenapa mas?" tanya seseorang. Korban: "kaki saya cidera pak, saya ditinggal rombongan" (dengan wajah meringis)," nadanya lirih.

"Tadi naik berapa orang mas, rombongan dari mana?" tanya kembali. Korban: "kami berangkat 8 orang, dari magelang pak," jawabnya. "Masih kuat jalan mas?" Korban : "masih pak, tadi saya berhenti karena gak ada penerangan," timpalnya.

Dia pun menahan sakit berjalan secara perlahan untuk menuju basecamp. "Kalau begitu bergabung dengan kami saja mas, kita jalan pelan pelan"
Korban : "iya pak..." ucapnya.

Perjalanan penuh perjuangan akhirnya mereka bisa sampai di basecamp dengan selamat. Setibanya di basecamp, para pendaki yang telah menolongnya itu sempat membantu mencarikan rombongan korban.

"Itu rombongan saya pak!!", kata dia sambil menunjuk beberapa anak muda yang sedang asyik menikmati nasi goreng, ngopi, udad-udud sambil tertawa-tawa. "Saya paham, sambil ngelus dodo ndoro," tandasnya.

Komentar