Rabu, 22 Juli 2026 | 03:47
NEWS

Investigasi Awal KNKT, Detik-detik Jatuhnya Sriwijaya Air SJ182

Investigasi Awal KNKT, Detik-detik Jatuhnya Sriwijaya Air SJ182
Ilustrasi. (Dok. Sindonews)

ASKARA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi merilis preliminary report jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 di Perairan Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. 

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan Kapten Nurcahyo Utomo mengatakan, laporan awal KNKT memuat data faktual yang sudah dikumpulkan dalam 30 hari.

KNKT membentuk tim investigasi dan membagi tugas untuk mengumpulkan data ke pihak terkait seperti Sriwijaya Air, Perum LPPNPI dan Ditjen Perhubungan Udara sejak menerima informasi pesawat jatuh.

"Pengumpulan data dan pemeriksaan puing pesawat," kata Kapten Nurcahyo dalam keterangan pers, Rabu (10/2).

Kapten Nurcahyo menerangkan, KNKT juga menganalis Crash Survivable Memory Unit (CSMU) dari Flight Data Recorder (FDR) yang ditemukan oleh Tim SAR Gabungan. Hasilnya, diperoleh data sebanyak 370 parameter selama 27 jam, terdiri dari 18 penerbangan termasuk yang mengalami kecelakaan.

Berdasarkan laporan yang diterima, Kapten Nurcahyo membeberkan kronologi detail. Pesawat jenis Boeing 737-500 berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta dengan tujuan Bandara Internasional Supadio, Pontianak pada 9 Januari 2021 pukul 14.36 WIB. Saat itu, pesawat mengikuti jalur keberangkatan yang sudah ditentukan sebelumnya (ABASA 2D).

Data FDR merekam sistem autopilot aktif (engage) di ketinggian 1980 kaki. Pada saat melewati ketinggian 8150 kaki, tuas pengatur tenaga mesin (throttle) sebelah kiri bergerak mundur (tenaga berkurang).

Pada pukul 14.38.51 WIB karena kondisi cuaca, pilot meminta kepada pengatur lalu lintas udara (ATC) untuk berbelok ke arah 075 derajat dan diizinkan.

"ATC memperkirakan perubahan arah tersebut akan membuat SJY182 berpapasan dengan pesawat lain yang berangkat dari Landas Pacu 25L dengan tujuan yang sama. Oleh karenanya ATC meminta pilot untuk berhenti naik di ketinggian 11 ribu kaki," ujar Kapten Nurcahyo.

Dia menjelaskan, pukul 14.39.47 WIB, ketika melewati 10.600 kaki dengan arah pesawat berada di 046 derajat, pesawat mulai berbelok ke kiri. Tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri kembali bergerak mundur sedangkan yang kanan masih tetap.

"ATC memberi instruksi untuk naik ke ketinggian 13 ribu kaki dan dijawab oleh pilot pukul 14.39.59 WIB. Ini adalah komunikasi terakhir dari SJY182," kata Kapten Nurcahyo.

Pukul 14.40.05 WIB, FDR merekam ketinggian tertinggi yaitu 10.900 kaki. Selanjutnya pesawat mulai turun, autopilot tidak aktif (disengage) ketika arah pesawat di 016 derajat, sikap pesawat pada posisi naik (pitch up) dan pesawat miring ke kiri (roll).

"Tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri kembali berkurang sedangkan yang kanan tetap," ujar Kapten Nurcahyo.

Pukul 14.40.10 WIB, FDR mencatat autothrottle tidak aktif (disengage) dan sikap pesawat menunduk (pitch down). 

"Sekitar 20 detik kemudian FDR berhenti merekam data," kata Kapten Nurcahyo.

Kapten Nurcahyo menjelaskan, KNKT dalam menyusun laporan awal menggandeng National Transportation Safety Board (NTSB) yang dibantu oleh Federal Aviation Administration (FAA), Boeing dan General Electric.

Dalam investigasi ini KNKT juga menerima bantuan dari Transport Safety Investigation Bureau (TSIB) II Singapura. Adapun tujuan KNKT melakukan investigasi untuk mencegah kecelakaan serupa terulang kembali.

"Hasil investigasi KNKT tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti dalam proses peradilan," demikian Kapten Nurcahyo.

Komentar