Selasa, 19 Januari 2021 | 15:48
NEWS

Ini Imbauan KNKT dan Maskapai Sriwijaya Air untuk Keluarga Penumpang dan Awak SJ-182

Ini Imbauan KNKT dan Maskapai Sriwijaya Air untuk Keluarga Penumpang dan Awak SJ-182
Pertemuan KNKT, maskapai Sriwijaya Air dengan keluarga korban (Dok Sriwijaya Air)

ASKARA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama pihak maskapai Sriwijaya Air telah menemui keluarga penumpang dan awak pesawat SJ-182, Selasa (13/1).

Pertemuan itu untuk menginformasikan perkembangan proses investigasi, penyebab terjadinya musibah kecelakaan pesawat SJ-182.
 
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono meminta keluarga penumpang dan awak SJ-182, untuk tidak begitu saja mempercayai analisa yang beredar di media sosial.
 
"Data-data yang beredar (luas di medsos) harus divalidasi, harus dicek sumber dan kebenarannya. Data yang beredar belum lah divalidasi. KNKT hanya memberikan pernyataan berdasarkan hasil pemeriksaan black box," ujar Soerjanto dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (14/2).

Soerjanto mencontohkan, soal kecepatan pesawat dalam 1 detik berubah menjadi 50 knot. Hal ini tidaklah benar. "Bahkan mobil balap saja tidak secepat itu," tuturnya.

Soerjanto mengimbau agar spekulasi-spekulasi semacam itu tidak perlu disebarluaskan. "Karena tidak benar,” ucapnya.

Ketua Sub Komite IK Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo menegaskan, pihaknya akan membuat laporan yang detail dan menyeluruh, setelah proses investigasi selesai dilakukan.

"Kami akan menghadirkan laporan awal investigasi dalam waktu 30 hari," tutur Nurcahyo. 

KNKT punya kewajiban sesuai dengan ketentuan internasional, untuk memberi laporan awal kepada publik selambat-lambatnya 30 hari, sejak kecelakaan terjadi. 

"Namun dalam 30 hari itu, mungkin belum termasuk analisa KNKT, karena butuh waktu mengungkap penyebabnya seperti apa, masalahnya dimana, atau pemeliharaannya bagaimana, semua pasti akan diungkapkan,” cetus Nurcahyo.

Tim Gabungan telah berhasil menemukan Kotak Hitam (Black Box) berupa Flight Data Recorder (FDR)  pesawat SJ-182, pada Selasa (12/1) di sekitar Perairan Kepulauan Seribu.

Komentar