Analis Keamanan: Waspadai Kelompok Teroris Anti Calon Kapolri yang Beragama Katolik
ASKARA - Presiden Jokowi sudah memilih Komjen Listyo Sigit Prabowo sebagai calon Kapolri. Jika lancar, maka Sigit akan menjadi Kapolri pertama di era reformasi yang beragama Katolik.
Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo disebut secara integritas dan loyalitas telah teruji dan sosok kuat menggantikan Jenderal Pol Idham Azis yang akan pensiun dari jabatannya sebagai Kapolri pada Februari 2021 nanti.
"Pilihan Presiden sudah tepat karena berdasarkan faktor loyalitas dan profesionalisme," ujar Direktur The Indonesia Intelligence Institute, Ridlwan Habib, Selasa (12/1) .
Komjen Sigit pernah menjabat sebagai ajudan Jokowi dan juga sebagai Kapolres Solo saat Jokowi menjadi Wali Kota tahun 2011 silam.
"Presiden perlu figur Kapolri yang terbiasa berkoordinasi dan sudah faham karakternya," kata Ridlwan.
Sigit juga pernah menjadi Kapolda Banten. Ridlwan menilai sosok Sigit paham bermacam-macam organisasi masyarakat. Memiliki rekam jejak yang sangat bagus dan sangat baik.
Selain itu, dia pernah menjadi pembicara dalam Kursus Ketahanan Nasional DPP PKS pada bulan Februari tahun lalu. "Hubungan LSP dengan tokoh tokoh umat Islam berjalan harmonis," cetus Ridlwan.
Meski begitu, analis keamanan ini mengingatkan potensi kelompok teroris yang tidak suka dengan calon Kapolri beragama Katolik.
"Bagi kelompok seperti JAD atau MIT, polisi halal diserang, apalagi polisi yang dipimpin seorang Katolik, tambah membuat mereka marah," nilainya.
Maka itu, Ridlwan berharap Polda di seluruh Indonesia meningkatkan kewaspadaan. Terutama saat situasi fit and proper test calon Kapolri baru.
"Densus 88 harus siaga satu terutama di polres-polres daerah yang jauh dari Jakarta," tandasnya.
Listyo Sigit merupakan pria kelahiran Ambon, Maluku, 5 Mei 1969 dan menjadi perwira jebolan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991. Selama ini, Sigit dikenal dekat dengan Presiden Jokowi. Kedekatan itu diperkuat saat dia bertugas sebagai ajudan Presiden pada 2014-2016.
Kedekatan Sigit dan Jokowi terbangun dalam peristiwa yang mengguncang Solo pada September 2011, yakni bom bunuh diri di halaman Gereja Bethel Injil Sepenuh, Kepunton. Bom itu meledak hanya berselang lima bulan setelah Sigit dilantik menjadi Kapolres Solo.

Komentar