Focus Group Discussion: Mencari Nilai yang Masih Dipertahankan Antara 4 Suku di Kerajaan Bikomi
ASKARA - Dinamika pembangunan masyarakat saat ini menjadi perhatian berbagai pihak yang peduli terhadap martabat dan kepentingan banyak orang. Hal itu menunjukkan telah terjadi perubahan pola dan perilaku kehidupan bermasyarakat.
Perubahan itu telah disadari sebagai sesuatu yang menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia. Namun pada sisi tertentu, belum mengakar pada hakekat keberadaan manusia sebagai makluk sosial.
Gregor Antropological Group (GAG), bersama Yayasan Go Green Go Clean Indonesia dibantu Komunitas Simpang 9-Kefamenanu-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menggelar focus group discussion (FGD) dengan tema "Mencari Bentuk Jejaring Sosial Antara Suku Ato, Bana, Lake dan Sanak di Kabupaten TTU".
Pelaksanaan FGD ini berlangsung pada 12 November 2020 di Sane Ekon Tefan, Oel Maeslete-Kefamenan-Kabupaten TTU (Pusat Suku Sanak) dengan menghadirkan pembicara kredibel di bidangnya.
Kegiatan ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan-Direktorat Jenderal Kebudayaan. Adapun rincian pelaksanaannya sebagai berikut:
Di antaranya sebagai keynote speaker Pater Gregor Neonbas (Antropolog) bersama 4 narasumber lainnya yaitu, Yohanes Sanak ebagai narasumber dari Suku Sanak.
Yohanes banyak mengulas dan memberikan informasi terkait batas wilayah, peran dan aktivitas sebagai agenda rutin yang masih berlangsung sampai saat ini di Kabupaten TTU.
Selain itu, Pater Fritz Meko menekankan pada GAG sebagai pengerak kegiatan kajian pada setiap suku telah memiliki tujuan.
Sementara, Pater David Amfotis menekankan, hubungan manusia dengan alam dan segala isinya sebagai point utama untuk mengajak masyarakat adat kembali menjaga ekosistem dimulai dari wilayahnya masing-masing.
Hadir juga Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi, di mana point utamanya menekankan pada isu-isu global. Pertama, globalisasi modal dan integrasi ekonomi menjadi satu pasar tunggal.
Kedua, perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi yang membuat ruang atau jarak menjadi tidak relevan. Ketiga, konvergensi kepentingan di antara kelompok-kelompok dan timbulnya korporasi multinasional.
Kegiatan FGD dalam mencari bentuk jejaring sosial antara empat suku di Kerajaan Bikomi menghasilkan beberapa point penting, seperti nilai solidaritas.
"Jejaring sosial antara Suku Ato, Bana, Lake dan Sanak telah memiliki nilai solidaritas," kata laporan hasil FGD tersebut yang diterima Askara, Rabu (16/12).
Nilai solidaritas ini, tidak hanya berupa solidaritas internal antara ke-4 suku besar tersebut. Namun ada nilai solidaritas eksternal yang dibangun dengan suku-suku lain di Pulau Timor.
Serta ada sistem relasi antara Suku Ato, Bana, Lake dan Sanak memiliki sistem relasi, di mana sistem ini sudah sangat baku dan terlihat, baik itu relasi personal, interpersonal dan relasi sosio kemasyarakatan.
Selain itu, ada nilai keterbukaan antara Suku Ato, Bana, Lake dan Sanak selama ini saling mengklaim bahwa dari masing-masing mereka lebih baik dan menjadi pemimpin.
"Melalui FGD ini setiap suku menyadari bahwa mereka sama-sama memegang peranan yang penting untuk Bikomi," jelas laporan itu.
Point penting lainnya yakni, harus diangkat kembali nilai-nilai hubungan dalam ke-4 suku yang dulu sudah terbangun, untuk dijadikan pola dasar relasi sosial dari masyarakat era globalisasi ini.

Komentar