Singgung Transparansi Negara, Fahri Hamzah Minta Mahfud MD Berinisiatif Soal Laskar FPI
ASKARA - Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019, Fahri Hamzah mengingatkan para pejabat negara dan aparat selalu transparan dalam segala hal. Jika tidak, dikhawatirkan bakal membuat gaduh di masyarakat.
Fahri mengibaratkan bahwa suatu negara ini seperti aquarium besar yang dilapisi dinding kaca. Artinya semuanya bisa dengan mudah menilai dan melihat sesuatu yang dilakukan pejabat.
”Sering saya katakan, Negara adalah aquarium besar. Para pejabat dan petugasnya adalah ikan-ikan dan biota laut yang berkeliaran. Jangan coba-coba sembunyi dari publik, dinding negara terbuat dari kaca," ujar Fahri dalam akun Twitter miliknya, Jumat (11/12).
Politkus Partai Gelora itu menginginkan, pemerintah selalu berkomitmen untuk tranparan dalam menyampaikan informasi. Sehingga masyarakat dapat turut mengawasi jalannya pemerintahan.
"Setidaknya jika tidak demikian anggaplah demikian. Agar transparansi menjadi budaya,” tutur Fahri. Meski keterbukaan yang dimaksudnya tidak disebutkan secara khusus.
Sebelumnya Fahri menuliskan tentang keadaan yang semakin rumit. "**Nampaknya tambah rumit kisanak!~Ada apa rupanya?**Hulubalang sakit gigi!~Pantesan!” tulisnya.
Bahkan Fahri berkomentar soal peristiwa penembakan enam anggota laskar FPI oleh polisi. Kemudian dia meminta Menkopolhukam segera membentuk tim independen pencari fakta untuk menguak tabir misteri peristiwa bentrokan di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek itu.
”Pak @mohmahfudmd ambil inisiatif pak. Sekarang itang minta ke bapak bukan pak @prabowo maka ambillah inisiatif. Ini waktu uji bagi bapak. Ambillah inisiatif. Jadilah jurubicara negara salam bidang @PolhukamRI yang terbaik. Jangan takut pak!," tegas Fahri.
Wakil Ketua Umum Partai Gelora itu menambahkan pemerintah seharusnya memberikan keterangan cepat dan tuntas melalui Menkopolhukam terkait kasus penembakan anggota FPI.
Jika dibiarkan tanpa ada penjelasan secara terang benderang, maka akan menjadi ingatan publik yang melekat pada ingatan. ”Ini keliru, publik itu punya daya ingat semacam memori kolektif. Kalau memori ini menumpuk tanpa klarifikasi, atau negara tak membuatnya terang, maka ia akan tersimpan sebagai trauma?” tandasnya.
Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran menjelaskan, peristiwa bentrokan antara petugas dengan anggota laskar FPI terjadi pada Senin dini hari, pukul 00.30 WIB di Jalan Tol Jakarta- Cikampek KM 50.
Kejadian berawal saat petugas menyelidiki informasi soal pengerahan massa saat dilakukan pemeriksaan terhadap HRS di Mapolda Metro Jaya.
"Ketika anggota Polda Metro Jaya mengikuti kendaraan yang diduga adalah pengikut HRS, kendaraan petugas dipepet lalu kemudian diserang dengan menggunakan senjata api dan senjata tajam," kata Fadil, Senin (7/12).
Fadil mengatakan terdapat 10 orang yang melakukan penyerangan, tetapi setelah enam rekannya ambruk, empat orang sisanya melarikan diri.

Komentar