Senin, 08 Juni 2026 | 06:22

Who Is The Real Mang Ucup? (Bag. 6)

Sayembara Dengan Hadiah Satu Juta Dollar AS

Sayembara Dengan Hadiah Satu Juta Dollar AS
Ilustrasi

Bagi siapa saja yang bisa membuktikan secara hukum jadi bukan hanya berdasarkan kata-nya ataupun mengutip dari berita-berita gosip secara Copy dan Paste lainnya, bahwa JR pernah mem-bobol, nge-hack ataupun menipu bank di Indonesia atau entah dimanapun juga akan diberikan hadiah satu juta dollar AS.

Tawaran ini bukan hanya sekedar n’jeplak di FB atau di Milis saja. Saya bersedia memberikan Statement ini secara resmi tertulis dihadapan notaris lokal maupun International dengan jaminan seluruh harta kekayaan yang saya miliki. Berikut bank Garansi!

Sayembara tersebut di atas inilah yang saya ingin tawarkan kepada rekan-rekan semua. Kenapa Mang Ucup berani mengeluarkan sayembara sambil sesumbar, menantang dan berkoar-koar seperti begini? Maklum hingga saat ini saya tidak pernah melakukan hal-hal tersebut diatas.

Dan saya yakin haqul yakin sampai saya koit sekalipun tidak akan ada yang bisa membuktikannya. Entah ini dari aparat Polisi di Indonesia, Interpol, FBI maupun awak Media. Untuk hal ini saya jamin 10.000 persen! Biarlah mang Ucup menjadi “One Million Dollar Man!" Atau hampir Rp lima belas miliar.

Jadi dalam soal pembobolan Bank dan sebagainya; JR itu putih bersih tanpa noda seperti habis dibilas tujuh kali dengan sabun Rinso! Lalu apa sebenarnya kasus JR ini? Sehingga jadi terpidana bahkan dijadikan buronan Interpol! Saya kutip mengenai sosok JR yang tercantum secara resmi di Wikipedia satu lembaga internasional yang netral dan bisa dipercaya.

Silahkan klik nama Jusuf Randy disitu tercantum dengan jelas kesalahan JR:l. Tahun 1989 ia terpaksa meninggalkan Indonesia untuk kembali ke Jerman karena diketahui mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) "aspal" dan paspor Indonesia (Indonesia pada saat itu tidak mengenal konsep dwikewarganegaraan). Jadi tindak pindana ataupun pelanggaran hukum satu-satunya ialah mempunyai KTP aspal. Tidak lebih dan tidak kurang !

Dosa ini saya akui benar seratus persen! Bahwa hanya itu saja dosa beratnya JR sampai saat ini. Tapi kenapa jadi begitu di blow up oleh media. Bukankankah di Indonesia juga banyak, bahkan ribuan orang lainnya yang memiliki KTP ganda?

Maklum pada saat itu saya bersebrangan dengan keluarga Cendana. Ketika itu banyak pejabat tinggi lingkaran satu yang menjadi sohib baik saya. Antara lain Sudomo, Benny Murdani, maupun mantan Kapolri Awaludin Jamin begitu juga dari pihak kejaksaan Agung. Bahkan ketika saya pertama kali ditangkap saat itu saya sedang lunch di Hotel Hilton dengan sohib saya mantan Kapolri Awaludin Jamin. Namun tidak ada satupun juga yang berani dan bisa bantu saya. Maklum siapa yang berani melawan keluarga Cendana pada saat itu?

Memang lucu bin bodor, saya pernah diangkat sebagai anggota penasehat oleh Kementerian Kehakiman sebagai tenaga ahli untuk membuat Rancangan Undang-undang Kejahatan Cyber. Tim kami terdiri antara lain sohib saya mantan Hakim Agung Bismar Siregar maupun Dr. Muladi mantan menteri Kehakiman yang saya kenal baik.

Dalam jangka waktu satu bulan JR telah dijadikan berita utama sebanyak tiga kali oleh majalah Tempo, hanya sekedar untuk masalah KTP aspal. Bukankah suatu hal yang lucu tapi nyata! Namun kenyataannya dan juga fakta, entah kenapa majalah Tempo merasa Guilty Feeling, sehingga mereka mengadakan saresahan khusus di hotel Homann Bandung untuk khusus membahas masalah JR. Dengan tema Praduga Tak Bersalah atau "Presumption of Innocence”.

Maklum sebelum saya dihakimi ternyata sudah divonis bersalah terlebih dahulu oleh Media. Bahkan dengan diberikan berbagai macam kecap maupun bumbu penyedap tambahan hal-hal lainnya yang tidak benar. Cobalah renungkan dengan akal sehat anda.

Hanya berdasarkan kasus pemalsuan KTP saja JR dikejar dan diburu ke seluruh pelosok ujung dunia dengan red notice oleh Interpol. Seperti teroris Osama bin Laden! Hal ini tidak akan bisa terjadi apabila tidak dalang intelek yang memiliki super power yang sangat berkuasa pada saat itu?

Saya datang hijrah ke Indonesia dari Jerman hanya dengan satu tujuan saja ialah ingin membantu mencerdaskan bangsa agar bangsa Indonesia bisa jadi melek Komputer. Apakah ini dosa? Namun kenyataannya saya diperlakukan jauh lebih buruk daripada penjahat kelas kakap manapun juga. Saya di blas dan Blow Up oleh berbagai macam Media.

Hal ini membuat keluarga maupun orang tua saya sangat terpukul sekali. Hampir setiap hari Ma Anie ibunda saya, menelpon berkali-kali. Sambil mengeluarkan air mata dan nada sember, karena menangis sedih ia berkata: “Sing Sabar Pel, Mamah akan mendoakan kamu terus!"

Setiap kali Bunda saya mengucapkan demikian. Saya merasa dada nyeri sekali seperti digebuk oleh gada besar dan berat Oleh sebab itulah juga, saya bisa menghayatinya dengan baik lirik lagu: dalam doa ibuku namaku disebut.

Saya tidak pernah sedih ataupun merasa terpukul oleh kasus ini. Satu-satunya yang membuat saya sangat sedih dan terpukul. Karena ada banyaknya pemberitaan negativ di berbagai macam media. Hal inilah yang telah membuat kedua orang tua saya menjadi sangat sedih dan terpukul sekali karenanya.

Mudah-mudahan dengan adanya lomba ini, Ma Anie di alam baka bisa tenang dan yakin bahwa si Tompel puteranya bukanlah seorang pembobol bank yang seperti diberitakan di berbagai macam media masa. Untuk ini sg mohon bantuan doanya.

Hal ini juga diketahui dengan baik oleh sohib saya Sudomo mantan Pangkomkantib. Beliau berpendapat daripada saya nunggu hingga di vonis deportasi. Sudah langsung pulang saja ke Jerman. Maklum beliau mengetahui dengan baik duduk persoalan saya dan juga masalah saya yang bersebrangan dengan keluarga Cendana, sehingga tidak mungkin bagi saya untuk bisa mendapatkan proses yang fair dan adil.

Oleh sebab itulah beliau mengajurkan agar saya segera pulang saja ke Jerman. Bahkan beliau sendiri yang mengantar saya ke Bandara saat itu! Disinilah terbuktikan bahwa beliau adalah seorang sahabat yang baik dimana seluruh dunia meninggalkan dan menjauhi saya.

Namun beliau tetap setia mendampingi, bahkan mau membantu saya. Bahkan beliau berani mengambil risiko melawan junjungannya Suharto. Sejak saat itulah saya mendapatkan status maupun gelar sebagai buronan dengan gelar "The most famous wanted fugitives!" Itu hanya gara-gara KTP aspal saja.

Sejak era Orde Baru hingga sekarang Indonesia tidak lagi mengakui adanya kewarganegaraan ganda. Jadi menjadi satu pelanggaran hukum ketika Mang Ucup mengajukan permohonan KTP Indonesia. Kesalahan inilah yang akhirnya menjadi kasus pidana serius bagi Mang Ucup yang selanjutnya dituduh dengan kasus pemalsuan KTP.

Cobalah renungkan apabila ada kasus buruk lainnya di dalam kehidupan saya. Mana mungkin begitu banyak pejabat tinggi maupun konglomerat yang mau menjadi sohib Mang Ucup sampai dengan saat ini mulai dari JK maupun Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Wiranto. Bahkan dengan adik kandung dari JK, Achmad Kalla pemilik Bukaka.

Mang Ucup mendirikan Yayasan Peduli Hutan Lestari bareng dengan beliau maupun dengan konglomerat Robert Rockefeller cucunya dari mantan orang terkaya di dunia John D. Rockefeller. Tidak bisa dipungkiri bahwa hingga saat ini pun Mang Ucup masih merasa menyesal akan masalah KTP Aspal tersebut. Saya merasa kasus ini adalah noda hitam yang tidak pernah akan bisa dihapus dalam sejarah kehidupan saya.

Dengan ini saya kutip sajak WS Rendra yang berkesan di hati Mang Ucup dan juga mampu mencerminkan perasaan saya. Malam dan wajahku adalah satu warna dosa dan nafasku adalah satu udara. Tak ada pilihan kecuali menyadari Biarpun bersama penyesalan.

Perlu diketahui bawa sebelumnya saya meninggalkan Indonesia, saya sempat di bui terlebih dahulu selama dua bulan. Hal-hal apa saja yang dialami oleh saya selama di Bui? Dan bagaimana perasaan seseorang yang sedang berada dipuncak karier maupun puncak kehidupannya. Dihempaskan dan dibanting jadi Napi yang harus hidup di Bui? Sebelumnya biasa lunch di Hilton, namun sekarang makan nasi jagung di bui.

Ingin mengetahui kisah pengalaman hidup di bui JR. Bacalah sambungannya.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar