Kho Khie Siong Pastikan Kehidupan Etnis Tionghoa dan Warga Aceh Harmonis
ASKARA - Sebagai kawasan religius bagi pemeluk agama Islam, Aceh dinilai memiliki tingkat toleransi yang sangat baik terhadap perbedaan. Terbukti adanya kampung China, Peunayong di Kota berjuluk Serambi Mekkah itu.
Ketua Umum Perkumpulan Hakka Banda Aceh, Kho Khie Siong mengatakan, bahwa kehidupan masyarakat etnis China dan warga Aceh terbilang harmonis. Meski tak terpungkiri sebagian menyikapinya berbeda karena dianggap minoritas.
"Tentu ada sedikit, perbedaan perlakuan secara minoritas. Tapi kalau secara di akar rumput tidak ada permasalahan yang berarti," katanya saat berbincang di Laboratorium Pengembangan Sosial Keagamaan Tv, Selasa (27/10).
Kho Khie Siong menuturkan dalam menjaga kerukunan beragama menjadi tanggungjawab semua pihak. Karena tanpa itu, terkadang apa yang dilakukan dengan maksud baik justru bisa disalah artikan.
"Itu lah yang jadi PR buat kita semua. Menghasilkan hal yang positif itu tidak bisa dihasilkan oleh salah satu pihak. Misalnya oleh orang Tionghoa saja atau orang Aceh sendiri. Tidak bisa," tuturnya.
Untuk itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat membuktikan bahwa Aceh merupakan provinsi paling toleransi. Sehingga mematahkan isu yang berkembang terkait masalah intoleran.
"Jadi ini lah yang harus dilakukan bersama-sama menunjukan kepada dunia luar bahwa Aceh aman-aman saja. Tidak ada permasalahan bisa hidup berdampingan, bisa melakukan aktivitas bersama-sama dengan baik," tegasnya.
Ketua Yayasan Hakka Provinsi Aceh itu tetap konsisten menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kerukunan dan menguatkan kebersamaan.
"Inilah yang nanti kita akan sampaikan peran apa yang kita diambil oleh yayasan Hakka untuk kampanye memperlihatkan kepada dunia luar. Ini lah Aceh yang seutuhnya," jelasnya.
Saat ditanya mengenai kecintaan kebangsaannya terhadap Tanah Air. Cinta Aceh atau China, kemudian dia dengan tegas mengatakan Aceh. Meski orang tuanya lahir di negeri tirai bambu itu.
"Iyah dong, sudah pasti (cinta Aceh) karena saya warga negara Indonesia. Artinya kita tidak memberlakukan dua warga negara. Saya lahir di Indonesia," tandasnya.
Menurut sejarah, hubungan antara Aceh dan China terjalin sejak abad ke-17 Masehi. Kala itu para pedagang dari China silih berganti datang ke Aceh. Kerukunan umat beragama di sana hingga kini masih terjaga.
Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa, Peunayong merupakan tempat Sultan Iskandar Muda memberikan perlindungan atau menjamu tamu kerajaan yang datang dari Eropa dan China.

Komentar