Pemenang Satu Indonesia Award Berbagi Inspirasi di Safari Jurnalistik PWI
ASKARA - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bekerja sama dengan PT Astra International kembali menggelar Safari Jurnalistik.
Bertempat di Ruang Rapat PWI Pusat, Lantai 4 Gedung Dewan Pers, Kamis (22/10).
Tokoh muda menginspirasi yang juga pemenang Satu Indonesia Award Nurdianto Hartoyo Sanan turut dihadirkan. Pemuda asal Kalimantan Barat ini terpilih sebagai pemenang program PT Astra pada 2018 lalu karena dianggap sebagai tokoh muda yang dapat mengubah masyarakat ke arah lebih baik.
Berawal dari keikutsertaan Nurdianto sebagai peserta mengikuti sebuah pelatihan edukasi terkait kesehatan reproduksi remaja, bahaya seks bebas dan narkoba. Ia akhirnya menemukan kegiatan yang merubah hidupnya sekaligus hidup orang lain.
Merasa kabupaten dan provinsi yang didiaminya memiliki hambatan besar untuk membangun generasi muda berkualitas, Nurdianto ikut terlibat mendorong edukasi menyeluruh tentang bahaya pernikahan di bawah umur.
"Awalnya saya termotivasi karena melihat ibu saya. Beliau pernah bilang bahwa kalau saja tidak menikah di usia muda, mungkin beliau akan menjadi orang yang lebih sukses punya kehidupan lebih baik. Belum lagi ibu saya juga sakit-sakitan karena hamil di usia muda, keguguran berkali-kali dan banyak faktor lainnya yang membuat kesehatan reproduksinya menurun," tutur Nurdianto.
Perkawinan anak, menurutnya, dapat mengeliminasi hak-hak dasar mereka. Sebut saja pendidikan dasar, layanan kesehatan hingga hak hidup. Anak yang dikawinkan sulit mendapatkan kebahagiaan akibat risiko kesehatannya yang rentan setelah dewasa.
Hal inilah yang mendorong Nurdianto menggagas GenRengers Educamp, sebuah program kemah untuk memberikan edukasi dan pelatihan kepada remaja pada 2016.
Lewat program GenRengers Educamp, pemuda tidak serta merta melarang anak muda untuk menikah. Akan tetapi ia mengajarkan berbagai hal tentang kesehatan reproduksi, bahaya seks bebas serta pentingnya kemandirian ekonomi dalam membangun rumah tangga. Hasil akhir yang ia harapkan, anak muda mampu menyerap informasi yang telah ia bagi hingga menyadari sendiri bahwa perkawinan usia muda memiliki banyak dampak buruk.
Data di awal 2020, Kalimantan Barat termasuk dari lima provinsi yang memiliki angka perkawinan usia dini tertinggi. Setiap 104 dari 1000 anak perempuan di provinsi itu menikah di usia 15-19 tahun.
Hal ini menjadi salah satu fokus utama GenRengers Educamp dengan berkemah atau kegiatan outdoor yang mengombinasikan kegiatan fun learning di daerah-daerah perbatasan Indonesia-Malaysia dan 14 kabupaten/kota di Kalbar dengan misi menyampaikan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja dan Kampanye Stop Perwakinan Usia Anak.
Nurdianto memiliki pemikiran bahwa remaja mampu menjadi superhero bagi lingkungannya dan mereka perlu kekuatan super yang mereka bisa dapatkan dari kegiatan ini.
"Saya tidak bermimpi anak-anak ini dapat menolong jutaan remaja lainnya. Mimpi saya, mereka dapat selamat dahulu dan kemudian dapat menjadi role model bagi sebaya mereka dan akhirnya remaja lain akan mengikuti apa yang mereka kerjakan," tutur Nurdianto.

Komentar