Kisah Perahu Peninggalan Joko Tingkir di Sragen
ASKARA - Bongkahan kayu yang keropos dan tak berbentuk membujur sepanjang empat meter di sebuah rumah-rumahan permanen beratap asbes di Punden Domba.
Bongkahan kayu yang diduga perahu Joko Tingkir terletak di perbatasan RT 015 dan RT 014, Dukuh Butuh, Desa Karangudi, Kecamatan Ngrampal, Sragen.
Kayu itu diyakini masyarakat setempat berumur ratusan tahun karena kayu itu merupakan sisa perahu atau gethek yang pernah dinaiki Joko Tingkir. Perahu itu didorong sekawanan buaya saat melintas di Bengawan Solo pada awal abad XVI. Perahu tersebut ditempatkan di dekat pohon kesambi yang umurnya lebih tua daripada umur gethek tersebut. Lingkungan sekitar pohon kesambi itu disebut Punden Domba.
Di sebelah timur punden terdapat sendang tetapi dibuat seperti sumur yang dikenal dengan nama Sendang Klampok karena dulu ada pohon klampok yakni seperti sejenis jambu air. Kini, pohon klampok itu tiada dan tergantikan dengan pohon beringin.
"Dulu pernah ada banjir karena luapan Bengawan Solo. Perahu itu bisa berjalan sendiri sampai Dukuh Jaten (masih wilayah Karangudi), dan saat menjelang surut perahu itu kembali lagi ke lokasi sekarang," ujar Suwarno, warga RT 015, Dukuh Butuh.
Cerita Mbah Naryo
Cerita itu dibenarkan Mbah Naryo, sesepuh Dukuh Butuh. Saat masih kecil, Mbah Naryo yang tinggal di RT 014, Butuh pernah menyaksikan peristiwa perahu Joko Tingkir yang berjalan sendiri dan masih berbentuk perahu yang panjangnya sampai 15 meter.
"Dulu ada rantai yang terbuat dari emas dan cadiknya. Sekarang rantai dan cadik itu sudah menghilang menjadi gaib. Cerita dari simbah-simbah dulu Kiai Karebet (Joko Tingkir) menaiki perahu itu muter-muter dan akhirnya tiba di dukuh ini bisa menemukan apa yang dibutuhkan sehingga diberi nama Dukuh Butuh. Tempat muter-muter itu jadi Dukuh Nguter," cerita Mbah Naryo, dikutip Solopos.
Mbah Naryo mencatat, Dukuh Butuh yang ada di Sragen berkaitan dengan petilasan Joko Tingkir. Dia mencatat ada empat dukuh dengan nama Butuh yakni Butuh di Banaran Sambungmacan, Butuh di Wedi, Jenar, Butuh Karangudi Ngrampal, dan Butuh di Gedongan, Plupuh.
Mbah Naryo tak mengetahui asal muasal perahu Joko Tingkir itu. Dia menduga perahu itu dibuat dari berbagai jenis kayu dan disabda menjadi perahu.
Tujuh Nama Butuh
Seorang pemerhati sejarah yang tinggal di Dukuh Butuh, Banaran Sambungmacan Priyanto mencatat ada tujuh nama Butuh di wilayah Sragen dan Ngawi yang semuanya berkaitan dengan perjalanan Joko Tingkir.
Tercatat ada lima Butuh di Sragen yakni Plupuh, Karangudi Ngrampal, dekat Cemeng Sambungmacan, Jenar, dan Banaran Sambungmacan. Dua nama Butuh lainnya ada di Karanganyar, Ngawi, dan Widodaren.
"Perahu itu dibuat Ki Ageng Banyu Biru yang masih bersaudara dengan Ki Ageng Pengging atau ayahnya Joko Tingkir. Setelah geger di Keraton Pengging, Joko Tingkir yang masih timur diungsikan oleh Ki Ageng Tingkir di Dukuh Karebet (Masaran) dan diasuh oleh seorang mbok randa (janda). Di dukuh itulah Joko Tingkir dikenal dengan nama Mas Karebet. Setelah dewasa, Mas Karebet menanyakan ayah dan ibunya. Oleh janda itu diberitahu supaya mencari Ki Ageng Banyu Biru, arahnya ke timur laut," papar Priyanto.
Mencari Orang Tua
Dalam pencariannya, Joko Tingkir bertemu dengan Ki Ageng Banyu Biru yang sudah menyiapkan perahu di sebuah embung. Perahu itu terus berputar-putar hingga datang calon pemiliknya yang tidak lain Joko Tingkir.
Priyanto melanjutkan, setelah memberi berkal ilmu kepada Joko Tingkir, Ki Ageng Banyu Biru memintanya mencari kedua orang tuanya dan turun pertama di perairan Bengawan Solo. Wilayah itu kini dikenal sebagai Kedung Tingkir, lokasinya di sekitar Ngrejeng, Sambungmacan.
Dari lokasi itu, Joko Tingkir bergerak ke timur dan berhenti di Butuh wilayah Jenar kemudian berhenti di Butuh Banaran. Saat di Butuh Banaran itulah Joko Tingkir bertemu ibunya Nyi Ageng Pengging.
Makam Nyi Ageng Pengging masih ditemukan di Butuh Banaran. Oleh ibunya, Joko Tingkir diminta supaya belajar kepada sosok syekh yang menjadi guru para wali yang dikenal dengan nama Syekh Iman Sampura.
"Saat itulah Joko Tingkir diarahkan untuk mencari Sunan Kalijaga di Alas Ketonggo. Joko Tingkir pun kembali menaiki perahu menuju ke Butuh Karanganyar, Ngawi kemudian berhenti di Dukuh Butuh wilayah Payak, Widodaren, Ngawi. Joko Tingkir berjalan darat menuju Alas Ketonggo. Di alas itulah Joko Tingkir bertemu Sunan Kalijaga dan Brawijaya V (Raja Majapahit). Joko Tingkir ini masih keturunan Brawijaya V. Di tempat itu Joko Tingkir menerima wahyu raja," terangnya.
Setelah dari situ, Joko Tingkir melanjutkan perjalanan mencari ayahnya Kebo Kenanga. Saat hendak mengambil perahu, ada raja buaya yang menghadang yang bernama Raja Puan atau dikenal dengan nama Baureksa. Joko Tingkir bertarung melawan buaya itu dan akhirnya menang. Raja buaya itu ingat dengan pesan Brawijaya V sebelum mengutuknya menjadi buaya.
"Kalau ingin menjadi manusia kembali Raja Puan harus membantu pemuda yang bernama Tingkir. Akhirnya Joko Tingkir menaiki perahu dengan melawan arus Bengawan Solo menuju barat. Saat itulah perahu Joko Tingkir didorong oleh sekawanan buaya anak buah Raja Puan hingga sampai di Butuh Gedongan bertemu Ki Ageng Pengging," jelas Priyanto.

Komentar