Kamis, 22 Oktober 2020 | 13:02
OPINI

Kisah Pilu dan Larangan Di Balik Pemakaman Bung Karno

Kisah Pilu dan Larangan Di Balik Pemakaman Bung Karno
Bung Karno membonceng istrinya naik sepeda

Begitu benci dan besarnya rasa ketakutan Soeharto terhadap Presiden Pertama RI, Soekarno, sehingga ketika Bung Karno wafat pun Soeharto berusaha untuk merahasiakannya. Agar nama Bung Karno bisa hilang lenyap secara begitu saja ditelan oleh sang waktu.

Tentara telah mendapatkan perintah tegas agar jangan ada satu pun rakyat yang diperbolehkan untuk hadir pada saat pemakaman Bung Karno. Bahkan Tentara berusaha untuk melarang rakyat melihat jenazah Bung Karno. Mereka diusir, namun mereka tetap saja datang lagi. Bahkan mereka berdatangan dengan jumlah yang jauh lebih banyak lagi. Akhirnya Tentara menyerah.

Bung Karno sewaktu sakit dirawat oleh Dokter Hewan dan tidak diperlakukan secara manusiawi. Namun akhirnya Bung Karno meninggal dengan cara yang Agung sebagai pahlawan bangsa. Jutaan rakyat berjejer diam membisu di pinggir jalan. Bahkan sebagian besar menangis pilu, karena kehilangan Bung Karno. Mereka berkabung bukan karena paksaan melainkan oleh rasa cinta kasih murni mereka kepada Bung Karno.

Dalam surat wasiatnya Bung Karno ingin dimakamkan di daerah Priangan – Bogor. Namun ini tidak diijinkan oleh Soeharto. Maklum Soeharto merasa takut, ia pun sadar dan juga mengetahuinya, bahwa Bung Karno akan tetap dielu-elukan terus sebagai Presiden sepanjang masa !

Soeharto tahu benar siapa pemimpin yang dicintai rakyatnya. Oleh sebab itulah Bung Karno dianggap sebagai tembok besar yang menghalangi ambisinya untuk bisa mendapatkan simpati dan kepercayaan rakyat Indonesia.

Dalam wasiatnya Bung Karno pernah menyatakan: “Saya berharap rumah terakhir saya dingin, pegunungan, daerah Priangan yang subur di mana saya bertemu pertama kali dengan petani Marhaen.”

Namun Bogor terlalu dekat dengan ibukota. Bahkan di Surabaya kota tempat kelahirannya Bung Karno saja, di ijinkan. Maklum Surabaya adalah kota besar. Maka dari itulah Soeharto menyingkirkan jenazah Bung Karno ke Blitar kota kecil nan jauh dari ibu kota dengan alasan Bung Karno sangat mencintai ibundanya.

Sedemikan ketakutan dan bencinya Soeharto terhadap Bung Karno, sehingga setelah meninggal sekali pun masih harus digebuk dengan Keppres. Dimana semua larangan tersebut di atas telah khusus ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970, agar tidak akan bisa diganggu gugat lagi!

Begitu mendengar kabar wafatnya Bung Karno. Inggit Ganarsih istri kedua Bung Karno langsung bergegas saat itu juga meninggalkan Bandung menuju ke Jakarta. Meski ia sangat kecewa, karena Bung Karno menikahi wanita lain. Namun hal ini tidak menjadi penghalang baginya untuk menemui mantan suami yang begitu dicintainya. Setibanya di RSPAD ia menangis dengan sangat sedih. “Ngkus, geuning Ngkus mendahului, Ngit mendoakan” kata Inggit dengan suara yang terbata-bata dan air mata turun berlinang. Senada dengan Inggit, Haryatie merasa hancur luluh hatinya, ketika melihat pria yang dulu memberinya kasih sayang. Kini diam membisu dingin dengan wajah tertutup kain kafan. Rasanya hati Haryatie seakan ingin memberontak, menjerit dan menangis ketika itu. Namun hal ini tidak ia lakukan. Dalam hatinya ia hanya berbisik kepada Bung Karno untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dibuatnya.

Hartini, Istri ke-4 Bung Karno, begitu melihat suami yang dicintainya telah tak bernafas lagi. Hartini langsung jatuh pingsan. Setelah ia siuman kembali, ia meluapkan kesedihan dan rasa kehilangannya dengan menciumi jasad suaminya yang sudah tak bernyawa.

Semua istri Bung Karno hadir pada saat itu terkecuali Fatmawati. Ia memilih untuk tidak datang melihat jenazah suaminya. Maklum rasa cemburu terhadap Hartini masih membekas sangat dalam sekali di hatinya.

Namun kini Sang Proklamator Kemerdekaan terbaring diam dingin dengan wajah tertutup kain kafan. Beliau meninggal tepatnya pada hari Minggu siang tanggal 21 Juni 1970. Satu-satunya pesan semasa Bung Karno masih hidup, dimana ia ingin dimakamkan dengan ditandai Batu Nisan bertuliskan “Penyambung Lidah Rakyat”.

Itu adalah bentuk kerendahan hati seorang yang pahlawan yang berjiwa besar. Tanggal 21 Juni itu menyimpan dua kenangan yang bertolak belakang: kelahiran Presiden Jokowi dan kematian memilukan Presiden Soekarno. Apakah ini Reinkarnasi?

Dengan ini saya akhiri tulisan mengenai Bung Karno sang tokoh panutan Mang Ucup dari sejak awal sampai kini. Moga saja tulisan sejarah yang ditulis dari sudut segi pandang kemanusiaan seperti ini; tidak membosankan rekan-rekan yang terkasih. Maklum terlalu panjang ! Maturnuwun sanget berkah dalem.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda