Sabtu, 13 Juni 2026 | 00:44
OPINI

Nurani dan Naluri

Nurani dan Naluri
Ilustrasi nurani dan naluri (Dok Gemini)

Oleh: Jaya Suprana

ASKARA - Di dalam bahasa Indonesia, terdapat dua kata  saling mirip tapi tak sama atau saling sama tapi mirip akibat sama-sama terdiri dari enam kata berawal N dan berakhir I mengandung huruf U dan A, beda dalam R dan L namun bermakna saling beda satu dengan lainnya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknakan kata nurani sebagai 1 a berkenaan dengan atau sifat cahaya (sinar dan sebagainya): hati ---, perasaan hati yang murni yang sedalam-dalamnya; 2 n lubuk hati yang paling dalam: -- kita tidak dapat menerima pemberian yang bersumber dari harta curian.”

Sementara naluri  dimaknakan KBBI sebagai dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu; insting. Secara lebih luas,  pada hakikatnya naluri juga bisa diartikan sebagai perbuatan atau reaksi majemuk yang tidak dipelajari dan digunakan untuk mempertahankan hidup, yang alamiah terdapat pada semua jenis makhluk hidup. Naluri terletak lebih jauh dari etika dan moral ketimbang nurani.

Dalam bahasa Inggris nurani disebut sebagai “conscience” yang panjang lebar diulas ensiklopedia filsafat Stanford  conscience translates the Latin conscientia, which refers to sharing knowledge (scientia) with (con-), and which in turns translates the equivalent Greek term suneidenai (see Pierce 1955 and Sorabji 2014 for an etymological analysis of the term). The literal meaning of the term does not specify the type of knowledge involved and whom that knowledge is shared with. However, the concept has traditionally been used to refer to moral knowledge (we talk indifferently of conscience and moral conscience) that is shared with oneself. This reference to the self does not rule out that the source of the morality in question be external to the self. For example, it might be God, as in the Christian tradition, or the influence of one’s culture or of one’s upbringing, as in the Freudian theory of the Super-Ego.  Unfortunately, debates in which appeals to conscience are often made—for example the debate about conscientious objection in health care—are often characterized by a lack of clarity as to what it exactly is that we are talking about when we talk about conscience, and therefore about what exactly people are claiming when they put forward a “conscientious objection” to, for example, abortion. In what sense does abortion violate the conscience of a committed Catholic doctor? And is conscience amenable to reason and public discussion, or are appeals to conscience ultimately based on intuitions and private morality? In what sense is a conscientious choice different from a mere moral preference? The notion of conscience is in need of conceptual clarification.”

Menarik adalah de facto bagaimana nurani merupakan satu di antara sekian banyak bahan penelitian yang dilakukan Pusat Studi Kelirumologi secara berkelanjutan sejak 1990 sebagai bagian dari ikhtiar memilah dan memilih kaidah sikap dan perilaku manusia mana yang benar serta mana yang keliru. Tidak kalah menarik bahwa de facto di khasanah kearifan Jawa, hadir beberapa gesekan bahkan perbenturan pemikiran falsafiah yang secara langsung maupun tidak langsung terkait nurani sebagai pedoman perjalanan manusia menerabas kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah. Antara lain ojo dumeh , empan papan , bisa rumangsa serta ngono yo ngono ning ojo ngono.

Komentar