Ngeli Ning Ora Keli
ASKARA - Adakah yang pernah mendengar judul di atas? Ya itu salah satu filosofi agung leluhur Jawa bahwa "Urip mono koyo melu ilineng banyu, ngeli ning ora keli"
(Hidup itu seperti mengikuti aliran air, mengikuti arus tapi tidak terseret arus atau hanyut).
Melihat akibat dari aliras deras pandemi bergulung bagai tsunami, membuat banyak orang terseret arus keadaan. Pandemi meluluh lantakkan segala sendi kehidupan.
Membatalkan semua agenda dan angan-angan yang telah direncanakan. Kecewa, bingung itu pasti. Masalahnya kita siap maupun tidak pandemi tidak peduli.
Orang-orang yang teguh pada pendirian itu memang seharusnya bila sudah dipikirkan matang-matang. Maju pantang mundur kalau bisa.
Senyatanya, tidak semua apa yang kita pikirkan sebagai keteguhan itu benar adanya. Benar menurut pemikiran kita, belum tentu benar menurut semesta.
Penyusunan rencana bisa saja kita buat sebaik-baiknya sesuai dengan angan-angan dan pertimbangan matang dengan berbagai keahlian yang kita sandang, sembilan puluh sembilan persen nampak keberhasilannya.
Lagi-lagi keadaan beserta alam semesta (baca Tuhan), lebih punya kuasa. Mau tidak mau kita memang harus mengakuinya. Ada batasan yang mungkin masih bisa diusahakan, tapi ada batasan yang tidak bisa ditawar. Mau tidak mau kita harus mengikuti aliran kehidupan yang dibuatNya.
Sepandai apapun manusia bisa berhitung, bisa memprediksi, punya ilmu tinggi, tiba-tiba bisa menjadi tanpa arti bila alam menghendaki. Kuasa Tuhan sedang dinyatakan dan ditunjukkan.
Bagi manusia yang mau bertahan bersabar dan mengikuti, maka akan menemukan hal-hal yang tidak pernah dipikirkan dan ternyata itu sangat dia butuhkan. Walaupun awalnya tidak pernah dimengerti.
Keindahan riak air kecil pada batuan yang bisa kita nikmati, adalah hasil dari gelombang besar di belakang. Bila kita sabar menanti, memperhatikan gulungan ombak besar tanpa melarikan diri, maka memang akan kita temukan keindahan lelehan air pada batuan tempat ombak menghempaskan diri.
Tapi bila saat ombak besar itu datang dan kita dengan cepatnya berlari membelakangi meninggalkannya, maka keindahan itupun tak akan bisa kita temui.
Keadaan saat inipun demikian, pandemi sedang bergulung-gulung menghantam, banyak yang berlarian panik menghadapi keadaan. Kebingungan penuh kekuatiran, berlaku binal tanpa kendali pikiran.
Panik adalah jalan utama menuju musibah, panik membuat manusia tidak berpikir dengan baik, serudak-seruduk tanpa arah, ego dipermainkan keadaan, keadaan mempermainkan ego, hingga dengan mudahnya terseret arus tanpa di sadari, hanyut terbawa.
Mudahnya emosi dan merasa diri putus harapan terhimpit bebatuan kesulitan. Berpikir bahwa berbuat arogan dengan alih-alih memperjuangkan kehidupan, berpikir akan mendapatkan keindahan, ternyata kehancuranlah yang akan diterima.
Inilah hidup, eling lan waspada akan menyelamatkan. Tidak perlu heran, karena beginilah isi dari bumi manusia, arus besar bisa datang tiba-tiba dan kapan saja, yang kuat dan sabar akan bertahan.
Karena para leluluhur paham benar bahwa yang bisa dilakukan dalam hidup, pada akhirnya adalah mengalir bersama kehidupan dengan penuh kesadaran, berpikir cerdas dan sabar untuk bisa bertahan hingga keadaan tenang. Tidak terseret arus kehidupan.
"Ngeli ning ora keli"
Semoga dengan mengingat filosofi yang pernah diberikan para leluhur bisa membawa kedamaian pada nusantara tercinta, dan menjadikan negeri ini lebih kuat dan besar.

Komentar