Kamis, 23 Juli 2026 | 10:02
COMMUNITY

Candi Belahan, Master Piece yang Perlu Dilindungi

Candi Belahan, Master Piece yang Perlu Dilindungi
Candi Belahan atau Patirtan Belahan (Dok pribadi)

ASKARA - Lokasi Candi Belahan atau Patirtan Belahan disebut juga Sumber Tetek (Payudara) karena ada air yang keluar dari dua puting payudara dari salah satu arca. Candi ini terletak desa terpencil di Pasuruan. Secara administrasi, candi bersejarah ini masuk dalam kawasan Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Tepatnya berada di lereng Gunung Pananggungan sisi timur. Dua Arca pada candi dikenal dengan Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Sebagai lambang kesuburan.

Pada jalan utama Surabaya Malang, kita temukan penunjuk arah pada kilometer 39, berada di sisi barat jalan. Untuk menuju lokasi melalui beberapa desa, jalan berkelok dan sedikit terjal sejauh 7 kilometer. Penunjuk arah cukup jelas.

Menurut catatan sejarah, Candi Belahan merupakan bangunan cagar budaya peninggalan Kerajaan Airlangga yang termashur di Jawa Timur. 

Baru pertama kalinya dalam hidup, saya membaca buku yang ditulis dalam bahasa Jawa, dalam bentuk Novel berisi cerita sejarah.

Novel ditulis oleh seorang Pegurit (Puisi Bahasa Jawa), Pelukis dan Penulis novel Bahasa Jawa bernama Widodo Basuki dengan judul "Belahan". Novel berbahasa Jawa setebal 175 halaman. Sejarah mungkin memang harus dibuat cerita yang menarik, yang penting tidak merubah inti sejarahnya sendiri.

Terus terang saya sendiri jadi suka dan mudah mengingat cerita sejarah, dengan membaca buku novel ini.

Penulis buku mengawali cerita dari Prabu Dharmawangsa di Negeri Medhang, yang suatu hari resah karena gangguan gerombolan dari Wurawari yang mengganggu warga. Siapa kira-kira yang bisa membantu untuk menumpas mereka ini?

Dharmawangsa meminta petunjuk, dan yang bisa "nyirep" (apa ya arti yang benar dalam bahasa Indonesia?) mungkin yang bisa nyirep (menghentikan) gangguan ini ternyata adalah "Jago Wiring Kuning" dari timur. 

Prabu Darmawangsa, berencana mengirim utusan untuk ke Pulau Bali, menemui Raja Bendahulu, yaitu Sang Maha Prabu Udayana yang masih menjadi adik iparnya, karena menikahi adik perempuannya Dewi Mahendradatta.

Karena Prabu Dharmawangsa sendiri hanya punya satu anak perempuan yaitu Dewi Galuh dari istrinya Prameswari. Supaya trah (keturunan) Isyana dan Mpu Sindok bisa lestari, maka berencana menikahkan dengan anak adiknya yang kebetulan laki-laki yaitu Airlangga (Erlangga).

Utusan belum sempat dikirim, tiba-tiba ada dua anak muda datang tanpa diundang menghadap. Ternyata mereka adalah Airlangga ditemani Narottama. Bak gayung bersambut dengan apa yang diangankan, tidak buang waktu mereka dijodohkan. Dan ternyata sama-sama suka dan mau.

Belum sempat diadakan pernikahan, malam itu juga tiba-tiba Medhang diserang oleh pasukan Wurawari, terbunuhlah Prabu Dharmawangsa beserta istri dan penghuni kerajaan.

Narotama bersama Airlangga, Dewi Galuh dan satu emban Ni Ken Bayan melarikan diri dari pintu belakang kaputren. Dengan jalan kaki dan menaiki perahu mengikuti aliran sungai bengawan dan terdampar di Desa Sidayu. Tinggal di gubug Ki Buyut Sidayu.

Setelah dua bulan tinggal, Airlangga dan Narottama berencana melanjutkan perjalanan ingin belajar pada para Brahmana dan  membangun kembali Negeri Medhang, agar Dewi Galuh dan emban Ni Ken Bayan tidak ikut sengsara maka dititipkan pada keluarga Ki Buyut Sidayu. 

Tujuan utama adalah mencari pertapaan para Brahmana. Mereka bertemu empu Baraddah di Lemah Tulis yang akhirnya memberikan informasi bahwa Padhepokan yang dicari itu bernama SungkemHyang di pinggir Kali Gumbolo, di sekeliling Gunung Welirang, atau di sebelah baratnya Gunung Penanggungan.

Akhirnya sampailah pada yang dituju, bertemu Bapa Dewa guru di Padepokan SungkemHyang, Bapa guru juga menceritakan bahwa Gunung Penanggungan penuh dengan suasana gaib, cocok untuk bermeditasi dalam keheningan.

Satu hari Narottama dan Airlangga mendaki Gunung Penanggunan, di sinilah Airlangga ditemui seorang Yogi yang awalnya berbentuk ular besar dan memberikan wejangan macam-macam dan dari sinilah muncul tempat yang namanya Jalathunda (Jolotundo) yang sekarang kita kenal, berada di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, Jawa Timur.

Airlangga selain sudah memiliki istri Dewi Galuh yang masih dititipkan di Sidayu, saat belajar di asrama ini kesengsem (tertarik) dengan gadis desa yang dilihatnya sedang mandi. Ternyata anak dari ki Demang di Cane. Yaitu Rakryan Kuningan, akhirnya diperistri dan mempunyai anak bernama Panji Garasakan.

Setelah usia Panji Garasakan 6 tahun, Bapa Dewa Guru sakit karena sepuh, ingin menyerahkan kembali pada Airlangga barang yang pernah dititipkan saat pertama masuk asrama. 

Karena Airlangga sedang berburu di hutan dan tidak kembali-kembali, maka ayah mertuanya diminta mewakili. Bapa Dewa Guru menceritakan siapa sebetulnya Airlangga yang menjadi menantunya dan menitipkan cincin dan kalung bergambar Garudhamuka sebagai tanda sah keturunan Isyana dan anak mantu dari Prabu Dharmawangsa untuk diberikan kembali pada Airlangga.

Setelah rahasia terbuka, rakyat mengetahui dan lalu merestui, maka kerajaan Kahuripan didirikan di tahun 940 çaka di tempat tinggal mereka, dan saatnya menjemput Dewi Galuh yang sudah 11 tahun dititipkan pada Ki Buyut Sidayu.

Setelah mereka berkumpul, dari Dewi Galuh, lahirlah anak perempuan bernama Dewi Sangramawijaya yang memutuskan menjadi seorang bikhuni di usia 12 tahun dan dikenal dengan nama Dewi Kilisuci. Awalnya bertapa di Pucangan dan akhirnya pindah ke Goa Selomangleng Kediri. Lahir anak kedua laki-laki bernama Samarawijaya.

Setelah meninggalnya Narottama dan Dewi Galuh, Raja Airlangga merasa hampa dan ingin mengundurkan diri untuk bertapa, agar adil terhadap anak-anak dari kedua istri yang sama dicintainya, maka Jenggala Kahuripan dibelah jadi 2 di tahun 964 çaka

Putra dari Rakryan Kuningan anak Ki Demang Cene diberi kekuasaan untuk menjadi Raja di Jenggala Keling dengan gelar Rake Halu Sri Mapanji Garasakan kratonnya di Surapura.

Sedangkan putra dari Dewi Galuh diberi kekuasaan menjadi Raja di Panjalu Kadhiri dengan gelar Maharaja Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Tguh Uttunggadewa, kratonnya di Dhanapura.

Menurut cerita, di sini Belahan sendiri dibangun oleh Panji Gerasakan yang merupakan pandermaan dan penghormatan dari pribadinya untuk kedua ibunya dan ayahnya Airlangga.

Alur cerita yang bagus, mengalir. Ternyata sempat membuat saya cekikikan bahkan berlinang air mata, saat membaca yang dikisahkan.

Ternyata enak juga kalau baca sejarah dengan cara di-novel-kan. Lebih mudah diingat dan dimengerti.

Peninggalan sejarah haruslah kita jaga, agar kita ingat para leluhur. Mengingat para leluhur bukanlah sesuatu yang musyrik maupun sirik.

Termasuk kita harus mengingat sejarah masing-masing pribadi kita, dari mana kita lahir? Tentu jawabannya sangat mudah, dari ayah dan ibu kita. Dari mana ayah dan ibu kita lahir? Juga masih mudah menjawabnya dari kakek dan nenek ayah maupun ibu. 

Lebih ke atas lagi, dari mana nenek kakek kita? Kalau kita masih mengikuti dan mempelajari pohon turunan keluarga, maka masih mudah kita kenali dari buyut.

Adakah yang masih tahu tentang garis keturunan sendiri hingga urutan yang ke-18?

Keturunan ke-1. Anak
Keturunan ke-2. Putu, dalam bahasa Indonesia disebut cucu
Keturunan ke-3. Buyut, dalam bahasa Indonesia disebut cicit
Keturunan ke-4. Canggah
Keturunan ke-5. Wareng
Keturunan ke-6. Udhek-udhek
Keturunan ke-7. Gantung siwur
Keturunan ke-8. Cicip moning
Keturunan ke-9. Petarangan bobrok
Keturunan ke-10. Gropak senthe
Keturunan ke-11. Gropak waton
Keturunan ke-12. Cendheng
Keturunan ke-13. Giyeng
Keturunan ke-14. Cumpleng
Keturunan ke-15. Ampleng
Keturunan ke-16. Menyaman
Keturunan ke-17. Menya-menya
Keturunan ke-18. Trah tumerah.

Di atas ini garis keturunan yang saya temukan dalam Jawa, pasti tiap daerah memiliki istilah masing-masing.

Terbayang tidak, kalau diurutkan lagi lebih jauh, hingga ratusan tahun ke belakang, jangan-jangan ternyata nenek moyang kita adalah salah satu pemilik, atau pembuat, atau minimal terlibat dengan candi-candi atau tempat bersejarah lainnya yang bisa kita kunjungi di saat ini. 

Maka itu, kita semua wajib menjaga dan melindungi peninggalan para leluhur yang ada dan bisa kita temukan. Bila tidak ada beliau-beliau, mana mungkin kita ada di sini sebagai pribadi. 

Intinya "Sangkan paraning dumadi" (Jangan lupa dari mana engkau berasal dan akan kembali) Hormatilah setinggi-tingginya, jaga dan peliharalah peninggalannya.

Seperti kata Bung Karno "Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah" semboyan yang terkenal dalam pidato terakhirnya di Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia pada 17 Agustus 1966.

Semoga Nusantara ini bisa tetap terjaga, damai sejahtera dengan kesadaran bersama yang seutuhnya.

Komentar