Kamis, 04 Juni 2026 | 08:03
COMMUNITY

Merangkak Menapak Jejak Tak Biasa

Merangkak Menapak Jejak Tak Biasa

ASKARA - Dini hari pukul 02.00 WIB Tim Ekspedisi Koopssus TNI memasuki area Kampung Pesanggrahan di Purwakarta, Jawa Barat. Tepatnya di pondokan milik Skywalker Adventure, di mana tim tidak menemukan seorang pun yang masih terjaga. Bahkan anggota tim harus mengambil sendiri perlengkapan tidur di gudang milik Skywaker Adventure karena tidak ada seorang pun dapat dijadikan tempat bertanya. Tiba di lokasi base camp juga berkat petunjuk dari GPS Map namun tim ekspedisi yakin tempat tersebut adalah lokasi bermalam yang telah disediakan bagi tim. Memang sebelumnya, tim ekspedisi telah menjalin kontak dengan pengelola Skywalker untuk melaksanakan pendakian di tebing Gunung Parang di kawasan Waduk Jatiluhur.

Tim ekspedisi yang berjumlah empat orang itu adalah personel Koopssus TNI ditambah seorang personel pendaki kawakan yang telah melanglang buana ke beberapa puncak tertinggi di sejumlah benua. Sehingga tim ini bukanlah tim pemula dalam hal pendakian gunung di Indonesia. Angin malam nan dingin di base camp pun mengajak tim ekspedisi untuk segera terlelap dalam gelap.

Base Camp

Pagi harinya, matahari dari ufuk timur benar-benar menyambut dengan riang ketika mata terbuka. Tenda-tenda kerucut tempat tim ekspedisi bermalam menjadi sebuah kawasan yang menyenangkan. Benar-benar tak terduga dan sangat berbeda dengan malam ketika baru pertama kali tiba. Suasana pagi diselimuti udara sejuk terasa begitu nyaman. Belum lagi pepohonan lebat nan rimbun menambah nikmatnya suasana hati sambil bersantai. Ditambah sejauh mata memandang, semuanya terlihat hijau nan segar yang dihiasi warna warni kembang di pinggiran pagar potongan bambu kering.

Belum selesai tim menikmati sejuknya udara pagi, sekira pukul 07.00 Ibu Saena penghuni pondokan sudah mulai menghidangkan makanan kampung khas Sunda yang begitu menggiurkan. Ada rebusan sayur jipang, kangkung dan daun ubi yang disertai sambal tomat, ditambah ikan asin digoreng kering. Alamaaakk... nikmat banget hidup di pedesaan ini, begitu pikir para anggota tim. Begitu Ibu Saena mempersilakan untuk waktunya santap pagi, tak ayal lagi, meski belum juga berbersih badan, satu per satu anggota tim sudah menyerbu sarapan khas Sunda itu dengan lahapnya.

Pagi itu memang belum dilaksanakan pendakian ke Gunung Parang disebabkan tim ekspedisi memang berencana untuk bermalam di puncak gunung. Sehingga para "guide" pendakian sangat menyarankan untuk melakukan pendakian pada saat setelah santap siang. Mengingat ketika siang hari maka terik matahari akan sangat terasa bila kita sudah berada di posisi puncak gunung. Jadilah tim menghabiskan waktu dengan "berleyeh-leyeh" di seputaran base camp Skywalker Adventure.

Sebenarnya camp Skywalker ini merupakan sebuah taman yang dibentuk sedemikian rupa sehingga tampak nyaman bagi pendaki yang akan bermalam. Ukurannya pun hanya sekitar 500 meter saja. Namun di kanan kiri base camp terdapat hamparan sawah yang membuat pandangan mata menjadi luas. Di lokasi camp hanya terdapat sebuah rumah kayu yang juga diperuntukkan untuk memasak makanan bagi pengunjung. Terdapat juga beberapa gudang perlengkapan kemping di sisi dekat rumah yang dihuni oleh Ibu Saena. Camp ini dilengkapi dengan dua buah WC serta dua kamar mandi. Dua buah tenda santai berisi meja dan kursi lapangan pun dipajang di sekitar taman yang dapat digunakan saat santap makan. Pun ada dua buah dipan bambu yang biasa dipakai pengunjung untuk "berleyeh-leyeh ria." Rindangnya pepohonan membuat mata kian meredup ketika angin sepoi-sepoi perlahan menerpa.

Selain itu, bila terdapat pengunjung yang akan bermalam maka akan disiapkan tenda kerucut indian (double layer) yang mampu menampung empat orang. Di dalam tenda sudah pula tersedia kasur dan bantal serta alat penerangan. Bila pengunjung hendak men-charger perlengkapan elektronik lain pun juga tersedia "colokan" listrik di dalam tenda. Ketika malam tiba maka suasana di seputaran taman akan langsung terang benderang secara otomatis oleh lampu-lampu taman nan indah karena lampu-lampu taman itu menggunakan "power" dari aliran listrik solar cell.

Awal Pendakian

Sebelum melakukan pendakian, tim ekspedisi lebih dulu diperkenalkan alat-alat mendaki yang akan digunakan selama pendakian. Ada sit harness, full body harness, tali webbing, tali kern mantel, carabiner skrew otomatis, helm panjat dan bubuk magnesium. Setelah berdiskusi beberapa saat, tim mulai melaksanakan pengepakan perlengkapan mendaki perorangan. Pengepakan alat dilakukan satu per satu yang diawasi secara ketat oleh sang guide pendakian. Kang Ajo, nama panggilan sang guide, menuntun pengepakan perlengkapan secara rinci.

Selain itu, juga disiapkan alat-alat resque dan alat-alat perbekalan yang akan dibawa oleh sang guide selama mendaki. Karena sesuai rencana, tim ekspedisi akan bermalam di puncak gunung sehingga diperlukan perlengkapan yang cukup banyak untuk dibawa melalui tebing parang yang terbilang terjal (hampir 90 derajat kemiringannya).

Sang pemandu Kang Ajo merupakan warga asli Kelurahan Pesanggrahan menjelaskan mapping rencana pendakian yang akan dilakukan. Mulai dari berapa lama akan dilakukan pendakian hingga mencapai puncak, kapan waktunya istirahat di tebing sampai kebiasaan-kebiasaan yang harus diwaspadai oleh setiap pendaki. Hal ini menjadi penting, mengingat setiap pendaki memiliki karakter yang berbeda-beda. Itu sebabnya, sang pemandu senantiasa mencoba berkomunikasi secara dekat dengan setiap calon pendaki agar dapat mengetahui karakternya masing-masing. Sayangnya, dalam percakapan singkat, Kang Ajo ternyata belum memiliki sertifikat lisensi pemanduan meski sudah memiliki pengalaman memandu yang cukup lama.

Pendakian ini selayaknya tidak membutuhkan waktu yang lama meski dilakukan oleh seorang pendaki pemula sekalipun. Apalagi tim ekspedisi terdiri dari orang-orang yang berpengalaman. Hanya saja, terkadang ada pendaki yang mengalami kelelahan ketika berada di tebing gunung. Untuk mengatasi hal tersebut sudah ada beberapa check point yang disiapkan sebagai tempat peristirahatan ketika pendakian berlangsung. Dan untuk keselamatan para pendaki, dalam kamus pendakian tak ada kata tawar menawar selain WAJIB AMAN...!! Sebab, satu kali pendaki melakukan kesalahan, maka hal-hal yang fatal PASTI akan terjadi. Itulah sebabnya, tim begitu antusias mengikuti penjelasan dari sang pemandu selama pengepakan perlengkapan perorangan maupun peralatan safety.

Teori Pendakian

Sebenarnya, para anggota tim ekspedisi bukanlah orang baru dalam hal pendakian. Namun, mengingat tingkat risiko di Gunung Parang ini tidak biasa maka tetap diberikan teori singkat tentang tata cara pendakian. Begitupun tentang bagaimana mengatasi segala kesulitan yang mungkin akan dihadapi selama melakukan pendakian di Gunung Parang ini. Teori praktis ini diberikan sesaat sebelum memulai pendakian. Dan hal ini benar-benar diperlukan bagi setiap calon pendaki agar tidak melakukan kelalaian selama proses pendakian berlangsung.

Sebagaimana sang guide berkata, "Mungkin anda lebih berpengalaman dalam hal mendaki daripada saya, namun selama di tebing ini tolong patuhi aturan yang saya terapkan demi keselamatan anda." Kata-kata "dingin" itu begitu menusuk ke telinga para calon pendaki.

Sang pemandu pun memberikan contoh bagaimana harus menyantolkan carabiner skrew di anak tangga dan di seling pengaman. Bagaimana melepaskannya satu persatu dan disertai langkah kaki menuju anak tangga berikutnya. Ketika pendaki merasa kelelahan Kang Ajo pun memberikan praktek bagaimana mengambil posisi istirahat di tebing gunung. Baik dengan posisi berdiri, bersandar ke tebing maupun dengan posisi duduk di anak tangga. Tentunya setelah pendaki terlebih dahulu menempatkan tali-tali pengaman di "anchor" tebing. Bahaya lain yang mungkin dihadapi ketika berada di ketinggian adalah adanya benda jatuh dari atas, begitu jelas Kang Ajo. Ia pun menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan ketika ada benda jatuh dari atas setiap pendaki. Hal ini tentunya demi keselamatan tiap-tiap pendaki dan kelancaran pelaksanaan pendakian.

Setelah itu sang pemandu pun memberikan waktu untuk praktek singkat bagi setiap pendaki, agar bisa merasakan saat berdiri dan duduk di anak tangga. Ini juga bermanfaat agar para pendaki nantinya tidak merasa kikuk ketika sudah berada pada ketinggian yang sebenarnya. Selesai melaksanakan praktek singkat, tim ekspedisi yang dipimpin oleh sang Leader melakukan doa bersama demi keselamatan dan kelancaran pendakian.

Menapak Jejak Tak Biasa

Satu persatu anak tangga mulai ditelusuri para anggota tim ekspedisi. Anak tangga yang telah menempel tahunan di tebing gunung parang menjadi tumpuan kaki. Anak tangga berperan sbg "anchor" yang berupa besi pejal berulir ukuran 13 dan ditanamkan pada dinding tebing sedalam 15cm. Besi yang tertanam di dinding juga masih diberi penguat "lem baja" sehingga begitu rekat pada dinding tebing yang sudah terlebih dahulu dibor. Selain itu, masih ada seling baja melintang yang senantiasa dijadikan sebagai pengimbang safety selama proses naik maupun turun. Besi yang menjadi "anchor" tersebut terkadang ditanam pada dua sisi, sehingga tampak seperti letter U bagi pendaki. Namun pada sebagian jalur ada yang hanya ditanam satu sisi, sehingga yang diinjak oleh pendaki adalah sebuah lingkaran mirip dengan obat nyamuk. Akan tetapi bukan berarti hal ini akan semakin ringkih karena posisi anak tangga yang ditanam hanya satu sisi ini biasanya ditempatkan pada bidang dinding tebing yang tidak tegak lurus alias kemiringannya hanya sekitar 70-80 derajat.

Beberapa bagian anak tangga sudah dicat warna hijau yang berarti sudah melalui peremajaan anak tangga. Memang setiap bulannya, para guide pendakian senantiasa melakukan pengecekan terhadap setiap anak tangga. Kang Ajo bercerita jika ada anak tangga yang goyang maka mereka akan mengganti jalur dengan jalur baru yang lebih aman. Ia juga menjelaskan jika usia "anchor" tersebut bisa sampai 10 tahun karena menggunakan bahan lem impor. Hal ini untuk menjamin keselamatan setiap pendaki yang akan melalui jalur tebing parang di area Skywalker Adventure.

Saat awal melakukan pendakian, ketika kaki baru saja menginjakkan belasan anak tangga, kaki dan lutut terasa bergetar. Besar keinginan untuk kembali turun ke bumi datar. Hal ini sangatlah lumrah karena daya tarik bumi semakin terasa. Apalagi, anggota tim belum sepenuhnya memiliki ritme dan metode baik dalam pendakian di tebing. Setiap pendaki pun terlihat waspada dan memperhatikan setiap langkah kakinya pada anak tangga. Begitupun ketika memindahkan carabiner skrew otomatis ke anak tangga di atasnya, semua melakukan dengan sangat berhati-hati. Hal ini membuat awal pendakian berjalan lambat. Namun, sang guide sangat memaklumi kejadian tersebut. Sejak awal, ia senantiasa memperhatikan langkah dan gerakan setiap pendaki ketika berpindah dari satu anak tangga ke anak tangga lain. Sesekali ia berteriak ketika harus beristirahat agar para pendaki tidak terlalu lelah.

Setelah melintasi jalur hampir sepertiga lintasan, tim berhenti pada sebuah cekungan tebing yang terdapat rerumputan. Sambil bergantungan, anggota tim mulai bisa bersenda gurau. Ini berarti para pendaki mulai merasa nyaman dengan ritme pendakian. Tak lupa, sang guide senantiasa menyarankan untuk tidak terlalu cepat dalam pergerakan naik. Dan memang, waktu tempuh perjalanan sepertiga jalur tersebut belum sampai satu jam perjalanan. Padahal untuk tim yang biasa mendaki, ketika sampai di cekungan tebing itu bisa sampai dua jam. Artinya, pendakian ini tidak akan berlangsung lama, sesuai dengan perkiraan tim. Sang guide mengingatkan, jika rintangan mendekati puncak masih akan lebih berat. Oleh karenanya, akan sangat bijak bila tim menghemat tenaga, jelasnya.

Benarlah, pada dua pertiga jalur, tim berhadapan dengan tebing bukan lagi tegak lurus melainkan hampir 100 derajat. Yang artinya, para pendaki harus memanjat dengan kekuatan tangan untuk bisa melalui rintangan tersebut. Teringat ketika melakukan pendakian di Carstenzs Pyramid juga terdapat tebing menggantung yang harus dipanjat dengan teknik ascender. Namun, di tebing parang ini tidak perlu melakukan teknik ascender karena sudah ada anak tangga sebagai sarana untuk naik ke bagian atas.

Rintangan demi rintangan pada tebing pun dilalui para pendaki. Tak ada satu pun kelalaian yang terjadi. Meski beberapa kali sang guide harus berteriak mengingatkan jika ada carabiner skrew yang menyantol namun tidak sempurna. Ini memang sangat berbahaya, meski masih ada satu cadangan carabiner lainnya sebagai pengaman.

Setiap melaksanakan istirahat pada cekungan tebing, tim selalu melakukan pergantian leader. Ini dilaksanakan agar semua pendaki merasakan untuk memimpin yang lainnya. Sementara sang guide tetap berada di posisi belakang atau sweeper. Dengan begitu, sang guide akan mengevaluasi setiap gerak dan langkah para pendaki.

Ketika pendakian mulai mendekati sisi puncak, angin kencang pun turut berbahagia menyambut kedatangan para pendaki. Teriakan sang guide hampir-hampir tak terdengar. Oleh karenanya, dilakukan metode berbisik dari satu pendaki ke pendaki lainnya untuk menyampaikan aba-aba atau perintah.

Sebuah batang pohon tampak tegak di atas tebing yang tegak lurus sebagai pertanda pendakian menggunakan sistem tangga usai sudah. Dengan mengaitkan pengaman ke pohon tersebut maka anak tangga sudah tidak ditemukan lagi. Artinya, untuk menuju puncak pendakian, tim ekspedisi tinggal berjalan kaki beberapa puluh meter saja.

Bermalam di Dataran Noh

Ketika menapakkan kaki di ketinggian 950 mdpl maka pendakian pun usai. Tim ekspedisi dapat memandang indah ke segala penjuru khususnya ke bagian Waduk Jatiluhur yang terhampar luas nan indah. Karena saat tiba di puncak memang hari masih terang dan pandangan ke lingkungan sekitar tampak luas. Belum lagi puncak Bukit Merah Putih dan puncak Bukit Pesanggrahan yang terlihat jelas dari sisi tempat tim ekspedisi berdiri.

Tempat tim ekspedisi bermalam disebut Dataran Noh, yang menurut sang guide, karena zaman dahulu kala tempat ini merupakan lokasi seorang haji bernama Noh untuk mengambil hasil kebun berupa Gadun. Sehingga sampai saat ini, lokasi dataran tersebut menjadi akrab disebut dengan Dataran Noh untuk mengingat pendahulu di kampung ini. Hal lain yang dijelaskan oleh sang guide adalah dengan bermalam di Dataran Noh, maka tim tidak akan terganggu oleh angin kencang sebagaimana ketika mendaki mendekati sisi puncak. Justru di bagian ini sangat teduh karena banyak pepohonan rindang yang melindungi area perkemahan.

Ada dataran rata yang cukup untuk mendirikan lima buah tenda dome di Dataran Noh. Selain itu juga dapat didirikan tenda dapur yang posisinya tepat di tengah-tengah tenda pendaki. Di sisi barat daya Dataran Noh terdapat tebing rendah datar yang juga dapat dijadikan tempat untuk mendirikan dua buah tenda dome. Sehingga cukup banyak tempat di Dataran Noh untuk berkemah.

Saat tenda tidur dan tenda dapur sudah berdiri sempurna, terlihat matahari mulai mengerdipkan sebelah matanya. Warna oranye keemasan terpapar jelas pertanda mulai terbenamnya sang surya di ufuk Barat. Tak pelak lagi, seluruh anggota tim ekspedisi mulai berkreasi dengan indahnya kerdipan sang penguasa panas bumi. Ada yang bergaya seolah matahari berada dalam genggamannya, ada pula yang bertingkah seolah akan menelan sang matahari yang menyala, hehe... Sementara itu, sang guide masih saja asyik dengan pekerjaannya untuk menyiapkan makan malam tim ekspedisi.

Malam di Dataran Noh bukanlah sesuatu yang menakutkan. Bahkan mungkin sangat mengasyikkan. Dengan adanya penerangan dari lampu tenaga surya serta bantuan mesin genset maka malam di puncak Dataran Noh menjadi suka cita yang tiada tara. Ditambah lagi, makan malam yang dihidangkan oleh sang guide adalah makanan khas Sunda. Wooiii...maakk jaaanggg..., nikmat kali pun rasanya, begitulah kata salah seorang pendaki. Jadilah malam di puncak Dataran Noh menjadi malam yang penuh suka cita. Tim ekspedisi seakan lupa bahwa mereka baru saja melalui medan perjuangan yang tidak mudah dan penuh resiko. Akan tetapi, pendakian sudah usai, malam ini menjadi milik para pendaki.

Menjelang tengah malam, sang guide mengingatkan untuk tetap berjaga-jaga karena biasanya ada binatang kera suka mampir ke perkemahan. Dan sang guide meminta izin mendahului istirahat karena merasa kelelahan. Tak lupa ia mengingatkan untuk tidak tidur terlalu larut karena esok pagi masih ada perjuangan yang harus ditempuh oleh tim ekspedisi.

Menuruni Tebing

Setelah bermalam di Dataran Noh, pagi-pagi sekali, tim ekspedisi kembali menuruni sisi tebing Gunung Parang. Perjalanan menuruni ketinggian tebing Gunung Parang tidaklah seberat saat proses mendaki. Dan para pendaki pun tampak rileks setelah semalaman beristirahat dengan cukup.

Awalnya sang guide akan menyiapkan sarapan pagi di puncak Dataran Noh. Namun hasil diskusi anggota tim, diputuskan untuk makan pagi dilanjutkan di bawah saja atau di base camp. Jadilah seluruh personel tim segera merapikan tempat perkemahan sambil berkemas-kemas untuk turun. Tak lupa membersihkan sisa makanan tadi malam. Selanjutnya, mengenakan perlengkapan perorangan yang wajib digunakan sebagai alat keamanan menuruni tebing Gunung Parang.

Setelah berdoa yang dipimpin oleh sang leader, seluruh anggota tim bersiap untuk menuruni tebing. Perjalanan turun tidak membutuhkan waktu lama seperti halnya saat mendaki. Kurang dari satu jam saja, tim ekspedisi sudah tiba di Pos Goa Kembar yang terdapat di sisi tebing. Dari goa ini para pendaki tidak perlu lagi menuruni anak tangga karena telah tersedia alat biley yang terikat pada sebuah anchor di tebing. Sehingga para pendaki hanya membutuhkan sebuah figur 8 jika akan meluncur sendiri. Namun, sang guide mempersilakan untuk langsung mengikat mati ujung tali kern mantel pada carabiner skrew yang kemudian akan di-biley secara satu per satu oleh sang guide. Yang mana, setiap pendaki hanya perlu menapak turun pada dinding tebing karena sang guide sudah berlaku sebagai bileyer di titik Pos Goa Kembar. Dan keamanan pendaki pun sangat terjamin dengan adanya ikatan tali pada tubuh bileyer dan anchor di sisi tebing.

Ketinggian tali rappeling ini sekitar 120 meter dari tanah dan tali kern mantel yang terpasang adalah sepanjang 150 meter. Di sisi goa, para pendaki yang hendak turun dapat menunggu sambil memperhatikan anggota lainnya di-biley. Ketika pendaki di-biley melakukan proses turun maka akan melalui dua buah celah di tebing yang merupakan bagian dari punggung tebing. Untuk menghindari si pendaki turun bergeser ke kanan dan ke kiri telah pula disiapkan sebuah pembatas besi. Hal ini berguna agar tali tidak bergesekan secara langsung dengan batu-batu atau punggung tebing.

Dengan teknik ini, maka tiga orang pendaki dapat diturunkan dalam beberpa menit saja. Namun, sang leader berupaya dengan jalan lain. Ketika anggota lain masih di-biley oleh sang guide, sang leader tetap menuruni anak tangga secara bergantian. Hingga sampai ke anak tangga terakhir, saat itu pula anggota terakhir tiba di dataran bumi menyentuh tanah. Yaa.., memang kecepatan turun dengan teknik biley akan lebih cepat daripada menuruni anak tangga. Sebab, pendaki hanya cukup berjalan turun dengan posisi seat rappeling. Sebagai orang terakhir, sang guide melakukan teknik turun rappeling hingga ke tanah.

Lagu Batak Tertinggi di Indonesia

Di tengah letihnya menuruni tebing si gunung parang, tim ekspedisi sesekali beristirahat pada bidang yan tidak terlalu tegak. Sambil bergatungan pada anchor besi, sebuah lagu khas dari bilangan Sumatera Utara meluncur dengan sangat nyaring. Ya.., lagu "Nunga Adong Nampuna Au" karya sang legendaris "Dompak Sinaga" terdengar merdu di ketinggian 750 mdpl. Suasana ini membuat anggota tim sedikit terhibur dan lupa akan lelah yang mendera, hehe...

Terkadang, syair-syair lagu karya fenomenal Ebiet G. Ade pun terdengar sepanjang proses turun dari ketinggian. Masih Ada Waktu, Lagu Untuk Sebuah Nama mengiringi setiap jejak langkah pendaki yang membuat proses pendakian ini menjadi mengasyikkan.

Pendakian ini merupakan sebuah pengalaman berharga bagi seluruh pendaki. Oleh karena itu, kegembiraan dan kebahagiaan para anggota tim terpancar dari semangat yang ditunjukkan selama pendakian, baik proses naik maupun turun. Serta kedisiplinan para pendaki dalam mematuhi aturan yang diterapkan oleh sang pemandu selama di tebing. Ketika pendakian tuntas, wajah-wajah suka cita pun memancar dari seluruh pendaki dengan meluncurnya lagu-lagu alam khas Ebit G. Ade.

Ucapan Terma Kasih Pada Sang Khalik

Tetibanya orang terakhir di bumi disambut hangat oleh seluruh anggota tim ekspedisi. Pertanda tuntas sudah kegiatan yang paling beresiko dalam ekspedisi ini. Tak ayal lagi, seluruh anggota tim berpelukan sebagai tanda bahagia. Sang leader juga mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang baik dan semangat yang ditunjukkan oleh seluruh anggota tim. Sebagai ucapan syukur dan terima kasih, akhirnya sang leader kembali memimpin doa bersama atas keselamatan dan perlindungan yang telah diberikan oleh sang Khalik.

Tak ada gading yang tak retak, mungkin ada perilaku tak diharapkan selama pendakian, sang leader berharap bukan merupakan sebuah hambatan untuk terus maju. Setelah usai pendakian pun sang leader berharap komunikasi akan terus berjalan terhadap Skywalker Adventure karena ekspedisi sebenarnya belumlah tuntas. Masih ada sisi lain tebing yang akan menjadi santapan tim ekspedisi berikutnya.

Pendakian Berikutnya

Selesainya pelaksanaan pendakian di Gunung Parang bukan berarti proses pendakian sudah tuntas. Karena masih ada beberapa jalur lagi yang harus ditelusuri oleh tim ekspedisi. Masih ada jalur 1200 mdpl yang dapat ditempuh lewat proses "climbing" maupun proses "hiking."

Nantikan berita pendakian selanjutnya.

Rivelson Saragih
(Praktisi pegiat alam bebas)

Komentar