Jumat, 30 Oktober 2020 | 13:45
NEWS

Polisi Dapat Laporan, KKB di Papua Siap Perang Terbuka

Polisi Dapat Laporan, KKB di Papua Siap Perang Terbuka
Ilustrasi KKB (Suara.com)

ASKARA - Seorang pendeta tewas diduga ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada 19 September 2020 lalu. 

Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw, Kamis (24/9) malam, mengaku anggotanya kesulitan datang ke Hipadipa untuk melakukan olah TKP penembakan pendeta yang diketahui bernama Yeremias Zanambani itu. Alasannya karena wilayah itu sudah dikuasai KKB. 

Selain itu, akses menuju wilayah tersebut hanya satu jalan dengan waktu tempuh sekitar delapan jam dari Sugapa. 

Lantaran itu, kata Irjen Paulus, pihaknya akan meminta bantuan satuan tugas (satgas) yang bertugas di Intan Jaya untuk mengamankan perjalanan dan proses olah TKP. 

Diakui, tanpa melakukan olah TKP, polisi tidak bisa menyelidiki kasus tersebut walaupun sudah ada keterangan dari para saksi. 

Olah TKP harus dilakukan untuk mengetahui posisi sebetulnya saat korban pertama kali ditemukan serta investigasi lainnya guna mengungkap kasus tersebut. 

Paulus mengatakan, KKB juga dilaporkan berada di sekitar Sugapa. Dari laporan yang diterima, beberapa kelompok lainnya sedang menuju wilayah Kabupaten Intan Jaya dan berencana melakukan perang terbuka dengan TNI-Polri. 

Kekuatan kelompok bersenjata yang saat ini dipimpin Sebinus Waker berjumlah sekitar 50 orang dengan jumlah senjata sebanyak 17 pucuk yang merupakan hasil rampasan dari TNI-Polri. 

Sebinus Waker merupakan wakil dari Ayub Waker yang tewas ditembak di Kali Kopi, kata Irjen Pol Waterpauw.

Sebelumnya, anggota Komisi I DPR RI, Yan Permenas Mandenas meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto membentuk tim investigasi gabungan untuk mengungkap tewasnya Pendeta Yeremias Zanambani. 

Yan mengaku, mendapatkan beberapa kronologis yang berbeda yaitu versi aparat keamanan, versi pemerintah Intan Jaya, masyarakat dan keluarga terkait tewasnya pendeta Yeremias.

"Ini terdapat versi berbeda, dari aparat penegak hukum mengatakan kelompok kriminal yang sebagai pelaku penembakan. Mamun, versi masyarakat dan pemerintah daerah berbeda, yaitu anggota TNI diduga pelaku-nya. Kronologis dari masyarakat sudah saya terima dan sudah saya serahkan langsung kepada Panglima TNI saat rapat resmi Komisi I DPR yang juga dihadiri Wakil Menteri Pertahanan," kata Yan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/9). 

Hal itu disampaikan Yan Mandenas saat rapat kerja Komisi I DPR RI dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Dia meminta Panglima TNI serius mendalami kronologis yang diberikannya yang berasal dari aspirasi masyarakat dan pemerintah daerah. 

Hal itu menurut dia bisa menjadi masukan yang berimbang sebagai bahan investigasi selain itu juga mampu menepis Informasi simpang siur terhadap penembakan yang menewaskan Pdt Yeremias. 

"Termasuk kepada Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) sudah saya sampaikan dan juga meminta langsung kepada beliau agar memerintahkan jajaran-nya untuk melalukan investigasi yang mendalam," ujarnya. 

Yan menegaskan tidak boleh ada kebohongan dalam penelusuran fakta yang terjadi sehingga dirinya meminta fakta kejadian dipaparkan ke publik.

Sebelumnya, Pendeta Yeremia Zanambani dilaporkan meninggal akibat ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Hipadipa, Kabupaten Intan Jaya. 

"Memang benar ada laporan tentang meninggal-nya tokoh agama akibat luka tempat di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Intan Jaya, pada Sabtu (19/9)," kata Kapen Kogabwihan III, Kol Czi IGN Suriastawa, melalui rilisnya, Minggu (20/9). 

Dia mengatakan, tidak benar korban ditembak TNI seperti yang disebar di media sosial karena itu fakta yang diputarbalikkan. 

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal menegaskan, kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Jelek Waker merupakan dalang penembakan terhadap Pdt. Yeremia Zanambani di Hipadipa. (ant/jpnn)

Komentar