Minggu, 12 Juli 2026 | 04:14
TRAVELLING

Keistimewaan Wisata Budaya Yogyakarta dan Jawa Tengah Curi Perhatian Wisatawan Mancanegara

Keistimewaan Wisata Budaya Yogyakarta dan Jawa Tengah Curi Perhatian Wisatawan Mancanegara
Candi Borobudur (Kemdikbud.go.id)

ASKARA - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mempromosikan potensi wisata budaya yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ke pasar Eropa, terutama Jerman.

Direktur Pemasaran PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Hetty Herawati mengatakan, Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki potensi wisata daya tarik dari sisi kebudayaan.

"Ada banyak keraton dan juga candi yang terdapat di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Selain itu, kita juga punya hasil kerajinan tangan dan kesenian tradisional yang unik dan menarik bagi wisatawan," kata Hetty dalam keterangnya, Jumat (14/8).

Hetty mencontohkan, potensi wisata yang ada di Candi Prambanan yang dikelola PT TWC. Sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, wisatawan tidak hanya akan memperoleh pengetahuan sejarah. 

Namun wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan Sendratari Ramayana Prambanan di malam hari di Candi Prambanan.

"Wisatawan bisa merasakan pengalaman bagaimana rasanya menjadi seorang arkeolog, dalam mengkonservasi peninggalan sejarah Candi Sewu," katanya.

Hetty juga meyakinkan masyarakat Jerman agar tidak perlu khawatir untuk berkunjung ke Yogyakarta dan Jawa Tengah di era adaptasi kebiasaan baru. 

Destinasi wisata seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan telah menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability).

"Di masa penutupan pada Maret hingga Juni 2020, kami selalu melakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan di lokasi destinasi wisata," tuturnya.  

Sehingga menjadi kesempatan meningkatkan pariwisata berkelanjutan, dengan menerapkan protokol kesehatan dan memberikan pelatihan bagi staf.

Plt Direktur Pemasaran Regional III (Eropa, Timur Tengah, Amerika, dan Afrika) Kemenparekraf, Raden Sigit Witjaksono mengatakan, penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE bentuk komitmen pelaku wisata di tengah pandemi. 

"Kampanye protokol CHSE ke masyarakat dan pelaku pariwisata dan menerapkan protokol CHSE di destinasi dan daerah yang telah melewati masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)," ucap Sigit.
 
Guru Besar Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, Wiendu Nuryanti, menyebutkan hampir 40 persen wisatawan mancanegara asal Eropa datang berkunjung ke Indonesia karena tertarik dengan tradisi dan budaya yang beraneka ragam.
 
"Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia adalah kebanggan tersendiri bagi kita dan menjadi kekuatan kita menyambut kedatangan turis ke Indonesia,” tandas Wiendu.

Komentar