Kamis, 23 Juli 2026 | 11:04
NEWS

KWI Tidak Buru-buru Mengadakan Ibadah

KWI Tidak Buru-buru Mengadakan Ibadah
Ketua Komisi Hubungan Antar Keyakinan KWI Romo Agustinus Heri Wibowo. (Dok. BNPB)

ASKARA - Sebagian besar gereja katolik di Indonesia masih mempersiapkan kegiatan peribadatan. Dari sarana prasarana hingga protokol kesehatan demi mencegah penyebaran Covid-19. 

Ketua Komisi Hubungan Antar Keyakinan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Agustinus Heri Wibowo mengatakan bahwa seluruh gereja mematuhi aturan yang berlaku. Baik yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Termasuk Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah Pada Masa Pandemi Covid-19.

"Kami menaati Surat Edaran Menteri Agama tersebut. Secara umum kami tidak buru-buru mengadakan ibadah. Intinya kami disiplin dan taat pada protokol kesehatan," ujarnya di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (19/6).

Supaya tempat ibadah tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19, tercatat 57 persen keuskupan belum mengadakan ibadah fisik di gereja. Sehingga ibadah dilakukan secara virtual. 

Data itu berdasarkan KWI yang membina 37 keuskupan di 34 provinsi. Kebijakan ibadah diserahkan kepada masing-masing keuskupan.

"Secara nasional itu 57 persen dari 37 keuskupan yang tersebar di 34 provinsi belum mengadakan ibadah di gereja. Jadi masih streaming atau online," kata Romo Agustinus Heri. 

Sementara ada 43 persen keuskupan sudah dibuka untuk ibadah tetapi sepenuhnya harus menyesuaikan situasi dengan protokol kesehatan yang ketat. 

"Berkoordinasi dengan pemerintah terkait perizinan. Jadi, misalnya zona hijau sudah melakukan paroki tapi tidak semua paroki di keuskupan itu langsung mengadakan," ujar Romo Agustinus Heri. 

Secara umum, standar protokol kesehatan telah diupayakan dilaksanakan. Bahkan, terdapat tim khusus mempersiapkan waktu yang tepat untuk tempat ibadah mulai dibuka.

"Kebijakan disposisi ibadah diserahkan kepada masing-masing keuskupan, karena sistem zonasinya tentu sangat berbeda-beda," jelas Romo Agustinus Heri. 

Komentar