Kata Yenny Wahid Soal Kriminalisasi Pengunggah Lelucon Polisi Ala Gus Dur
ASKARA - Putri kedua Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yenny Wahid angkat bicara terkait tindakan kepolisian yang menangkap warganet pengunggah lelucon mengenai tiga polisi jujur.
Pemilik nama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid itu menilai bahwa humor Gus Dur terkait tiga polisi jujur sudah beredar di tengah masyarakat sejak lama.
"Sudah dimuat di buku lah, di tulisan lah, di mana-mana. Bahkan jadi bahan pidato banyak orang. Bahkan pernah dikutip oleh seorang petinggi kepolisian dengan tanpa beban dan bebas dalam semangat autokritik," jelasnya saat dihubungi Askara, Kamis (18/6).
Yenny Wahid pun menyesalkan tindakan aparat kepolisian lantaran terkesan reaksioner dan berlebihan.
"Jadi artinya bahwa sikap polisi sampai memanggil orang yang posting humor Gus Dur itu ya agak over sensitif menurut saya, berlebihan," katanya.
Tidak hanya kepolisian yang menjadi sasaran guyonan Gus Dur melainkan juga seperti DPR, institusi kepresidenan, tokoh-tokoh dan lainnya. Yenny Wahid menegaskan bahwa hal itu seharusnya dianggap biasa sehingga tidak perlu dianggap berlebihan.
"Yang namanya institusi negara menjadi sasaran humor, sasaran satire itu banyak dari dulu sudah ada, sudah sering terjadi di masyarakat kita sampai sekarang. Anggota DPR dijadikan bahan olok-olok bahkan di depan muka anggota DPR-nya sendiri, di sindir-sindir. Institusi kepresidenan juga sama, jadi bahan satire, menteri kabinet, tokoh-tokoh, tokoh agama semuanya, jenderal TNI juga sama, itu biasa. Dan itu adalah hal yang biasa saja. Bahkan sekarang tidak ada yang menyikapi terlalu reaktif," paparnya.
Menurut Yenny Wahid, daripada bersikap reaktif lebih baik menjadi bahan introspeksi dengan melakukan pembenahan diri. Khususnya kepada institusi kepolisian, di mana masyarakat berharap besar kepada kepolisian untuk lebih mengayomi.
"Saya berharap aparat kepolisian juga sama, menyikapi semua ekspresi yang ada dengan penuh kearifan dan kedewasaan sikap. Justru menggunakan humor tersebut sebagai sebuah bahan autokritik, melakukan pembenahan diri ke depan," tuturnya.
"Harapan masyarakat kepada institusi kepolisian kan tinggi sekali. Nah agar aparat kepolisian itu bisa melayani masyarakat bukan malah mengitimidasi masyarakat," lanjutnya.
Masyarakat, juga berharap agar peran kepolisian lebih baik lagi. Terlebih saat ini pembenahan di institusi kepolisian terus dilakukan, sehingga jangan sampai rusak. Terlebih dengan kejadian penangkapan warganet hanya karena mengunggah ulang lelucon Gus Dur.
"Justru kita mengharapkan polisi lebih bagus lagi performanya ke depan. Kita sudah melihat banyak kok pembenahan-pembenahan yang dilakukan institusi kepolisian, kita sudah melihat prestasi-prestasi yang mereka capai. Jangan sampai ini rusak gara-gara penyikapan yang berlebihan terhadap hal-hal yang sebetulnya tidak penting," tandas Yenny Wahid.
Seorang warganet bernama Ismail Ahmad dipanggil kepolisian Kepulauan Sula, Maluku Utara akibat mengunggah lelucon Gus Dur terkait tiga polisi jujur. Ismail Ahmad mengunggah lelucon tersebut di akun Facebook pada Jumat lalu (12/6)
"Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur dan Jenderal Hoegeng," tulisnya.
Namun unggahan tersebut dipermasalahkan, Ismail Ahmad diminta untuk menghapusnya hingga akhirnya dia ditangkap. Ismail Ahmad juga diminta untuk meminta maaf atas unggahan tersebut.
Sepanjang hari ini, tagar Gus Dur sempat trending di Twitter dengan serbuan puluhan ribu unggahan, termasuk tagar #IndonesiaDaruratHumor.
Penangkapan Ismail Ahmad sekaligus memperkental rasa heran masyarakat di sosial media perihal keadilan di Indonesia. Setelah sebelumnya komika Bintang Emon yang difitnah dan dilaporkan akibat mengkritisi tuntutan hukuman untuk pelaku penyiraman air keras penyidik KPK Novel Baswedan.

Komentar