Kisah Darnella Frazier, Perekam Video Tewasnya George Floyd yang Trauma Berat
ASKARA - Sebuah video memperlihatkan kegelisahan Darnella Frazier, remaja yang merekam kejadian kematian George Floyd yang tewas akibat tekanan lutut anggota kepolisian Minneapolis, Derek Chauvin.
Kegundahan Frazier terekam dalam sebuah video yang tersebar di media sosial yang menangis atas reaksi dunia dari kematian George Floyd. Frazier mengaku, tertekan dan di-bully atas tindakannya yang merekam video sehingga mencuat konflik rasialisme di Amerika Serikat.
"Aku melihatnya mati. Saya memposting video tadi malam dan itu hanya viral. Dan semua orang bertanya bagaimana perasaan saya? Saya tidak tahu bagaimana rasanya. Karena itu sangat menyedihkan," katanya.
Frazier mengatakan, saat melihat Floyd tersiksa dirinya sedang berjalan dengan sepupunya dan kemudian mengambil ponsel serta merekam kejadian tersebut.
Dia melihat Chauvin berlutut di leher George Floyd dan mendengar Floyd berteriak hingga tidak bisa lagi bernapas.
Menuruy Frazier, Chauvin dan para petugas lainnya yang berada di lokasi tidak prihatin apa yang dirasakan Floyd saat itu, kejadian tersebut bahkan membuat dirinya kini menjadi trauma.
"Dia (Floyd) berkata, 'Tolong aku tidak bisa bernapas, aku tidak bisa bernapas.' Dan mereka tidak peduli. Mereka membunuh orang ini, dan aku ada di sana! Aku seperti 5 kaki jauhnya! Sangat traumatis," ungkapnya.
Atas kejadian itu, Frazier mengaku banyak kalangan yang menganggap dirinya hanya ingin mencari perhatian belaka. Dalam postingannya, disebutkan bahwa yang dilakukannya sama sekali tidak ada niat untuk kepentingan, maupun dibayar.
"Aku melakukannya untuk mempengaruhi?? Untuk Perhatian?? Apa?? Untuk dibayar?? Sekarang semua terdengar bodoh dan bodoh!! Saya tidak berharap siapa pun yang tidak berada di posisi saya untuk memahami mengapa dan bagaimana saya merasakan hal yang saya lakukan!!" ungkap Frazier sambil menangis disaksikan sejumlah demonstran lainnya.
Ia menuturkan, dirinya hanyalah remaja dengan usia di bawah 20 tahun. Tentunya, semua orang pasti tahu bahwa tidak mungkin dirinya akan melawan seorang polisi.
"Pikirkan olehmu, aku masih kecil! 17 tahun, tentu saja saya tidak akan melawan seorang polisi. Saya takut. Aku tidak peduli tentang apa yang kalian akan lakukan, karena apakah kalian akan berada di sana? tidak," ujarnya.
Menurutnya, jika tidak merekam kejadian tersebut maka polisi yang membunuh Floyd tersebut tetap dapat hidup dengan baik dengan pekerjaannya itu. "Jika bukan saya, empat polisi akan tetap memiliki pekerjaan mereka, menimbulkan masalah lain, dan polisi itu mungkin akan menutupi perbuatannya," tuturnya.
Seharusnya, kata Frazier, tidak ada yang melakukan perundungan kepadanya atas apa yang dilakukannya tersebut, bahkan seharusnya berterima kasih.
"Dari pada meremehkan, berterima kasihlah padaku! sebab bisa saja hal itu terjadi pada orang-orang yang kamu sayangi, dan kamu pasti ingin melihat kebenarannya," tegas dia.
Sementara itu diwawancarai TMZ, ibu dari Frazier mengaku putrinya kini tengah menderita kecemasan sosial. Namun, dirinya percaya bahwa apa yang dilakukan anaknya tidak salah demi menangkap pembunuhan George Floyd.

Komentar