Senin, 08 Juni 2026 | 02:56
NEWS

Kisah Inspiratif Mardigu Wowiek Dirikan Rumah Yatim Indonesia

Kisah Inspiratif Mardigu Wowiek Dirikan Rumah Yatim Indonesia
Pengusaha Mardigu Wowiek Prasantyo mengisahkan pendirian Rumah Yatim Indonesia. (Facebook)

ASKARA - Pengusaha Indonesia Mardigu Wowiek Prasantyo membagikan kisahnya dalam mendiri yayasan untuk membantu anak yatim dan dhuafa bernama Rumah Yatim Indonesia. 

Kala itu, Mardigu punya satu keinginan yang belum terwujud yakni memberangkatkan haji nenek dari ibu dan ayahnya. Pada tahun 1996 barulah dirinya bisa memberangkat haji sang nenek.

"Jadi nenek saya dari ibu dan nenek saya dari bapak dua-duanya sudah 70 tahun dan belum pernah berhaji. Saya memutuskan tahun 1996 ikut haji akbar waktu itu," tuturnya dalam akun Facebook Mardigu WP.

Terlaksanalah ibadah haji itu. Saat hendak melempar jumrah di Mina, pengusaha asal Bandung tersebut mengaku khawatir dengan kondisi fisik neneknya. Karena melempar jumrah perlu kondisi fisik yang prima. 

"Di momen itu mbah saya waktu mau berangkat. Saya gelisah karena mbah saya mau lempar jumrah," kata Mardigu yang memiliki empat anak. 

Ketika menunggu neneknya untuk melempar jumrah Mardigu membaca Surat Al-Kahfi yang mengisahkan Nabi Musa bertemu Nabi Khidir. Pembahasan mengenai manfaat mengurus anak yatim. 

Dikisahkan bagaimana Nabi Khidir membangun tembok hampir roboh agar harta terpendam di dalamnya yang merupakan peninggalan orang tua anak yatim tersebut tetap terjaga. (Al-Kahfi ayat 82).

Maknanya membangun tembok yang ingin roboh sebenarnya itu adalah harta warisan untuk anak yatim yang harus dijaga. 

"Nabi Khidir bilang itu milik anak yatim dan di anak yatim itu ada harta. Saya stabilo, saya urek-urek kayak gini. Ini menarik, ini kan password. Saya gak usah analisa lagi," cerita Mardigu. 

Proses lempar jumrah pun dapat dilakukan dengan lancar tanpa berdesak-desakan. Dari pengalaman itu akhirnya membuat niat dalam hati Mardigu bersungguh-sungguh mendirikan yayasan anak yatim. 

"Ketika mau lempar jumrah mbah saya lancar melempar jumrah. Gua mesti komit nih. Namanya dulu Yayasan Khusnul Khotimah," bebernya. 

Sekembalinya dari berhaji Mardigu mewakafkan sebuah bangunan di daerah Jatibening yang kemudian berdiri yayasan yang kini menjadi Rumah Yatim Indonesia. Panti yatim itu mulai mengurus 49 anak laki-laki. Kini jumlah anak asuhnya sudah mencapai puluhan ribu orang.   

"Karena saya tidak mengerti manajemennya, ada sahabat saya dari Pesantren Hidayatullah itu dia mengurus. Kita ubah akhirnya jadi Rumah Yatim Indonesia," tandas Mardigu. 

Komentar