Rabu, 17 Juni 2026 | 18:28
TRAVELLING

Penantian Panjang Summit Gunung Lawu, Dengkul Mau Copot

Penantian Panjang Summit Gunung Lawu, Dengkul Mau Copot
Para pendaki Jakarta mendaki Gunung Lawu (Dokumentasi Pribadi)

ASKARA - Selain kental dengan nuansa mistisnya, Gunung Lawu juga memiliki trek yang cukup menantang bagi pendaki pemula. Gunung itu memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl). 

Termasuk gunung favorit membuat para pendaki asal Jakarta memutuskan mendaki gunung yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur itu. Mereka berangkat 10 orang dari Kemayoran dan memilih ke puncak Gunung Lawu via Candi Cetho.

Mereka melaksanakan pendakian pada Agustus 2019. Setibanya di pengisian simaksi dan berdoa sebelum memulai perjalanan. Para pendaki melewati situs peninggalan sejarah yakni Candi Kethek. Jalur pendakian akan berada di tengah kawasan kebun warga.

Ketika tiba di pos 1 Mbah Branti jalur masih belum menanjak. Waktu menunjukkan masih sore tepatnya pukul 14.30 WIB. Akhirnya tak terasa sudah sampai di pos 2 Brak Seng. 

"Ada tempat yang nyaman buat istirahat sejenak. Kita keluarin cemilan seperti makanan ringan dan madu. Hanya 15 menit kemudian lanjut jalan lagi," kata Januardi (25), salah seorang pendaki. 

Dari pos 2 menuju ke pos 3 Cemoro Dowo mereka menempuh kurang lebih 1 jam. Karena waktu sudah hampir malam akhirnya memutuskan beristirahat dan membuka tenda di dekat pos 3. 

"Di sini dekat dengan mata air, jadi bisa buat nambah persedian air dan bisa digunakan untuk keperluan masak. Kami lanjut lagi mungkin jelang dini hari," tutur Janu, disapanya. 

Untuk menghindari suatu hal yang tidak diinginkan. Mereka berencana melanjutkan pendakian menjelang subuh. Meski sebagain ada yang meminta malam hari. Namun hal itu tidak terlaksana karena jam tidur mereka ngaret. 

"Kita hanya membawa tas kecil dan persedian logistik untuk summit. Tenda dan kerik pun ditinggal. Supaya lebih ringan saat menuju puncak," ucap Janu. 

Tiba di Pos 4 Penggik, sinar matahari sudah mulai terbit dan burung-burung jalak kadang mendekati para pendaki. Kala itu pendaki cukup untuk bareng puncak. 

Namun mereka tertinggal, karena sebagin masih terkantuk akibat kurang tidur. Perjalanan pun terasa lama. Bahkan pos 5 Bulak Peperangan tidak kunjung sampai. Padahal mereka menargetkan sebelum siang sudah di puncak. 

"Kita udah pegel ditambah ngantuk. Malah sempet ada yang tidur dulu. Karena gak kuat berjalan. Treknya sudah mulai menanjak dan terjal," beber Janu. 

Waktu sudah pukul 09.00 WIB, target summit untuk melihat sunrise pun meleset. Sepanjang jalan menuju pos 5 terbentang padang rumput yang sangat luas. Tapi dedaunan dan rumputnya sangat gersang. 

"Di pos 5 sampai jam 11.00 WIB, harus menempuh padang rumput lagi untuk mencapai pos 6 Gupak Menjangan. Setelah itu bisa makan di warung mbok Yem," kata Janu. 

Terik panas matahari dan kaki yang pegal dirasakan mereka. Berharap dapat pemandangan ketika di puncak. Justru hal lain yang mereka dapat dan tidak bisa bertahan lama.

"Tiba di warung mbok Yem makan nasi pecel dan minum teh panas. Lanjut ke puncak sudah hampir jam 13.00 WIB. Tanahnya pun gersang jadi hanya bisa ambil foto sebentar," ceritanya. 

Komentar