Jumat, 10 Mei 2024 | 04:46
NEWS

Kepiluan Tenaga Medis, Gadai Motor dan Maskawin Sampai Tak Ada Masker

Kepiluan Tenaga Medis, Gadai Motor dan Maskawin Sampai Tak Ada Masker
Tenaga Medis Corona (Kompas/Heru Sri Kumoro)

ASKARA - Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena insentif dari rumah sakit (RS) tempatnya bertugas belum turun sejak dua bulan terakhir, sejumlah perawat di ruang isolasi rumah sakit rujukan Covid-19 Cianjur, Jawa Barat, terpaksa menggadaikan barang berharga.

Tidak hanya insentif yang belum turun, beberapa orang perawat yang menangani pasien ODP dan PDP itu mengungkapkan, alat pelindung diri (APD) untuk dipakai selama bertugas seperti masker sejak dua hari terakhir sudah tidak ada stoknya, sehingga mereka yang bertugas terpaksa membeli sendiri.

"Sudah dua hari ini, tim medis yang menangani pasien Covid-19 tidak dibekali APD lengkap karena minimnya stok, meskipun rumah sakit tempat kami bertugas merupakan rumah sakit rujukan. Ini juga dialami tim medis di rumah sakit lain milik pemerintah," kata Gan, tenaga medis di RSUD Cianjur yang minta identitasnya disamarkan pada wartawan, Kamis (7/5).

Ia menjelaskan sejak dua hari terakhir, selain insentif yang belum didapat, APD dan makanan tambahan yang biasa didapatkan sebelum bertugas sudah tidak ada. Sehingga, tidak jarang mereka yang bertaruh nyawa di garda terdepan penanganan Covid-19 membekali diri dengan vitamin atau ramuan yang dibeli sendiri.

Bahkan, ada yang terpaksa menggadaikan sepeda motor untuk menutupi kebutuhan rumah tangga karena insentif yang diharapkan lebih dari RS dan bantuan pemerintah pusat tidak kunjung cair. 

"Tidak hanya saya, tim medis yang satu jadwal dengan saya terpaksa menggadaikan mas kawin untuk menutupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari karena insentif dari rumah sakit belum juga turun," katanya.

Hal senada terucap dari Ren, tenaga medis perempuan yang sejak dua bulan terakhir dilibatkan sebagai tim penanganan pasien Covid-19, terpaksa menyewa kamar kos untuk menjaga kesehatan keluarga, karena memiliki anak balita dan mertua yang sudah berusia lanjut.

Namun, upaya tersebut tidak mendapat bantuan dari pemda atau RS tempatnya mengabdi sejak beberapa tahun lalu. Oleh karena itu, dia dan beberapa perawat lainnya melakukan hal yang sama dengan harapan ada perhatian dari pemda terkait tempat untuk istirahat bagi tenaga medis.

"Katanya dulu mau diadakan, tapi sampai saat ini belum terwujud, sehingga kami memilih sayang keluarga, meskipun harus mengeluarkan uang lebih secara pribadi karena takut mereka rentan terpapar selama kami bertugas di rumah sakit," ujarnya. 

Hal yang sama juga diakui sebagian besar tim medis yang setiap hari bertugas di perbatasan. Mereka yang setiap hari bertemu dengan berbagai kalangan warga yang kemungkinan positif Covid-19, hanya menjalankan tugas dengan APD seadanya, seperti jas hujan yang dibeli sendiri di pasar swalayan.

"Harapan kami, dengan adanya dana penanganan COVID-19 yang nilainya Rp 100 miliar, pemda dapat menyediakan stok APD yang sesuai dengan standar WHO. Selama ini kami membeli sendiri APD dari jas hujan yang harganya masih terjangkau," kata Deis tenaga medis di satu puskesmas di Cianjur utara. (ant/jpnn)

Komentar