Menyusuri Jantung Indonesia dari Pulau Kei Besar
ASKARA - John Kei berasal dari Kei Besar. Keingintahuan menyaksikan daerah ini sesungguhnya dimulai ketika langkah pertama kita diterima dengan doa.
Begitulah pengalaman saya ketika menjejakkan kaki di Pulau Kei Besar bagian dari gugusan Kepulauan di Maluku Tenggara.
Diiringi tarian adat dan doa leluhur, masyarakat menyambut setiap tamu yang datang dengan permohonan sederhana namun mendalam: semoga perjalanan ini diberkati, dijauhkan dari mara bahaya, dan membawa kebaikan bagi semua. Sebuah tradisi yang memperlihatkan bahwa penghormatan kepada sesama selalu dimulai dengan penghormatan kepada Sang Pencipta dan warisan para leluhur.
Di dermaga Elat, telah menanti Rm. Yopie, Pr., selaku Vikaris Episkopal Kepulauan Kei Besar, bersama Kapolsek, perwakilan Danramil, para pastor, dan Ketua Dewan Pastoral Paroki Elat Katlarat, Gereja Emanuel. Kehadiran mereka bukan sekadar seremoni penyambutan, melainkan simbol indah bahwa Gereja, negara, dan masyarakat berjalan berdampingan melayani kehidupan.
Pulau Kei Besar berada dalam kawasan yang oleh pemerintah dikategorikan sebagai wilayah 3T —Terpencil, Terluar, Terdepan. Bagi sebagian orang, istilah itu mungkin hanya terdengar sebagai klasifikasi administratif sejak pemerintahan Presiden SBY. Namun, ketika berada di sini, saya menyadari bahwa 3T bukan sekadar singkatan. Ia adalah wajah nyata Indonesia yang berjuang setiap hari menghadapi tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, akses pendidikan dan kesehatan, serta kerasnya alam yang membentuk karakter masyarakatnya.
Namun justru di tempat-tempat seperti inilah denyut Indonesia terasa begitu kuat.
Wilayah 3T sejatinya bukan halaman belakang Indonesia. Ia adalah beranda depan Republik. Di sinilah batas-batas negara dijaga. Di sinilah Merah Putih berkibar bukan sekadar sebagai lambang, tetapi sebagai harapan bahwa negara tidak pernah melupakan anak-anaknya.
Pembangunan di wilayah 3T seperti Kei Besar sangat membutuhkan pendidikan unggul mengubah pola pikir, pola sikap, pola hidup. Tidak cukup diwujudkan hanya dengan jalan, pelabuhan, atau jaringan listrik.
Kehadiran guru pendidikan dasar terbaik jadi keniscayaan, 3 tungku penjaga komunitas: pemangku adat, rohaniwan dan penyelenggara pemerintaha dan aparat negara yang mengayomi, tenaga medis yang mumpuni menjadi kekuatan dasar tata kelola transformasi SDM berkelanjutan.
Kehadiran itulah yang memberi wajah bagi negara dan menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Rasa syukur semakin mendalam ketika mengingat perjalanan panjang karya misi Gereja Katolik di Kepulauan Kei. Dari Langgur di Pulau Kei Kecil yang menjadi pusat perkembangan misi sejak awal abad ke-20, benih-benih Injil kemudian menjalar menyeberangi laut menuju desa-desa di Pulau Kei Besar, mulai dari Desa Holat sejak 1924. Para misionaris menembus keterbatasan transportasi, cuaca yang tak menentu, dan kehidupan masyarakat yang masih sangat lekat dengan adat-istiadatnya dengan menumbuhkan iman melalui persahabatan, pendidikan dan kesehatan.
Hari ini saya menyaksikan buah dari benih yang dahulu ditanam dengan kerja keras dan pengorbanan menghadirkan wajah Gereja yang sederhana namun hidup, menjadi bagian dari denyut masyarakat Kei.
Perjalanan menyusuri jalan Kota Kecamatan Elat, menjumpai umat di rumah-toko deret sepanjang pesisir Kota Kecamatan Elat, bertemu anggota Polsek Elat, dan personel Koramil 1503 Elat memang membutuhkan tarikan nafas panjang.
Perjuangan melawan kemiskinan, mutu pendidikan, mengingatkan saya bahwa Indonesia sejatinya mesti dibangun dari pulau-pulau kecil seperti ini. Dari tempat-tempat yang jauh dari pusat pemerintahan sudah seharusnya mendapat perhatian ekstra, sebab Gereja selalu belajar bahwa warta Kerajaan Allah mulai dari pinggiran, dari kesederhanaan, dan bertumbuhnya selalu dekat di hati Tuhan.
Pagi hari di lereng perbukitan, pada Kapel Katlarat bersama seminaris St. Yohanes Paulus II, siswa SPAK (Sekolah Pendidikan Agama Katolik), para suster dan pastor, kami merayakan Ekaristi. Perayaan Santo Alfonsus Maria de Ligiori memaknai ekaristi menghidupi daya moralitas mewujudkan martabat manusia merdeka.
Terima kasih, Tuhan, Kei Besar bukan hanya menjadi perjalanan pastoral, tetapi juga menjadi kobar perjuangan kesaksian bahwa kasih Kristus mesti menjangkau hingga ke beranda depan Nusantara, tempat Indonesia berdiri teguh sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu harapan.
Salam sehat, limpah berkat.
+ Rm. Yos Bintoro, Pr.

Komentar