Warga Purbalingga yang Mudik Akan Dikarantina di Tengah Hutan Pinus
ASKARA - Salah satu pemudik yang diisolasi, Arifin (23) mengaku betah berada di tenda karantina.
Pemuda Desa Serang yang sebelumnya bekerja di Jakarta Barat tersebut sudah 10 hari menjalani karantina di dalam tenda.
“Ya saya disini atas keinginan sendiri, untuk menjaga keluarga di rumah, takutnya saya pulang membawa virus. Tapi selebihnya ya karena saya memang suka dengan suasana alam jadi betah,” kata Arifin seperti yang dimuat di laman Sekilas Info Purbalingga dan sekitarnya.
Sugito menyebut, selain untuk memberikan efek jera, motif lain dari program tenda karantina adalah promosi wisata.
Seperti diketahui, Desa Serang merupakan desa wisata dengan primadona kawasan Lembah Asri Serang.
Letaknya yang berada di kaki Gunung Slamet membuat udara di kawasan Desa Serang terasa sangat sejuk.
“Di hari-hari biasa, kawasan hutan pinus ini memang kompleks wisata, sehingga memang fasilitasnya sudah sangat lengkap,” katanya.
Selain wisata hutan pinus, yang tersohor dari Desa Serang adalah wisata petik stroberi, kolam renang, wisata berkuda dan bermacam permainan outbound.
“Semua wisata dikelola oleh BUMDes, pendapatan asli desa (PADes) yang diperoleh Desa Serang tahun 2019 sekitar 3,4 miliar dari sektor wisata,” terangnya.
Namun wabah virus corona ternyata berdampak besar bagi sektor wisata Desa Serang.
Seluruh obyek vital di Serang ditutup, 30 pegawai dirumahkan dan 160 pedagang mengosongkan lapak.
“Untuk pegawai BUMDes wisata kami berikan gaji 50 persen. Sambil menunggu wabah, kami terus berbenah membangun spot wisata baru dan menyiapkan media promosi,” kata Sugito.

Komentar