Senin, 08 Juni 2026 | 02:12
COMMUNITY

Ampera dan Penantian Mpu Gandring 2020

Ampera dan Penantian Mpu Gandring 2020
Ketum DPP LPK Lembaga Penghayat Kepercayaan di Indonesia Sri Eka Sapta Wijaya GalGendu. (Dok. pribadi)

ASKARA - Peringatan Hari Buruh Internasional 2020 atau May Day pada 1 Mei kemarin mayoritas diisi aksi sosial dengan seruan dan ajakan kepada masyarakat memerangi virus corona (Covid-19).

Adapun tuntutan para buruh adalah dengan menolak adanya omnibus law, pemutusan hubungan kerja massal, dan meliburkan buruh dengan tetap adanya upah serta tunjangan hari raya (THR) 100 persen. 

Memandang hal tersebut, Sri Eka Sapta Wijaya GalGendu yang merupakan ketua umum DPP LPK Lembaga Penghayat Kepercayaan di Indonesia menilai bahwa May Day di tengah pandemi Covid-19 mengingatkan tentang kisah Keris Mpu Gandring.

"Keris adalah alat, senjata, kekuatan. Mpu adalah sesebutan untuk orang yang dituakan dan Gandring adalah gegandringan atau tempat pendidikan untuk para calon pemimpin. Ini adalah makna nilai dari sejarah Keris Mpu Gandring," ujar Sri Eka saat berbincang dengan Askara, Sabtu (2/5).

Dia menuturkan, ketika itu, Ken Arok meminta Mpu Gandring untuk dibuatkan sebilah keris. Pada suatu hari Ken Arok menanyakan apakah kerisnya sudah jadi namun Mpu Gandring menjawab bahwa keris belum selesai sepenuhnya dibuat.

"Sehingga terjadilah perselisihan dan akhirnya Mpu Gandring terbunuh oleh keris buatannya sendiri. Dan kemudian terjadilah kutukan Keris Mpu Gandring membawa tewasnya tujuh keturunan," tutur Sri Eka. 

Kemudian dalam peristiwa pembunuhan Bupati Tunggul Ametung dengan Keris Mpu Gandring, yang terjadi saat itu adalah kondisi sakit. 

Sakit yang disebut Sri Eka bagi seorang bupati bukan sakit secara jasmani namun sakit secara pemerintahan.

"Maka dengan strategi nabok nyilih tangan lewat Kebo Ijo kemudian jadilah Ken Arok Bupati menggantikan Tunggul Ametung. Keris Mpu Gandring yang merupakan alat, senjata, kekuatan yang dibuat dan dididikkan di gegandringan (Lemhannas) oleh seorang mpu atau orang yang dituakan di tempat tersebut sebenarnya memiliki Ampera," paparnya. 

Menurut Sri Eka, Ampera sendiri adalah Amanat Penderitaan Rakyat. Sebab menjadi satu satunya alat, senjata serta kekuatan yang bisa dipakai untuk mengganti kekuasaan hanyalah Ampera. 

"Ir H Joko Widodo adalah presiden ke tujuh Republik Indonesia yang sekarang ini menghadapi permasalahan dan dampak Covid-19. Dan para buruh serta masyarakat di Indonesia sudah mulai menyuarakan Ampera," ujarnya.

Apakah nantinya Presiden Jokowi bisa menjawab dan menyelesaikan amanat penderitaan rakyat. 

"Ampera yang di May Day 2020 sudah disuarakan mirip Tritura. Maka kita tunggu Mpu Gandring 2020," tandas Sri Eka. 

Untuk diketahui, Sri Eka merupakan kelahiran Solo 18 Juli 1967 yang dibesarkan dalam lingkungan organisasi lintas agama dan Para Raja Raja Nusantara. Pria yang akrab disapa Eka itu juga pernah dekat secara spiritual dengan Almarhum Gus Dur dan Almarhum SISKS Pakubuwana XII. 

Komentar