Jumat, 19 Juni 2026 | 13:48
NEWS

Quraish Shihab: Salat Tarawih di Rumah Meneladani Rasul

Quraish Shihab: Salat Tarawih di Rumah Meneladani Rasul
Muhammad Quraish Shihab. (Nuonline)

ASKARA - Pandemi virus corona (Covid-19) telah mengubah banyak hal dalam kehidupan, termasuk pelaksanaan peribadatan.

Umumnya masyarakat mendatangi tempat ibadah untuk melakukan kegiatan keagamaan tapi kini semuanya harus dilakukan di rumah. 

Ulama Indonesia Muhammad Quraish Shihab menyadari bahwa pandemi virus corona membuat masyarakat diimbau beribadah di rumah. Demikian halnya dengan ibadah wajib saat bulan Ramadan yang tidak ada kaitannya dengan kondisi saat ini. 

"Ibadah wajib di bulan Ramadan itu ada dua, puasa dan zakat fitrah. Itu berkaitan dengan puasa. Dua ibadah wajib ini tidak ada kaitannya dengan kondisi yang dihadapi masyarakat dunia dewasa ini," ujarnya di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (24/4).

Menurut Quraish Shihab, ibadah wajib tersebut bisa dilaksanakan di mana saja, tidak harus di masjid. Seperti berpuasa atau membayar zakat fitrah yang biasanya dilaksanakan di masjid. 

Sementara ibadah sunah saat bulan Ramadan salah satunya ialah salat tarawih. Pemerintah telah mengimbau untuk melakukannya di rumah tentu tidak akan mengurangi nilai ketaatan.  

"Sekarang karena ada pandemi ini. Timbul permasalahan kalau pergi salat terawih ke masjid maka diduga keras oleh ahlinya bahwa itu bisa menjadikannya terjangkit penyakit," ucapnya. 

Dalam hal ini, agama menetapkan bahwa memelihara kesehatan itu adalah salah satu kewajiban umat. Oleh karenanya saat kondisi seperti ini tidak dianjurkan salat tarawih berjamaah ke masjid. 

Dikatakan Quraish Shihab, ada alternatif lain sebenarnya yang bisa setingkat dengan tidak ke masjid karena Rasulullah SAW. Ia mengambil contoh bahwa Nabi Muhammad mengajarkan salat tarawih di rumah. 

"Nabi hanya melakukannya tiga kali berturut-turut kemudian beliau melaksanakannya di rumah. Jika demikian kalau kita tidak ke masjid itu tidak ada masalah. Bahkan kita bisa berkata kalau salat di rumah justru meneladani rosul yang solat di rumah," tuturnya. 

Memang ini bukan berarti bahwa menjadi lebih baik yang dilakukan Sayyidina Umar yang menganjurkan di masjid. Tapi paling tidak punya landasan bahwa melaksanakan di rumah itu adalah contoh yang diberikan rasul dalam 27 malam dan tiga malam pertama itu di masjid. 

"Jadi jangan harus memaksakan diri harus ke masjid," imbuh mantan menteri agama di Kabinet Pembangunan VII tersebut.

Komentar