Okky Asokawati: Peluncuran Kartu Prakerja di Musim Covid-19 Potensial Bias
ASKARA - Kemunculan kartu prakerja seolah membawa angin segar di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Namun, peluncuran program prakerja bagi para pencari kerja berusia 18 tahun ke atas dan tidak sedang menjalani pendidikan formal ini dinilai bias.
Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Okky Asokawati mengingatkan efektivitas program kartu prakerja yang diluncurkan saat pandemi Covid-19. Menurutnya filosofi kartu pra kerja hakikatnya sebagai "kail" bagi yang belum mendapatkan pekerjaan agar mendapatkan pekerjaan.
"Namun peluncuran kartu prakerja di musim pandemi Covid-19 ini potensial menjadi bias karena akan keluar dari filosofi program ini," nilainya, Kamis (16/4).
Menurutnya, terdapat sejumlah persoalan teknis maupun non teknis akan muncul dari program yang diluncurkan saat ini yang memberi dampak turunnya pertumbuhan ekonomi. Efektivitas kartu pra kerja akan sulit terealisasi maksimal di situasi Covid-19 ini.
"Setelah peserta mendapat pelatihan online dan mendapat sertifikat, peserta akan mendapat insentif Rp 600 ribu selama tiga bulan serta Rp 150 ribu untuk survei kebekerjaan, asumsinya selepas itu peserta akan mendapatkan pekerjaan," urai Okky.
Masalahnya pemerintah sendiri telah memprediksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini akan turun sebesar 2,5 persen bahkan 0 persen akibat dampak Covid-19. Hal itu akan berkolerasi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia.
"Jika skenario ekonomi Indonesia akan turun karena dampak Covid-19, konsekuensinya tidak ada pembukaan lapangan kerja baru. Lalu apa relevansi kartu prakerja ini?" imbuhnya.
Penurunan ekonomi itu tercermin dengan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Data Kementerian Ketenagakerjaan mengungkapkan sebanyak 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan dengan rincian 10,6 persen (160 ribu) kehilangan pekerjaan dan 89,4 persen karena dirumahkan.
"Saat ini saja sudah terjadi PHK dampak Covid-19," ucapnya.
Menurutnya masyarakat lebih membutuhkan bantuan keuangan yang langsung dapat dirasakan daripada program seperti Kartu Prakerja yang fungsinya ibarat "kail".
"Saat ini calon pekerja dan korban PHK lebih membutuhkan "ikan" berupa bantuan langsung tunai (BLT) daripada "kail". Apalagi, memang tidak ada lapangan pekerjaan baru karena ekonomi turun dampak Covid-19 ini," tandas politisi NasDem itu.
Peserta Kartu Prakerja akan mendapat insentif bantuan pelatihan dengan total Rp 3,55 juta atau Rp 3.550.000. Rinciannya meliputi, biaya bantuan pelatihan Rp 1 juta, insentif penuntasan pelatihan Rp 600.000 per bulan selama empat bulan.

Komentar