Rabu, 17 Juni 2026 | 15:38
COMMUNITY

Keprihatinan Dirut MURI Terhadap Kesadaran di Tengah Wabah Covid-19

Keprihatinan Dirut MURI Terhadap Kesadaran di Tengah Wabah Covid-19
Karel De Bruyn dan Andrew Flowerdew bersama MURI membuat APD. (Dok. MURI)

ASKARA - Di tengah wabah virus corona (Covid-19) tidak semua orang bisa merasakan prihatin yang sesungguhnya. 

Ada yang hanya berkomentar namun tidak bertindak, ada pula yang masih melanggar aturan pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran virus. 

Hal itu disayangkan Direktur Utama Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) Aylawati Sarwono. Dia mengatakan, masih ada yang menggunakan masker medis di tengah para tenaga medis kesulitan mendapatkannya. 

"Kita pakai masker kain saja, itu para medis membutuhkan masker itu banget loh. Dan mereka pun masih kekurangan masker standar medis. Jadi yang bukan paramedis seperti kita jangan deh kita show off-show off pakai masker-masker begituan," ujarnya saat berbincang dengan Askara, Selasa (14/4). 

Menurut Aylawati, bagi orang yang sehat cukup menggunakan masker kain. Penggunaan masker kain merupakan bagian dari kesadaran termasuk juga rasa prihatin saat ini. 

Dia juga menyoroti ada warga yang mengenakan APD (baju hazmat) saat berbelanja di Supermarket. Sebagaimana yang viral di media sosial beberapa waktu belakangan.  

"Kesadaran seperti itu loh, orang-orang itu kadang-kadang tidak punya (rasa prihatin), ke supermarket pakai masker medis, pakai sarung tangan, ada yang pakai hazmat. Mereka tidak perlu seperti itu. Paramedis mati-matian, mereka sebagai garda terdepan dan kekurangan APD. Inconsiderate," tutur Aylawati. 

"Ya harusnya malu, paramedis pakai jas hujan, loh mereka pakai baju hazmat ke supermarket. Ya tidak etis menurut saya," sambungnya.

Bahkan, ada juga yang menjual masker medis dengan harga tinggi. Aylawati menceritakan pengalamannya saat mengetahui ada penjual masker medis dengan harga Rp 500 ribu untuk satu box. 

"Orang di Indonesia banyak yang beli, banyak uang mereka bangga 'Aku bisa beli masker itu', bukannya malu loh," ujarnya.

Dari keprihatinan tersebut, Aylawati ingat dengan sosok dua rekannya yang merupakan warga negara asing yang justru sangat prihatin dengan kondisi genting wabah corona di Indonesia. Bahkan mereka membantu membuat alat perlindungan diri (APD) dan dibagikan kepada yang membutuhkan. 

Dua rekannya itu adalah Karel De Bruyn suami dari desainer Maria De Bruyn asal Belgia dan Andrew Flowerdew asal Inggris. Keduanya tengah berada di Indonesia dan turut memenuhi seluruh imbauan dari pemerintah selama pandemi Covid-19.

Karel dan Maria sendiri saat ini tengah bekerja sama dengan MURI untuk membuat APD berupa baju hazmat didukung sejumlah konveksi yang dilatarbelakangi para pekerja rumah tangga. 

"Mereka bantu semuanya dari pagi sampai malam, potong kainnya, nganter-nganter kain ke ibu-ibu penjahit. Semua dia yang nge-drop, dia ikut motongin, ngepak. Saya jadi terharu juga kan, dia kan orang asing tapi sebegitu concern-nya," papar Aylawati.

Sementara itu, Andrew membantu menciptakan face shield bersama rekannya yang bernama Kristina. Mereka dengan rasa iba dan ingin membantu membuat Aylawati merangkulnya sebagai mitra MURI.

"Mereka berdua bikin face shield itu untuk di-donate-donate, akan dikasihkan ke mana-mana. Mereka bikin bahannya kita suplai ya kita yang menyalurkan lagi," tuturnya. 

Aylawati sendiri cukup bangga dengan mereka sebagai orang asing yang sangat peduli dengan Indonesia. Terlebih Indonesia tentu menjadi negara yang juga asing bagi mereka, namun kepedulian mereka seakan tidak ada lagi pembatas. Khususnya di tengah wabah corona ini.

Bahkan mereka turut ke lapangan membagikan masker kain secara langsung kepada yang membutuhkan. 

"Mereka mau loh sampai turun ke bawah-bawah bagikan masker, hebat-hebat," kata Aylawati. 

Saat ini, MURI menargetkan pembuatan APD sekitar 3.500 hingga 4.000, baik berupa masker kain untuk masyarakat maupun hazmat untuk para tenaga medis. Bantuan tersebut masih dibagikan di area Jakarta.

"Mudah-mudahan bisa nambah (target pembuatan APD) karena bantuan MURI terbatas kita dahulukan Jakarta dan sekitarnya, khususnya rumah sakit-rumah sakit yang kecil, puskesmas-puskesmas, RSUD," jelas Aylawati. 

Baginya, seberapa jumlah bantuan APD tidaklah penting, namun yang terpenting adalah mereka yang turut berjuang membantu tanpa pamrih dalam melawan wabah virus corona.

"Quantity itu tidak penting tapi dari mereka (Karel dan Andrew) dan konveksi yang berjuang. Mereka mau turun tangan sendiri untuk kemanusiaan," kata Aylawati. 

Istri pendiri MURI Jaya Suprana itu pun menekankan agar masyarakat segera menghentikan saling menghujat dengan alangkah lebih baik turut membantu. 

"Mereka saling hujat, saling cari kesalahan satu sama lain kayaknya tidak tepat di saat kayak gini. Orang kan tidak ada yang sempurna ya, ya boleh negara gagal melindungi rakyat. Ayo sekarang kita bangkit bersama untuk saling melindungi satu sama lain. Kalau cuma menghujat tapi we do nothing kan buat apa," tandas Aylawati. 

Komentar