Selasa, 09 Juni 2026 | 06:16
CULINARY

Cerita Empat Restoran yang Terdampak Wabah Corona

Cerita Empat Restoran yang Terdampak Wabah Corona
Pegawai Restoran MasterCheese melakukan pemeriksaan suhu tubuh pengunjung. (Dok. GrabFood)

ASKARA - Wabah virus corona (Covid-19) menjadi musibah bagi semua sektor, tak terkecuali Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Penyebaran Covid-19 membuat adanya kebijakan pembatasan sosial yang diterapkan secara massif untuk memutus mata rantai telah mengubah pola usaha dan perilaku pelanggan. Hal ini menyebabkan pelanggan tak lagi bisa menikmati hidangan di tempat seperti biasa, bahkan beberapa usaha kuliner harus membatasi jumlah pengunjung dan mengurangi jam operasionalnya.

Kini, untuk dapat bertahan, pelaku usaha khususnya di bidang kuliner harus beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi melalui strategi baru. Salah satunya dengan mengandalkan teknologi untuk menjangkau pelanggan yakni melalui aplikasi GrabFood. Sejumlah mitra merchant GrabFood di Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan menceritakan bagaimana mereka bisa bertahan dan terus menggerakkan perekonomian kotanya.

Wingz O Wingz merupakan salah satu mitra GrabFood dengan menjual kreasi menu daging ayam di Bandung.

"Dampak yang paling terasa adalah pada transaksi makan di tempat yang sekarang hanya tinggal lima persen saja. Sesuai imbauan pemerintah kami juga membatasi kunjungan pelanggan untuk makan di tempat dengan mengutamakan layanan take away atau order memakai aplikasi," ujar Manajer Pemasaran Wingz O Wingz Muhammad Muhlis melalui keterangan yang diterima Askara, Senin (13/4).

Restoran Muhlis sudah beroperasi sejak 2011 dengan menempati sebuah outlet kecil. Usaha tersebut terus tumbuh dan sekarang berhasil menjadi sumber penghidupan bagi 250 orang karyawan. 

Omzet utama Wingz O Wingz berasal dari pelanggan yang makan di tempat serta pelanggan yang memesan secara online. Namun kini mereka benar-benar mengandalkan penjualan online sebagai sumber pemasukan.

Peningkatan transaksi kini berasal dari pemesanan online yang didorong oleh aplikasi Grab yang menjangkau basis konsumen digital lebih luas, serta memanfaatkan berbagai program pemasaran yang ditujukan untuk mendukung perkembangan bisnis UMKM lokal. Dukungan antara lain diwujudkan melalui hadirnya katagori khusus Jagoan Lokal yang memuat daftar mitra merchant favorit masyarakat masing-masing daerah.

"Dalam situasi saat ini ketika semua orang diam di rumah saja, aplikasi Grab sangat membantu bisnis kami untuk bertahan. Mereka tetap bisa memesan produk Wingz O Wingz lewat GrabFood. Saat ini paling saya syukuri sih bahwa usaha yang saya kembangkan ini sekarang tidak hanya tetap menghidupi ratusan karyawan tapi juga membantu para pengemudi ojek online di tengah situasi sulit ini," jelas Muhlis.

Di Surabaya, salah satu mitra GrabFood di Kota Pahlawan adalah Ayam Bakar Primarasa yang legendaris. Restoran ayam bakar yang sudah dirintis sejak 1993 silam. Sang pengelola generasi kedua Edwin Sugiarto menceritakan kisahnya.

"Pilihannya banyak, misalnya menutup layanan makan di tempat atau tutup total tanpa layanan makan di tempat dan take away atau tetap beroperasi. Kita hanya bisa mengambil satu. Kami pun memilih untuk beroperasi seperti biasa supaya karyawan tetap memperoleh gaji utuh setiap bulan dengan meningkatkan standar kebersihan dan melakukan prosedur pengecekan kesehatan. Total kami punya sekitar 100 karyawan yang tersebar di tujuh cabang," tutur Edwin.

Ayam Bakar Primarasa kini mengalami situasi yang unik. Pendapatan bisnis utama sejak 27 tahun silam memang berasal dari pelanggan yang makan di tempat namun sekarang sekitar 50 persen total transaksi datang dari pesanan online.

Sementara itu, UMKM kuliner mitra GrabFood di Makassar MasterCheese harus mengubah jam operasional menjadi lebih singkat. Usaha yang dirintis oleh Yulianti sejak 2018 ini masih buka untuk mempertahankan omzet. 

Beruntungnya, meski pengunjung yang makan di tempat menjadi sedikit namun jumlah pemesanan online terus meningkat. Terlebih adanya platfrom digital antar makanan, di mana GrabFood juga memberikan tren kuliner terkini melalui data-data yang dimiliki sehingga mereka dapat mengadaptasi tren-tren tersebut ke menu untuk meningkatkan penjualan.

"Memang lewat pesanan online terutama Grab itu tetap banyak. Dulu saja sebelum corona, 50 persen pesanannya dari Grab sekarang pesanan online dari Grab naik sampai 80 persen. Bersyukur karena ada teknologi yang membuat kami mampu bertahan di situasi sulit ini," Yulianti mengisahkan.

Adapun di Medan, Erwin Susanto pengelola UMKM kuliner Martabak Mekar bercerita bahwa kondisi wabah Covid-19 memang mulai terasa di Tanah Deli, namun belum sampai di tahap membuat usahanya yang berlokasi di pusat kota menjadi sepi pembeli. 

"Sebenarnya tidak banyak pengaruh. Saya masih buka seperti biasa meski saya sudah ada rencana untuk tutup satu jam lebih cepat. Jumlah pesanan sendiri masih seperti biasa, belum terpengaruh pandemi. Apalagi pesanan memang lebih banyak dari online," ujarnya.

"Jauh sebelum pandemi ini merebak, Grab sudah membantu untuk menjangkau lebih banyak pembeli. Jadi mereka tidak perlu datang ke sini untuk bisa menikmati menu-menu martabak kami berkat program-program promosi yang dijalankan," jelas Erwin.

Para pelaku UMKM tersebut kini tengah berjuang untuk mempertahankan bisnisnya di tengah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia. Bahkan mreka telah mewajibkan pemakaian masker dan sarung tangan untuk seluruh karyawan. 

Khususnya Edwin sudah menerapkan prosedur itu di Ayam Bakar Primarasa sejak awal Maret lalu, ketika pandemi belum merebak luas seperti sekarang. Selain itu, mereka juga kompak menerapkan pengecekan harian suhu tubuh karyawan, pelanggan dan mitra sebagai upaya pencegahan.

Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi menjelaskan, Grab memiliki berbagai inisiatif guna mendukung upaya mitra merchant melawan pandemi Covid-19 di berbagai kota tempat pihaknya beroperasi yakni dengan menerapkan standar keamanan terpadu untuk layanan pesan antar makanan. 

"Kami mengembangkan sejumlah pedoman, perangkat, dan materi pelatihan baru yang dapat membantu mitra merchant untuk mengimplementasikannya dengan mudah ke dalam proses kerja harian mereka. Standar yang dimaksud antara lain menghadirkan opsi pengantaran tanpa kontak sebagai langkah perlindungan bagi pelanggan sekaligus mitra, menyertakan Kartu Keterangan Pengiriman GrabFood yang berisi catatan tanggal, waktu, nama dan suhu tubuh karyawan yang menyiapkan makanan pada setiap kemasan makanan yang dipesan dan pemeriksaan suhu tubuh pelanggan, karyawan serta mitra pengantaran secara rutin," paparnya.  

Jika salah satu mitra pengantaran GrabFood menunjukkan gejala seperti suhu tubuh tinggi, demam, pilek atau batuk, mitra dapat melaporkannya kepada tim layanan pelanggan Grab dan meminta pengantaran lain untuk menggantikan. 

Selain itu, mitra merchant juga diminta untuk menerapkan physical distancing setidaknya dengan jarak dua meter pada saat terjadi antrean. 

"Mereka juga diwajibkan untuk meningkatkan frekuensi pembersihan area persiapan makanan dan lainnya setidaknya setiap empat jam. Semua karyawan yang menangani makanan harus mengenakan masker, sarung tangan dan tutup kepala. Daging dan bahan mentah harus dijaga agar tetap higienis. Semua pesanan makanan yang akan diantarkan harus disegel dengan benar untuk menghindari kontaminasi," tandas Neneng.

Komentar