Catatan Astina
Kisah Agung Jumat Agung dan Kisah Agung Covid-19
ASKARA - Dalam masa darurat Covid-19 ini memang banyak korban dan kita alami kisah sengsara yang panjang seperti Kisah Sengsara Yesus Kristus.
Saya setuju menempatkan peristiwa bencana atau darurat Covid-19 ini tidak terjadi begitu saja dan tidak terjadi secara "berdiri sendiri". Bagi saya peristiwa sengsara Covid-19 ini tentu bisa terjadi sebagai akibat atau pengaruh situasi panjang yang ada di sekitar kita. Ada pendapat yang mengatakan bahwa virus corona atau Covid-19 ini sudah sejak lama tetapi memang baru sekarang muncul dan menjadi wabah. Virus corona atau yang diberi nama Covid-19 hanya menunggu waktu saja munculnya dan menjadi wabah.
Alam yang menjadi tempat Covid-19 ini semakin subur akibat pengrusakan lingkungan yang selama ini dilakukan oleh manusia. Pemicu munculnya dan mewabahnya Covid-19 karena selama ini manusia tidak menghormati hidup sehat, merusak lingkungan sehat dan kurang menghargai sesamanya. Jadi bisa dikatakan bahwa keserakahan dan ketamakan manusia, merusak lingkungan hidup dan kemanusiaan itu sendiri dasar penyebab munculnya serta mewabahnya virus corona yang diberi namanya Covid-19.
Ya sementara inilah pendapat yang saya tangkap dari berbagai diskusi atau informasi atau masukan sementara sejarah wabah Covid-19 di Indonesia dan seluruh dunia.
Tetapi sebagai manusia, saya juga mau menyampaikan ada sebuah makna atau nilai sebagai cerita "berkat di tengah darurat Covid-19 di Indonesia". Secara pribadi saya sebagai umat Katolik tidak pernah membayangkan akan merayakan masa Pra Paskah hingga Pesta Paskah, 26 Pebruari 2020 hingga Pesta Paskah 12 April 2020 nanti di rumah saja.
Kami semua umat beragama diajak oleh pemerintah untuk melakukan jaga jarak (Social Distancing atau Physical Distancing) untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Berbagai media atau banyak pihak menggaungkan ajakan untuk tidak keluar rumah, menjaga kesehatan diri pribadi berarti juga menjaga kesehatan orang lain atau sesama. Ajakan pemerintah itu mengatakan juga bahwa diri kita juga adalah diri sesama satu kesatuan, jika ingin tetap bertahan hidup dan berhasil melawan penyebaran Covid-19.
Begitu pula kami umat Katolik di Indonesia juga diajak melakukan ibadah di rumah melalui sarana online. Untuk itu kami umat Katolik diajak melakukan doa bersama, ibadat atau Misa secara langsung di rumah dan pastor memimpin dan disebarkan secara online.
Pemerintah mengajak seluruh rakyat Indonesia berdoa dan beribadah tidak boleh dilakukan di rumah ibadah tetapi dilakukan di rumah masing-masing umat. Ajakan pemerintah ini jelas meminta kerja sama kita agar kita sama-sama selamat dari terjangan Covid-19.
Nah di sinilah berkat di tengah darurat Covid-19 yang saya rasakan. Sekarang kita semua, apapun agamanya, sukunya, status sosial atau bangsanya adalah sama, satu kesatuan. Sebagai salah seorang umat Kristen Katolik juga merupakan bagian kehidupan bersama umat agama lain. Kita sadar betul sehingga kita taat dan mau mendukung semua beribadat di rumah masing-masing. Kita semua lakukan dan jadikan rumah kita atau diri kita adalah rumah ibadat atau rumah dimana Tuhan selalu hadir dalam diri kita. Nah inilah nilai atau makna yang ada di balik peristiwa sengsara Covid-19.
Sebelum wabah Covid-19 ada saja masalah penolakan keberadaan bangunan gereja sebagai rumah ibadah kami umat Kristiani. Tidak hanya penolakan, bahkan sampai dibakar secara terbuka, terang-terangan. Contohnya ada salah satu gereja Kristen di daerah Bogor yang ditolak pembangunannya, sehingga mereka beberapa tahun ini sering melakukan ibadat di depan istana presiden.
Memang sampai sekarang mereka belum di beri izin membangun rumah ibadah. Ada juga di Kepulauan Riau sebuah gereja Katolik yang sudah mendapat IMB, ehhh IMB-nya digugat ke pengadilan oleh sekelompok orang.
Selama masa darurat Covid-19 ini misa atau ibadat keprihatinan Covid-19, ibadat peringatan arwah atau ibadat selama Pra Paskah hingga Pesta Paskah kami beribadah di rumah kami masing-masing dipimpin langsung secara online oleh para pastor, para Uskup dan Bapak Suci Paus Fransiskus dari Vatican Roma.
Pengalaman misa dan beribadah di rumah selama masa darurat Covid-19 ini, sebagai kenyataan gereja Katolik yang berkembang pesat sekali. Betapa sekarang semua rumah umat Katolik menjadi nyata, diri umatnya, keluarganya dan rumahnya adalah gereja yang sesungguhnya.
Selama masa darurat Covid 19 juga tidak ada lagi penolakan atau pembakaran gereja. Jika ingin membakar gereja berarti membakar rumah umat, rumah warga berarti akan terjadi kebakaran hebat di kampung-kampung seluruh Indonesia. Jika menolak dan melarang kami beribadah di rumah kami sendiri berarti melawan peraturan pemerintah.
Pemerintah dipaksa tegas kepada seluruh umat beragama menjalankan ibadah atau peribadatannya di rumah. Padahal dalam ajakan pemerintah itu tidak ada perintah tidak boleh membakar gereja bahkan menolak gereja. Pemerintah hanya menghimbau tidak boleh ada orang berkumpul dalam jumlah besar, semua kegiatan termasuk peribadatan dilakukan di rumah. Ternyata imbauan seperti itu di tengah darurat Covid-19 ampuh sekali.
Kami umat Kristen beribadah di rumah sebagai gereja tidak ada penolakan dan pembakaran seperti biasanya. Sebelumnya saya sering mendengar ada saja orang memprovokasi untuk melarang atau menolak jika ada umat Kristen melakukan ibadah seperti sembayangan komunitasnya di rumah seorang umat. Sekarang pada masa wabah Covid-19 berubah total, semua umat beragama bebas, aman dan nyaman melakukan ibadah atau mendirikan tempat ibadah atau gereja dimana pun juga di seluruh Indonesia.
Makna atau nilai indah dari perubahan inilah, kebersamaan dan saling menolong ini lahir di tengah kita sebagai bangsa Indonesia sebagai salah satu dampak positif sebagai sesama korban wabah Covid-19. Rupanya memang kisah sengsara kita sebagai korban Covid-19 membawa perubahan kesadaran sebagai bangsa yang sedang dilanda kesengsaraan.
Sama seperti kisah sengsara Yesus Kristus yang kita rayakan hari sebagai Hari Jumat Agung. Bapak Uskup Kardinal Suharyo dalam khotbah di cara ibadat Jumat Agung secara online tadi siang mengatakan bahwa jelas kisah ini bukan kisah sengsara tetapi kisah agung, maka peristiwa itu dinamai atau dimaknai sebagai Jumat Agung bukan Jumat Sengsara. Kita tahu dalam kisah Jumat Agung itu Yesus Kristus mengorbankan dirinya hingga wafat di kayu salib untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.
Begitu pula kita bisa juga menempatkan kisah sengsara Covid-19 ini sebagai kisah agung kebangkitan bangsa Indonesia. Selama masa kesulitan akibat wabah Covid-19 ini melahirkan kebersamaan, kesatuan rakyat Indonesia, saling menghormati, saling membantu dan saling mendukung untuk menyelesaikan kesedihan ini. Semoga pengalaman bersama sebagai korban Covid-19, kita disadarkan dan terus menjadi satu bersama sebagai bangsa Indonesia. Tidak ada lagi penolakan orang beribadat, penolakan rumah ibadat di seluruh Indonesia.
Pengalaman bersama sekarang ini telah membangun kita, semua rakyat Indonesia bangkit - saling tolong menolong. Kita sebagai sesama korban darurat Covid-19 menolong korban darurat Covid-19 lainnya, kesempatan menjadi korban menjadikan kita menghormati korban lainnya. Selama masa darurat Covid-19 terbukti, kita semua rakyat Indonesia juga umat manusia tanpa memandang status sosial, agama, suku dan bangsa sama menderitanya dan sama tumbuh kesadaran saling berbagi tolong menolong dan patuh pada kebersamaan sebagai umat manusia.
Semoga saja penderitaan panjang kita bersama sebagai sesama korban Covid-19 tidak berkepanjangan. Biarkan virus Covid-19 mati tetapi kebersamaan sebagai bangsa dan sebagai manusia untuk saling menghormati, tidak saling menindas antara yang mayoritas - kuat menindas yang minoritas - lemah terus hidup dan bertumbuh kembang secara subur membangun hidup sehat bersama. Makna ini sama dengan perjalanan kisah agung pengorbanan Yesus Kristus yang diperingati pada perayaan Jumat Agung.
Perjalanan kisah sengsara Yesus itu panjang dan melelahkan dan mencabik-cabik diri kita. Peristiwa itu bukanlah peristiwa Jumat Sengsara tetapi menjadi Jumat Agung. Begitulah pula, mari kita tempatkan peritiwa sengsara Covid-19 menjadi Kisah Agung Covid-19. Perjalanan kisah agung Covid-19 yang masih berlangsung cepat berlalu dan maknanya saja yang tetap hidup agung. Kisah agung yang sudah memberikan pelajaran nyata, siapa saja yang tidak patuh dan hormat kepada sesama akan mendapat masalah. Menjaga diri kita berarti kita menjaga orang lain sesama kita.
Ya inilah juga refleksi saya pribadi pada perayaan Jumat Agung di tengah masa darurat wabah Covid-19. Pengalaman ini buat saya sangat penting sebagai makna indah di balik penderitaan wabah Covid-19. Melalui pengalaman ini saya memiliki harapan tercapai penyelesaian terbaik seperti Pesta Paskah, Pesta Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, putusnya penyebaran Covid-19.
Jakarta 10 April 2020
Azas Tigor Nainggolan
(Ketua Forum Warga Kota Indonesia)

Komentar