Snapshot: Perlukah Indonesia Lock-down?
Minggu terakhir ini semua headline di media mempunyai satu topik utama: Covid-19. Pandemi, sebagaimana diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi minggu ini, menyebar cepat, dengan hampir 45.000 kasus dan hampir 1.500 kematian di 112 negara di luar China. Epidemiolog berpendapat Italia satu atau dua minggu lebih duluan dibanding negara-negara seperti Spanyol, Prancis, Amerika dan Inggris. Negara-negara yang kurang terhubung, seperti Mesir dan India, menyusul di belakang, namun tidak jauh.
Beberapa hari sebelum pengumuman tersebut saya sedang ada di Surabaya, memberikan keynote pada sebuah workshop tahunan Kementerian Perindustrian. Merespons virus Corona yang saat itu sedang berkecamuk di China dan melebar ke daratan Eropa, saya mengatakan (dalam forum yang membahas ketahanan industri negara) bahwa wabah tersebut merupakan kertas lakmus ketahanan sebuah negara. <i>The test of national resilience</i>. Bagaimana sebuah negara diuji keuletannya. Kekompakan antar stake-holdersnya. Beberapa minggu waktu itu kita mengikuti bagaimana epidemi yang melumpuhkan kota teknologi China (sering dijuluki China’s Silicon Valley), namun sekaligus juga menyaksikan demonstrasi kekuatan pentaheliks (ABGCM) China.
Government
Pemerintah China dengan sigap merespons krisis yang terjadi. Memutuskan untuk me-lockdown Wuhan dan beberapa area yang dianggap sudah tercemar virus. Juga menerapkan kebijakan social distancing di seluruh negeri. Penerbangan keluar dan kedalam China ditutup. Semuanya dilakukan untuk menekan laju penyebaran.
Industry
Bekerja sesuai kebijakan resmi pemerintah, langsung fokus pada pengendalian krisis. Mengantisipasi bahwa akan ada ledakan pasien, dibangun rumah sakit darurat secara cepat. Semua sumber daya (manusia, teknologi, waktu, …) dikerahkan untuk satu hal: memerangi virus.
Academic
Para pakar dan tenaga medis bekerja tanpa henti bahkan sering dengan mengorbankan kepentingan dan keselamatan pribadi. Riset-riset dikerahkan untuk bisa mengetahui asal-usul virus dan bagaimana mitigasi yang paling efektif.
Community
Berbagai komunitas di China bekerja bahu-membahu untuk mengatasi krisis. Tiap elemen masyarakat saling membantu satu sama lain.
Media
Secara bersama masyarakat China dan medianya fokus untuk mengeliminir efek berantai dari virus Corona. Mereka sadar dalam era digital yang serba terbuka, berita mengenai Corona bisa lebih dahsyat akibatnya dibanding virusnya sendiri. Hoaks ditekan dan berita perkembangan yang membesarkan hati disebarluaskan.
***
Terbukti kerja keras bangsa China menunjukkan hasilnya. Saat ini rumah sakit darurat yang dulu secara cepat didirikan sudah ditutup karena tidak diperlukan lagi. Laju kematian (<i>Case Fatality Rate</i>) dan infeksi baru bisa ditekan. Dalam kurva normal Gaussian, China sudah melewati masa puncak. China menerapkan kebijakan karantina ketat yang ditunjang dengan pemeriksaan masif (<i>massive testing</i>) dan pelacakan kontak (<i>contact tracing</i>). Saat ini China tidak lagi dalam posisi defensif, justru sudah dalam tingkat menjadi supporter bangsa lain sedang dilanda krisis. Akhir minggu kemaren bantuan peralatan, perlengkapan dan tenaga medis didatangkan ke Italia dengan pesawat China Eastern Airline. Hari ini Jack Ma juga mengirimkan bantuan yang sama ke Amerika Serikat.
Bagaimana dengan Indonesia? Apakah yang bisa kita pelajari dari bangsa China? Menurut saya bukan dalam bentuk kebijakan spesifiknya, namun pada gambar besarnya. Saya menstudi China lumayan dekat, menurut saya kunci keberhasilan China dalam mengatasi krisis Corona (dan secara umum meningkatkan ketahanan nasionalnya) adalah kesolidan dari pentaheliksnya. Bagaimana pemerintah, industri, akademisi, komunitas dan (<i>last but not least</i>) media bekerja secara guyub dan kompak. Sebagai satu kekuatan. Tidak ada cerita ada kelompok yang bisa memanfaatkan krisis untuk kepentingan golongannya. Atau figur-figur yang mencari panggung. Sebaliknya kita melihat China malah mendemonstrasikan nilai yang (minimal dulu) sangat khas Indonesia yaitu gotong royong.
Secara keseluruhan iktibar yang bisa kita pelajari dari keberhasilan China adalah:
1. Bangsa Indonesia perlu percaya diri.
Negara kita mempunyai keadaan yang khas dan berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Beda dengan China, Italia atau Amerika. Secara geografis berbeda (kontinental versus kepulauan), tebaran kemakmuran, dan profil ekonomi juga secara fundamental beda. Masalah di Indonesia perlu diselesaikan secara original tidak gegabah meniru atau mengikuti anjuran orang lain.
2. Lock-down mungkin pas untuk China dengan sistem enforcement komunis.
Bila diterapkan di Indonesia mungkin akan membawa dampak negatif jauh melampaui apa yang bisa kita bayangkan. Sebagian besar masyarakat kita masih hidup dari ekonomi hari per hari. Bila tidak kerja sehari artinya tidak makan hari itu. Ada sekitar 62 juta penduduk yang berusaha dalam jalur UMKM, 61 juta lebih sebenarnya dalam tingkat mikro, yang tidak akan beroperasi bila ada karantina sosial. Social distance measure atau karantina parsial (sekolah, kantor dll) lebih pas untuk kondisi Indonesia.
3. Indonesia perlu kompak dan bersatu padu dalam pentaheliks.
Berpikir untuk kepentingan jangka panjang bangsa. Bukan kepentingan jangka pendek dan eceran 2024. Mari kita lihat saingan di luar sana yang kelasnya seperti China. Bagaimana kita bisa mempunyai national resilience bila kita sendiri atau media di tanah air sering gaduh dan menjelekkan diri sendiri. Kritik yang membangun boleh tapi tidak menurunkan martabat sendiri sebagai bangsa.
4. Masyarakat Indonesia perlu meningkatkan budaya literasi secara terus menerus.
Baca dan secara objektif memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Sikap yang emosional dan reaktif (borong masker, barang kebutuhan dsb) tidak membantu. Panik juga akan memicu biaya ekonomi yang tidak kecil.
***
Saya berpendapat pemerintah sudah melakukan upaya untuk mencari solusi yang terbaik, yang pas untuk sosio-ekonomi Indonesia. <i>Prudent</i> dan tidak <i>grusa-grusu</i>. Oleh karena itu saya paham akan kebijakan yang saat ini diambil. Mari kita bekerja bersama untuk mengatasi krisis ini.
Secara esential strategi kita adalah mengurangi lonjakan pada kurva epidemi. Kurva perlu kita tekan agar flat. Secara sederhana: sebagai bangsa jangan sakit bersamaan tapi bergantian. Bila kurva kita melampaui batas kemampuan ketersediaan pelayanan medis, maka sistem healthcare kita bisa rontok seperti yang terjadi di Italia.
Minimal dimulai dari diri, keluarga dan lingkungan sendiri. Kita ikuti arahan untuk mengurangi aktifitas sosial. Menjaga stamina dan kesehatan. Bila memungkinkan untuk bekerja dari rumah maka lakukanlah, begitu juga belajar dan beribadah. Kita yang sehat dan kuat barangkali tidak terpengaruh oleh virus tersebut, tapi kita akan menjadi carrier virus yang akan mengenai saudara, teman, kolega atau tetangga yang rentan. Di Italia saat ini, karena rumah sakit over quota, dokter harus membiarkan yang berumur lebih dari 70 untuk meninggal. Tindakan dan upaya kita, bisa menyelamatkan nyawa.
Agus Budiyono
Alumni MIT

Komentar