Berhenti Merokok Bisa Kurangi Risiko Tertular Corona
ASKARA - Perilaku merokok disebut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi virus corona (Covid-19) dan memperparah komplikasi penyakit.
Untuk itu, semua pihak diimbau agar lebih waspada terhadap penularan corona karena tingginya angka perokok di Indonesia.
John Hopkins Center for Systems Science and Engineering mencatat, kematian akibat virus corona telah mencapai 4.720 orang di seluruh dunia. Sementara kasusnya telah mencapai 128.343 dengan 68.324 pasien berhasil sembuh.
Hingga Selasa (10/3) terdapat 103 negara di dunia yang mengonfirmasi terinfeksi corona. Di Indonesia, sampai 12 Maret pukul 09.00 WIB, sebanyak 34 kasus konfirmasi positif corona yang kemudian dua kasus berhasil sembuh dan satu kasus meninggal dunia.
Kepala Lembaga Biologi dan Pendidikan Tinggi Eijkman Amin Soebandrio mengatakan bahwa masyarakat perlu mengetahui bagaimana perilaku merokok memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi dan memperparah komplikasi Covid-19.
"Sehingga masyarakat lebih waspada. Mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok pria yang sangat tinggi," ujarnya dalam diskusi bertajuk "Rokok dan Covid-19: Apakah Lebih Berisiko?" di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (13/3).
Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Feni Fitriani menambahkan, merokok meningkatkan reseptor ACE 2 yang menjadi reseptor virus corona.
"Jadi perokok makin besar risiko kena Covid-19," katanya.
Hal itu sekaligus meluruskan disinformasi yang menyebutkan bahwa asap rokok bisa membantu meredakan penyebaran virus corona.
"Ini sama sekali salah. Maka untuk mengurangi atau melindungi risiko corona dan komplikasinya kurangi rokok, berhenti lebih baik," jelas Feni.
Karenanya, pemerintah diharapkan lebih jelas menyampaikan kepada masyarakat bahwa salah satu pencegahan yang bisa dilakukan ialah dengan mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok.

Komentar